Jalan Menuju Cahaya 788
Surat Fatir ayat 27-30
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ ثَمَرَاتٍ مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهَا وَمِنَ الْجِبَالِ جُدَدٌ بِيضٌ وَحُمْرٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهَا وَغَرَابِيبُ سُودٌ (27) وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ (28)
Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. (35: 27)
Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (35: 28)
Ayat tersebut sebagaimana ayat pertama surat Fatir, berbicara tentang tanda-tanda keesaan dan kekuasaan Allah Swt. Tanaman, tumbuhan, hewan, dan manusia memiliki warna yang berbeda dan beragam, dan keragaman ini memberikan gambaran yang indah dari semesta. Para pelukis hebat di dunia, mahakarya mereka adalah melukiskan panorama alam yang terlihat benar-benar alami, sehingga tidak bisa dibedakan antara lukisan dan pemandangan aslinya.
Atau para perupa wajah yang melukiskan wajah manusia begitu alami sehingga kita mengira bahwa ini adalah foto wajah manusia yang diambil dengan kamera. Dengan kata lain, Tuhan telah menciptakan semesta dan manusia dengan begitu indah dan sempurna, sehingga umat manusia juga terdorong untuk melukiskan sesuatu yang semirip mungkin dengan aslinya.
Selain keragaman warna di alam yang merupakan mahakarya penciptaan, aneka warna dan rasa dari berbagai jenis buah-buahan dan produk pertanian – semuanya disiram dengan air yang sama – merupakan salah satu keagungan ciptaan Allah Swt. Air hujan yang tidak punya warna maupun rasa, menghadirkan berbagai warna dan rasa kepada manusia saat ia mengalir melalui akar ke batang dan bunga.
Ayat selanjutnya menyinggung tentang tanggung jawab besar para ulama dan ilmuwan. Mereka yang memahami keagungan penciptaan dan menyadari kekuasaan mutlak Allah, mereka tunduk takzim di hadapan keagungan-Nya dan selalu takut jika lalai dalam menunaikan kewajiban mereka. Pengetahuan dan pemahaman tentang keagungan ciptaan, membuat manusia tunduk dan khusyu' di hadapan Sang Pencipta. Mereka akan merasa takut jika ada kekurangan dalam melaksanakan kewajibannya.
Tentu saja, ilmu di sini (pengetahuan dan pemahaman) bukan berarti keberhasilan menemukan formula fisika, kimia, dan biologi, karena penemuan seperti ini tidak membawa efek takut dan khusyu' pada manusia. Namun, menurut berbagai riwayat, ilmu tersebut adalah ilmu yang menyebabkan manusia melepaskan diri dari alam materi dan mengantarkannya kepada Allah. Ilmu yang akan memperkuat imannya dan mengantarkannya ke tingkat yakin.
Maksud dari ilmu dalam ayat tersebut adalah kesadaran dan kearifan yang akan memperkuat iman seseorang kepada Sang Pencipta. Jadi, jika seseorang kaya akan ilmu pengetahuan, namun tidak memahami tentang keagungan Tuhan, tujuan penciptaan, dan nasib manusia di hari kiamat dan perkara-perkara lain, maka ia tetap dikategorikan orang bodoh.
Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Di antara dari tanda-tanda kekuasaan Allah Swt adalah menciptakan berbagai tumbuhan, buah-buahan, rasa, dan warna dari air dan tanah yang sama.
2. Agama tidak menentang keindahan. Tuhan adalah pencipta segala keindahan. Dia telah menciptakan panorama paling indah di pegunungan, hutan, dan lautan, dan ini merupakan tanda-tanda dari keberadaan-Nya.
3. Keragaman warna kulit manusia merupakan salah satu dari tanda-tanda kekuasaan dan keagungan Allah, bukan sarana untuk sombong dan merasa lebih unggul.
4. Pengetahuan dan pemahaman tentang misteri alam semesta harus menjadi sarana bagi manusia untuk mencapai derajat al-Khauf Minallah (takut kepada Allah). Ini semua bukan sarana untuk kebanggaan dan kesombongan.
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ (29) لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ (30)
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. (35: 29)
Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (35: 30)
Ayat-ayat sebelumnya berbicara tentang rasa takut ulama dan ilmuwan kepada Allah. Ayat ini mengatakan bahwa ketakutan yang disertai dengan harapan akan rahmat-Nya, merupakan sebuah harapan yang akan menyebabkan terampuninya dosa dan mendatangkan pahala. Jelas bahwa harapan tanpa amal perbuatan, adalah angan-angan semata dan bertentangan dengan kebijaksaan Tuhan.
Jadi, orang-orang yang dapat mengharapkan rahmat Allah di dunia dan akhirat adalah mereka yang beramal. Mereka menjalin hubungan dengan Tuhannya, rajin membaca al-Quran dan menunaikan shalat, juga menjalin hubungan dengan hamba-hamba Allah, dan menginfakkan hartanya kepada fakir-miskin, serta memikirkan nasib orang-orang yang kurang beruntung.
Dari dua ayat tadi terdapat lima poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Ilmu pengetahuan saja tidak cukup, tapi amal ibadah juga diperlukan.
2. Perniagaan yang menguntungkan dan abadi adalah kegiatan melakukan investasi di jalan Allah dan membantu masyarakat. Investasi ini bisa berupa umur, ilmu pengetahuan, kekayaan, kehormatan, dan hal lainnya.
3. Shalat tanpa infak atau infak tanpa shalat, tidak berguna.
4. Jika kita memandang kekayaan kita dari Allah, kita tidak akan kikir dalam berinfak, dan kita tidak melihat infak ini sebagai perbuatan yang merugi.
5. Harapan akan keselamatan dan keberuntungan, harus disertai dengan tindakan dan amal yang tepat, jika tidak, ia hanya menjadi sebuah angan-angan.