Jalan Menuju Cahaya 783
Surat Fatir ayat 9-11.
وَاللَّهُ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَسُقْنَاهُ إِلَى بَلَدٍ مَيِّتٍ فَأَحْيَيْنَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا كَذَلِكَ النُّشُورُ (9)
Dan Allah, Dialah Yang mengirimkan angin; lalu angin itu menggerakkan awan, maka Kami halau awan itu kesuatu negeri yang mati lalu Kami hidupkan bumi setelah matinya dengan hujan itu. Demikianlah kebangkitan itu. (35: 9)
Pada pertemuan sebelumnya disinggung tentang kedudukan orang-orang Mukmin dan orang-orang kafir di hari kiamat kelak. Sementara ayat ini menjelaskan jawaban terhadap orang-orang yang meragukan Maad dan menganggapnya sebagai peristiwa yang tidak mungkin terjadi. Ayat ini menjelaskan, Allah di dunia ini setiap tahun mengeringkan dan mematikan pepohonan di musim dingin, lalu menghidupkannya kembali di musim semi. Kabangkitan kalian umat manusia juga seperti ini.
Apakah Tuhan yang mampu menghilangkan dahaga tanah kering yang kehausan dengan angin dan hujan, dan menghidupkan serta menumbuhkan kembali tanaman dan pepohonan tanpa perantara makhluk hidup, tak kuasa menghidupkanmu kembali setelah kematian dan membangkitkanmu dari tanah?
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Tiupan angin yang menggerakkan awan dari laut dan samudra ke lahan kering, dan turunnya hujan yang menghidupkan kembali tanah yang mati, begitu juga peristiwa-peristiwa alam lainnya, menunjukkan bahwa di muka bumi ini tidak ada yang terjadi secara kebetulan, semuanya terjadi atas kehendak Allah Swt yang menciptakan dunia ini.
2. Sistem penciptaan memiliki keteraturan dan sudah direncanakan dengan sempurna oleh Tuhan, dan dikelola oleh para malaikat sebagai perantara-Nya.
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَكْرُ أُولَئِكَ هُوَ يَبُورُ (10)
Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. Dan rencana jahat mereka akan hancur. (35: 10)
Para pecinta dunia menganggap kemuliaan dirinya bergantung pada kekuatan dan kekayaan atau bisa meraihnya dengan cara menggantungkan diri pada kekuatan penguasa dan mengerahkan seluruh upayanya untuk meraih kekuatan dan kekayaan.
Akan tetapi Al Quran berkata, kemuliaan yang hakiki bergantung pada Tuhan, keimanan dan penghambaan kepada-Nya. Karena kemuliaan berarti kekuatan yang tidak terkalahkan, dan itu tidak mungkin diperoleh oleh manusia kecuali ia bersambung kepada sumber penciptaan dan kekuatan mutlak, yaitu Tuhan.
Kelanjutan ayat di atas menjelaskan bahwa cara memperoleh kemuliaan adalah dengan memiliki keyakinan benar dan melakukan perbuatan baik. Allah Swt berfirman, apa yang naik kepada Tuhan dan menaikkan derajat manusia adalah keimanan dan amal saleh, bukan yang lain.
Akan tetapi sebagian orang mengira bisa meraih kemuliaan dengan kelicikan, kejahatan dan penipuan, padahal, sekalipun bisa mencapai keinginan buruknya untuk sementara, pada akhirnya rencana kejahatan mereka akan terungkap dan mereka akan ditimpa kehinaan.
Dari ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Kemuliaan hakiki hanya ada di sisi Tuhan, bukan manusia. Begitu banyak orang yang hari ini mulia di mata masyarakat, namun esok hari, terhina. Akan tetapi seorang Mukmin tetap mulia walau berada di puncak kesulitan dan masalah, ia kokoh tak terkalahkan.
2. Antara iman dan amal terjalin hubungan timbal balik, dan saling mempengaruhi. Masing-masing bisa saling menguatkan atau melemahkan.
3. Tidak ada seorangpun yang bisa meraih kemuliaan dengan kelicikan dan penipuan.
وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ جَعَلَكُمْ أَزْوَاجًا وَمَا تَحْمِلُ مِنْ أُنْثَى وَلَا تَضَعُ إِلَّا بِعِلْمِهِ وَمَا يُعَمَّرُ مِنْ مُعَمَّرٍ وَلَا يُنْقَصُ مِنْ عُمُرِهِ إِلَّا فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (11)
Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah. (35: 11)
Para pengingkar Maad, tidak punya argumen ilmiah yang bisa membantah kemungkinan terjadinya kiamat, mereka selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang meragukan kemungkinan tersebut.
Ayat ini mengatakan, jika kalian meragukan kemampuan Tuhan untuk menciptakan kembali manusia, lalu bagaimana mungkin Tuhan mampu menciptakanmu dari tanah, tapi tidak kuasa melakukan hal yang sama di hari kiamat.
Setelah kelahiran, masa hidup umat manusia di muka bumi, sebentar atau lama, tidak mungkin keluar dari kekuatan Tuhan dan seluruhnya berada dalam ilmu Tuhan. Apakah engkau mengira penciptaan kembali bagi-Nya adalah pekerjaan yang sulit?
Dari ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Perhatian pada penciptaan manusia menyebabkan kita menyadari kekuatan Tuhan dan terhindar dari kelalaian, kesombongan dan takabur.
2. Semua manusia, baik itu Nabi Adam as maupun manusia yang hidup saat ini, diciptakan dari tanah dan akan kembali ke tanah.
3. Umur manusia ada di tangan Tuhan dan dengan ilmu-Nya, sebagian manusia berusia panjang dan sebagian lainnya pendek.
4. Setiap detik kehidupan manusia akan dicatat dan memiliki perhitungan yang akurat, dan di hari kiamat akan menjadi bukti yang menguntungkan atau merugikan manusia sendiri.