Jul 02, 2018 12:36 Asia/Jakarta

surat Fatir ayat 14-17.

إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ (14)

Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan dihari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui. (35: 14)

Ayat sebelumnya menyatakan, orang musyrik menyembah sesuatu yang tidak memiliki kekuatan dan kedaulatan atas alam ini. Dan ayat yang kita bahas hari ini menyatakan, mereka (orang musyrik) menyeru sesuatu yang tidak dapat mendengar dan tidak memiliki kekuatan untuk menjawab. Berhala batu dan kayu yang tidak memiliki pendengaran, lidah dan pemahaman.

Sesembahan buatan ini bukan saja di dunia tidak mampu membantu seseorang, bahkan di akhirat atas kehendak Allah, mereka akan diberi kemampuan berbicara dan menyalahkan orang yang menyembah mereka. Ucapan berhala tersebut adalah kalian orang musyrik sejatinya tidak menyembah kami tapi kalian menyembah hayalan dan ego kalian sendiri. Meski diluarnya kalian seperti tunduk dan menyembah kami, namun sejatinya hal ini untuk memuaskan hawa nafsu dan keinginan kalian.

Akhir dari ayat ini menyatakan, ini adalah realita yang akan terjadi di hari kiamat. Hanya Tuhan Yang Maha Mengetahui akan hal tersebut dan memberitahu kalian melalui kitab suci sehingga kalian tidak akan tersesat dan menyimpang.

Dari ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Keegoisan manusia sampai pada tahap mereka menyembah benda mati dan tidak memiliki kekuatan apa pun. Dan mereka malah meninggalkan Tuhan, sang pencipta dan Maha Mengetahui.

2. Kesyirikan baik di dunia maupun di akhirat tidak menguntungkan.

3. Selain Tuhan, apa yang disembah manusia pada hari kiamat akan mengadukan manusia.

4. Berita Hari Kiamat hanya dapat diperoleh melalui wahyu dan kitab samawi.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ (15) إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ (16) وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيزٍ (17)

Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. (35: 15)

Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). (35: 16)

Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah. (35: 17)

Ayat ini membahas tentang Tauhid dan orang mukmin. Ayat ini menyatakan, jangan kalian sangka jika perintah shalat dan puasa menunjukkan kebutuhan Tuhan akan penyembahan dan ibadah kalian. Ia senantisa tidak butuh pada yang lain, sementara kalian dalan setiap kondisi sangat membutuhkan-Nya. Di saat kalian belum ada, Ia telah ada. Saat kalian tidak tidak ada, Ia akan tetap ada. Ia tidak membutuhkan keberadaan kalian, bahkan ia pun tidak butuh pada shalat, ibadah dan munajat kalian. Jika Ia memerintahkan shalat, pada dasarnya supaya kalian berhubungan dengan-Nya dan mintalah segala keinginan kalian dari-Nya, bukan dari yang lain.

Misalnya jika seorang guru memberi tugas kepada muridnya, ini bukan berarti guru butuh sesuatu dari muridnya, tapi itu menunjukkan kasih sayang dan keinginan guru untuk memajukan pengetahuan muridnya. Shalat adalah faktor bagi perkembangan ruh dan spiritual manusia, dan Tuhan yang menciptakan manusia, sangat mencintai hamba-Nya. Ia menginginkan kita untuk tidak berhenti di dunia materi dan hewani, tapi kita harus terus tumbuh dan menggapai level yang lebih tinggi. Oleh karena itu, Ia memerintahkan kita untuk beribadah dan menunaikan shalat.

Kita membutuhkan kemurahan dan kasih sayang Tuhan bukan saja di penciptaan dan asal kita, bahkan bagi kelangsungan hidup pun kita sangat membutuhkan-Nya. Karena kita adalah makhluk yang pada dasarnya sangat membutuhkan dan kita tidak memiliki apapun, sehingga layak untuk dijaga. Pada dasarnya kita membutuhkan dan Tuhan adalah Maha Kaya. Maka hanya Tuhan yang layak untuk disembah. Ketika kita menyembah-Nya, ibadah kita tidak akan menambah apapun pada Tuhan. Sebaliknya justru kita yang diuntungkan.

Orang yang membangun rumahnya membelakangi matahari, tidak akan merugikan matahari tersebut. Tapi justru dia sendiri yang tidak dapat menikmati hangatnya sinar mentari. Orang yang membuka jendela rumahnya ke arah matahari, ia berada dalam limpahan sinar mentari, bukannya ia memberi manfaat kepada matahari.

Ayat selanjutnya mengisyaratkan dalil tidak butuhnya Tuhan kepada yang lain dan kebutuhan manusia kepada Tuhan. Ayat tersebut menyatakan, jika Ia menghendaki maka Ia mampu menghapus kalian (manusia) dari muka bumi dan menciptakan manusia atau makhluk lain di bumi. Ini bukan sesuatu yang sulit bagi Tuhan.

Dari tiga tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Seruan Tuhan kepada tauhid (Monoteisme) bukan menunjukkan kebutuhan-Nya kepada kita (manusia), tapi indikasi kebutuhan kita pada tempat berlindung yang kokoh dan terpercaya.

2. Manusia yang menganggap dirinya tidak butuh pada yang lain, maka ia akan sombong dihadapan Tuhan dan menolak tunduk kepada-Nya. Oleh karena itu, al-Quran sangat menekankan akan butuhnya manusia kepada Tuhan.

3. Orang kaya paling rentan dengan sifat dengki dan bersaing dengan orang lain, maka biasanya mereka tidak disukai. Namun Tuhan Maha Kaya dan terpuji. Dan berbeda dengan orang-orang kaya pada umumnya, sifat Maha Kaya Tuhan digunakan untuk memenuhi kebutuhan makhluk, sehingga Ia senantias dipuji dan disembah.

4. Tuhan senatiasa bebas untuk menciptakan makhluk dan tidak ada kebuntuan akan kekuatan dan kekuasaan tak terbatas Tuhan.