Jalan Menuju Cahaya 789
Surat Fatir ayat 31-35.
وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ هُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ إِنَّ اللَّهَ بِعِبَادِهِ لَخَبِيرٌ بَصِيرٌ (31) ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ (32)
Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu Al Kitab (Al Quran) itulah yang benar, dengan membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya. (35: 31)
Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. (35: 32)
Pada pembahasan sebelumnya, kita telah mengkaji bersama tentang keutamaan membaca kitab samawi, al-Quran dan mengamalkan ajarannya. Ayat ini menyatakan, al-Quran yang diturunkan ke kalbu Nabi Muhammad Saw adalah ucapan kebenaran. Karena bersumber dari kebenaran. Artinya, al-Quran diwahyukan oleh Allah dan selaras dengan akal serta fitrah manusia.
Selain tidak bertentangan dengan kitab para nabi sebelumnya, al-Quran juga membenarkan para nabi sebelumnya beserta kitab samawinya serta menekankan bahwa iman dan mempercayai mereka termasuk bagian dari iman kepada Tuhan yang Maha Esa.
Kelanjutan ayat ini menyatakan, seluruh umat Islam melalui keimanan mereka kepada Tuhan dan Rasulullah merupakan umat terpilih dan pewaris al-Quran serta mereka harus memahami kitab samawi ini dan menyebarkannya. Namun sangat disayangkan ada sekelompok dari umat ini yang menzalimi dirinya sendiri dan memisahkan diri dari jalan al-Quran. Ada juga kelompok lain dari umat ini yang mengikuti al-Quran, memahaminya dan menyebarkan ajarannya. Berdasarkan riwayat Islam, Ahlul Bait Nabi yang menjadi pengganti Rasulullah adalah kelompok pelopor dan terdepan. Ahlul Bait Nabi adalah Imam dan pemimpin umat Islam.
Dari dua ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Al-Quran tidak berisi ucapan tahayul, batil atau omong kosong. Seluruh ayat al-Quran berdasarkan kebenaran dan hakikat. Oleh karena itu, ayat-ayat al-Quran senantiasa dan konsisten.
2. Kitab samawi dan para nabi ilahi, seluruhnya mengejar satu tujuan. Oleh karena itu, mereka saling mendukung dan membenarkan yang lain.
3. Menjauhi al-Quran dan ajarannya merupakan kezaliman kepada diri sendiri.
4. Para pewaris al-Quran adalah mereka yang berlomba-lomba dan terdepan di dalam perbuatan baik. Dengan kata lain, syarat untuk pewaris al-Quran adalah terdepan dalam perbuatan baik dan mulia.
جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ (33) وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ (34) الَّذِي أَحَلَّنَا دَارَ الْمُقَامَةِ مِنْ فَضْلِهِ لَا يَمَسُّنَا فِيهَا نَصَبٌ وَلَا يَمَسُّنَا فِيهَا لُغُوبٌ (35)
(Bagi mereka) surga 'Adn mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas, dan dengan mutiara, dan pakaian mereka didalamnya adalah sutera. (35: 33)
Dan mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampum lagi Maha Mensyukuri.” (35: 34)
Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya; didalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu. (35: 35)
Di ayat sebelumnya, umat Islam dibagi menjadi tiga kelompok; zalim, pengikut dan imam atau pemimpin. Ayat kita kali ini menjanjikan pahala kepada kelompok kedua dan ketiga. Pahala yang akan diberika di akhirat kelak berupa surga. Surga bukan hanya tempat indah dan menyenangkan, tapi juga tempat persahabatan dan pasangan dengan manusia-manusia berparas cantik dan kulit indah yang akan membuat manusia senantiasa gembira dan tidak mengalami kesedihan. Wajar di lingkungan seperti ini manusia tidak akan mengalami depresi dan juga tidak akan menderita.
Di dunia, ada dua faktor yang membuat manusia depresi. Pertama adalah nikmat dan kesenangan yang berulang. Dan kedua adalah ketakutan akan kehilangan nikmat tersebut. Namun di Hari Kiamat keragaman nikmat tidak akan membuat manusia bosan dan depresi serta tidak akan ada yang khawatir kehilangan nikmat mereka.
Ahli surga yang menyaksikan tempat menakjubkan seperti ini dan pasangannya yang cantik langsung memuji kebesaran Tuhan dan menilai surga sebagai anugerah Allah yang diberikan kepada mereka. Bukan pahala bagi amal perbuatan mereka yang terbatas di dunia. Karena Allah dengan mengampuni dosa-dosa mereka dan mengabaikan kesalahannya telah memberi mereka surga dan jika tidak ada rahmat dan ampunan Tuhan, maka tidak ada peluang bagi manusia untuk mendapat tempat indah seperti surga.
Dari tiga ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Mereka yang selama di dunia dan karena mengharapkan keridhaan Tuhan tidak mendapat sejumlah kemewahan duniawi maka Allah Swt akan menggantinya dengan kemewahan yang kekal seperti emas dan sutra yang diharamkan bagi lelaki di dunia, maka di surga mereka dihalalkan untuk menggunakannya.
2. Di surga, kenyamanan fisik akan dibarengi dengan kenyamanan jiwa. Berbeda dengan di dunia, dimana sebagian besar manusia yang memiliki kekuasaan atau kekayaan dari sisi fisik kelihatannya sangat nyaman tapi sebenarnya dari sisi mental dan kejiwaan mereka sangat tertekan.
3. Allah Swt Maha Pengampun atas kesalahan manusia dan memberi pahala yang berlimpah atas perbuatan baik sebagai hamba Tuhan kita juga harus menghidupkan sifat ini pada diri kita.
4. Ahli surga menganggap surga sebagai rahmat dan kasih sayang Tuhan yang dianugerahkan kepada manusia, bukan karena amal perbuatan yang telah mereka kerjakan selama di dunia. Hal ini karena tidak ada perbandingan antara perbuatan duniawi yang terbatas dengan nikmat di akhirat yang tidak terbatas.