Jalan Menuju Cahaya 784
Surat Fatir ayat 12-13.
وَمَا يَسْتَوِي الْبَحْرَانِ هَذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ سَائِغٌ شَرَابُهُ وَهَذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَمِنْ كُلٍّ تَأْكُلُونَ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُونَ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى الْفُلْكَ فِيهِ مَوَاخِرَ لِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (12)
Dan tiada sama (antara) dua laut; yang ini tawar, segar, sedap diminum dan yang lain asin lagi pahit. Dan dari masing-masing laut itu kamu dapat memakan daging yang segar dan kamu dapat mengeluarkan perhiasan yang dapat kamu memakainya, dan pada masing-masingnya kamu lihat kapal-kapal berlayar membelah laut supaya kamu dapat mencari karunia-Nya dan supaya kamu bersyukur. (35: 12)
Pada pertemuan sebelumnya, Allah Swt menyebutkan kekuatan-Nya dalam penciptaan manusia serta beberapa kriteria wujud manusia. Ayat ini mengacu pada salah satu tanda kebesaran Allah Swt di alam, "Lautan di bumi ada dua jenis, sebagian tawar dan beberapa asin, namun Allah Swt telah menyediakan manusia dengan berbagai jenis makanan dan bahan untuk pakaian di kedua jenis laut tersebut."
Terdapat berbagai jenis hewan air dan spesies ikan yang manusia tidak memiliki peran dalam produksi dan reproduksinya. Sebagai gantinya, manusia hanya menangkap mereka dan membawa mereka ke pantai untuk dimakan atau dijual. Sumber makanan yang luas ini tidak hanya memenuhi kebutuhan penduduk di pantai, tapi juga kebutuhan penghuni daratan dan wilayah-wilayah yang jauh dari laut.
Selain makanan, barang perhiasan seperti tiram dan mutiara, yang termasuk benda perhiasan mahal, diproduksi di kedalaman laut dan samudera serta tersedia secara gratis untuk para penyelam.
Jika kedalaman laut menyediakan makanan untuk manusia, maka permukaannya adalah jalur transportasi luas yang menyediakan jalur relokasi barang dan penumpang ke berbagai belahan dunia tanpa perlu biaya untuk membangun dan merawatnya. Sehingga kapal-kapal raksasa yang tidak bisa bergerak di permukaan daratan, dengan mudah bergerak di permukaan air.
Dari ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Laut adalah salah satu sumber makanan terpenting yang diberikan Allah Swt kepada manusia secara gratis.
2. Perjalanan hidup manusia, seperti air laut, terkadang manis, asin dan terkadang pahit. Jika manusia itu seorang kapten dan nelayan yang baik, dia akan memperoleh keuntungan dan meraih kesuksesan dalam hidupnya dalam segala situasi.
3. Penggunaan aksesoris perhiasan untuk mempersolek diri, diterima oleh Islam.
يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ (13)
Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nya-lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. (35: 13)
Setelah ayat-ayat yang menyinggung tanda-tanda ketauhidan pada wujud manusia dan alam semesta, ayat ini mengacu pada tanda lain dari kebesaran Allah Swt di alam semesta. Disebutkan bahwa rotasi bumi mengelilingi matahari, yang menciptakan siang dan malam bagi penghuninya, didasarkan pada keputusan ilahi. Siang dan malam di empat musim sepanjang tahun, durasinya bervariasi dan tidak muncul mendadak melainkan melalui pergerakan waktu dan secara bertahap.
Kelanjutan ayat itu menyebutkan bahwa ini adalah karena penaklukan matahari dan bulan: Matahari dengan kehebatannya diciptakan Allah Swt untuk melayani manusia yang memerlukan cahaya dan panas, serta agar membantu pertumbuhan tumbuh-tumbuhan dari tanah lembab.
Di kegelapan malam, bulan, seperti cermin besar, memantulkan sinar matahari dan meski tidak ada sinar matahari, tidak membiarkan kegelapan mutlak, dan musafir di malam hari di darat atau di laut tetap dapat melihat berkat sinar bulan.
Tentu saja, manusia seharusnya tidak beranggapan bahwa bumi, matahari dan bulan itu kekal dan abadi, karena semua planet memiliki usia dan pada akhirnya mereka akan berakhir suatu hari nanti.
Kelanjutan ayat itu menyebutkan, mereka yang beriman kepada Tuhan seperti itu meyakini bahwa alam semesta adalah milik-Nya, dan segala sesuatu diatur oleh kehendak dan keputusan-Nya. Namun orang-orang musyrik dan kafir yang bersandar kepada sesuatu selain Allah Swt, mereka harus mengetahui bahwa selain Allah Swt tidak ada yang mampu mengurus urusan alam semesta ini bahkan untuk urusan sebesar pucuk jarum.
Dari ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Hukum alam ditetapkan berdasarkan keputusan ilahi dan tunduk pada kehendak-Nya.
2. Durasi pendek dan panjang siang dan malam, atau perpindahan bertahap satu sama lain ke orang lain, bukanlah kebetulan, melainkan tujuan penciptaan dan ketertibannya.
3. Sistem alam semesta, termasuk pergerakan bulan dan matahari, memiliki jadwal yang sangat presisi, dan segala sesuatu mengikuti ketentuan yang berbeda.
4. Hendaknya kita menuju kepada Allah Swt Yang Mahakuasa dan tidak menyandarkan kepada selain-Nya yang tidak memiliki kekuatan dan kuasa.