Jalan Menuju Cahaya 787
Surat Fatir ayag 22-26.
وَمَا يَسْتَوِي الْأَحْيَاءُ وَلَا الْأَمْوَاتُ إِنَّ اللَّهَ يُسْمِعُ مَنْ يَشَاءُ وَمَا أَنْتَ بِمُسْمِعٍ مَنْ فِي الْقُبُورِ (22) إِنْ أَنْتَ إِلَّا نَذِيرٌ (23)
Dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Allah memberi pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang didalam kubur dapat mendengar. (35: 22)
Kamu tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan. (35: 23)
Ayat kita kaji kali ini mengkiaskan orang kafir dengan orang mati dan mukmin dengan orang yang hidup. Ayat ini menyatakan, hati oran kafir layaknya orang mati yang tidak melihat dan tidak pula mendengar. Kekufuran seperti penghalang bagi manusia yang mencegah dirinya melihat dan mendengar hakikat (kebenaran).
Sejatinya mereka yang mendegarkan pesan Ilahi adalah orang-orang yang hatinya bersedia mendegarkan dan menerima kebenaran. Namun jika hati tidak siap menerima kebenaran, maka telinga juga tidak akan siap mendengarkan kebenaran. Kondisi ini seperti ketika seseorang tengah belajar dan di saat yang sama televisi menyala.
Jika Anda tidak memperhatikan siaran televisi tersebut, maka anda tidak akan mengerti apa yang dikatakan penyiar, meski seluruh ucapannya masik ke telinga anda. Hal ini karena kalian tidak ingin mendengarkannya. Orang kafir juga mendengarkan kebenaran, namun karena mereka tidak ingin mendengar atau menerimanya, seakan-akan ia tidak mendengar kebenaran.
Ayat selanjutnya ditujukan kepada Rasulullah Saw. Ayat ini menyatakan, risalahmu (Rasulullah) adalah memperi peringatan. Mereka yang memperhatikan peringatan ini jelas memiliki pendengaran yang baik, tidak seperti orang mati yang tidak mendengar dan melihat. Peringatan dan nasehatmu wahari Rasulullah tidak akan berpengaruh pada seseorang selama ia tidak ingin mendegarkan dan menyadarinya, meski nasehatmu tersebut rasional.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Iman akan mendorong kehidupan dan pertumbuhan seseorang dan masyarakat. Sementara kekufuran sumber kematian dan kejatuhan seseorang dan masyarakat.
2. Dakwah dan menyeru manusia kepada Tauhid adalah hal yan urgen. Namun jika masyarakat tidak memiliki kesiapan yang diperlukan, maka jangan berharap mereka akan terpengaruh dan menerima kebenaran.
3. Kekufuran dan penolakan masyarakat, jangan sampai membuat kita putus asa atau ragu akan kebenaran jalan kita.
إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَإِنْ مِنْ أُمَّةٍ إِلَّا خَلَا فِيهَا نَذِيرٌ (24)
Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan. (35: 24)
Ayat ini mengisyaratkan risalah sejati para nabi dan menyatakan, risalah seluruh utasan Tuhan adalah memberi hidayah manusia berdasarkan kebenaran, memberi kabar gembira kepada mereka yang berbuat baik dan memberi peringatan kepada orang-orang yang berbuat maksiat.
Para utusan Ilahi ini pertama-tama menunjukkan jalan lurus kepada manusia dan kemudian mendorong manusia berbuata baik dengan menjelaskan siksaan dan pahala Ilahi di dunia dan akhirat. Para nabi selain mengajarkan ajaran Ilahi, juga mendidik masyarakat dan seperti guru yang penuh kasih sayang, mereka memanfaatkan metode dorongan dan hukuman.
Mengingat audiens para nabi mayoritasnya adalah orang-orang yang keras kepala dan fanatik, ayat sebelum dan sesudah ayat ini sangat menekankan pada metode peringatan dan menyatakan, Allah Swt senantiasa memerintahkan para nabi dan wali-Nya untuk memperingatkan manusia akan dampak dari perbuatan mereka dan menakut-nakuti mereka akan nasib buruk. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah pemikiran dan perilaku menyimpang manusia.
Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Motivasi (dorongan) dan peringatan, rasa takut dan harapan (optimisme) akan sangat efeksif bila saling bersandingan. Jika setiap salah satu pasangan berdiri sendiri tanpa pasangannya yang lain, maka akan mengalami kekurangan, misalnya motivasi tanpa peringatan. Hal ini juga akan menyebabkan kekurangan di proses pendidikan dan pertumbuhan spiritual manusia.
2. Masyarakat yang lalu membutuhkan peringatan sebelum kabar gembira.
3. Allah Swt tidak pernah membiarkan bumi tanpa hujjah. Di muka bumi senantiasa ada auliya dan wali Allah yang menyampaikan pesan Ilahi di antara manusia.
وَإِنْ يُكَذِّبُوكَ فَقَدْ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ وَبِالزُّبُرِ وَبِالْكِتَابِ الْمُنِيرِ (25) ثُمَّ أَخَذْتُ الَّذِينَ كَفَرُوا فَكَيْفَ كَانَ نَكِيرِ (26)
Dan jika mereka mendustakan kamu, maka sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasulnya); kepada mereka telah datang rasul-rasulnya dengan membawa mukjizat yang nyata, zubur, dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna. (35: 25)
Kemudian Aku azab orang-orang yang kafir; maka (lihatlah) bagaimana (hebatnya) akibat kemurkaan-Ku. (35: 26)
Ayat ini menindaklanjuti ayat sebelumnya dan menyatakan, jika musyrik Mekah menolak seruanmu (Muhammad) dan mendustakan risalahmu, jangan khawatir dan jangan pula takjub. Karena sepanjang sejarah banyak contoh orang yang menentang dakwah para nabi karena mereka bodoh atau fanatik. Padahal para nabi tersebut memiliki mukjizat, ucapannya pun sangat rasional serta sejumlah nabi juga memiliki kitab samawi serta syariat.
Mereka yang menolak kebenaran karena sikap keras kepala, di dunia mereka juga mengalami bencana dan azab Ilahi sehingga nasib mereka akan menjadi pelajaran bagi manusia yang lain sepanjang sejarah.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Para nabi memiliki ucapan yang jelas dan rasional serta menyeru manusia untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa melalui argumen dan rasio. Ucapan para nabi bukan khurafat dan omong kosong.
2. Pengingkaran kebenaran setelah memahaminya akan memicu kemarahan Ilahi.
3. Murka Tuhan tidak terbatas di akhirat. Kemarahan ini terkadang juga muncul di dunia melalui azab yang pedih.