Jalan Menuju Cahaya 790
Surat Fatir ayat 36-38.
وَالَّذِينَ كَفَرُوا لَهُمْ نَارُ جَهَنَّمَ لَا يُقْضَى عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا وَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمْ مِنْ عَذَابِهَا كَذَلِكَ نَجْزِي كُلَّ كَفُورٍ (36) وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ (37) إِنَّ اللَّهَ عَالِمُ غَيْبِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (38)
Dan orang-orang kafir bagi mereka neraka Jahannam. Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir. (35: 36)
Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, ”Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan.” Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. (35: 37)
Sesungguhnya Allah mengetahui yang tersembunyi di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati. (35: 38)
Pada pembahasan sebelumnya telah dibahas mengenai pahala besar yang dianugerahkan Allah swt kepada orang-orang Mukmin. Kini, kita akan membahas tentang perilaku-orang-orang kafir. Dalam tradisi agama Islam, maksud terma kafir adalah orang yang mengetahui kebenaran, tapi mengingkarinya, maupun adanya kemungkinan untuk mengenali kebenaran tapi tidak bersedia untuk menerimanya. Dengan kata lain, makna kafir adalah menutupi kebenaran karena merasa benar sendiri, membangkang, fanatisme buta, maupun karena faktor materi dan hawa nafsu.
Orang-orang yang mengingkari kebenaran karena kepentingan pribadi dan kelompok sebenarnya telah menzalimi masyarakat. Oleh karena itu, mereka akan mendapat balasan dari Allah swt. Sebab, Tuhan Yang Maha Kuasa tidak menciptakan kita sebagai makhluk untuk berbuat semaunya. Tapi harus sesuai dengan tuntutan ilahi. Dengan demikian, keluar dari jalan yang telah ditetapkan Allah swt akan menyebabkan manusia masuk ke jurang kehancuran.
Ayat ini memberikan argumentasi kepada para pengingkar kebenaran supaya mereka jangan mengira apa yang dilakukannya di dunia ini tidak akan dibalas di akhirat kelak. Sebab Allah swt menjadikan dunia ini sebagai tempat amal manusia. Allah swt memberikan kebebasan kepada manusia untuk melakukan perbuatan baik maupun buruk.
Semua perbuatan manusia akan ada konsekuensi dan pertanggung jawabannya masing-masing. Oleh karena itu, tidak ada satu pun perbuatan manusia yang tidak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah swt. Meskipun demikian, ada juga sebagian dari perbuatan buruk manusia yang dibalas oleh Allah swt di dunia ini. Tapi ganjaran perbuatan manusia yang paling utama di akhirat kelak.
Dunia ini memiliki batasan dan keterbatasan, sedangkan akhirat tidak. Di akhirat, setiap orang akan diganjar dengan balasan setimpal atas setiap perbuatannya di dunia. Perbuatan baik akan mendapat pahala, dan sebaliknya perbuatan buruk akan diganjar hukuman yang setimpal dari Allah swt secara adil.
Para penjahat besar seperti Hitler maupun Saddam yang telah membunuh ribuan orang pasti akan mendapat balasan setimpal dari Allah swt secara adil. Di dunia yang terbatas ini, dia hanya bisa menerima hukuman yang juga terbatas dengan berakhir kematiannya. Tapi di akhirat kelak, mereka akan dihukum sesuai tingkat perbuatannya. Allah swt berfirman bahwa di akhirat tidak ada kematian, sebab siapapun yang melakukan perbuatan dosa akan dibalas sesuai tindakannya, meskipun itu dilakukan ribuan kali.
Allah swt memberikan ganjaran atas setiap perbuatan manusia sesuai ilmu dan keadilan-Nya. Oleh karena itu, ganjaran hukuman yang diberikan kepada para pelaku dosa dan kejahatan sesuai dengan apa yang mereka kerjakan, tidak akan lebih dan tidak kurang.
Seberapa besar hukuman yang akan diterima oleh seseorang yang melakukan perbuatan dosa atau kejahatan, hanya Allah swt yang tahu berdasarkan ilmu-Nya yang tidak terbatas. Sebab, Allah swt mengetahui setiap perkara di dunia ini dengan serinci-rincinya. Tuhan Yang Maha Kuasa mengetahui lahir dan juga batin setiap manusia.
Kelanjutan ayat ini menyinggung reaksi orang-orang kafir di akhirat kelak yang ingin kembali ke dunia untuk menebus seluruh kesalahannya selama ini. Mereka berjanji akan melakukan perbuatan baik dan meninggalkan perbuatan buruk. Tapi mereka keliru, karena di akhirat tidak ada lagi waktu untuk menebus seluruh kesalahannya itu. Ketika itu bukan waktu untuk bertaubat.
Di ayat ini, Allah swt dan malaikat penjaga neraka menjawab dengan balik bertanya kepada orang-orang kafir, apakah selama hidup di dunia dengan umur yang telah diberikan tidak memiliki waktu untuk mencari kebenaran dan menerimanya? Apakah tidak ada utusan Tuhan yang telah memberikan petunjuk mengenai jalan kebenaran dan kebatilan, sehingga kalian tidak kebingungan untuk menempuh jalan yang benar, dengan konsekuensinya masing-masing.
Di ayat ini, Allah swt juga menegaskan bahwa perbuatan baik akan dibalas dengan surga dan perbuatan buruk diganjar hukuman di neraka. Lalu mengapa orang-orang kafir masih memohon untuk kembali ke dunia demi menebus kesalahan dan dosanya dengan perbuatan baik dan kemuliaan. Apa jaminannya tidak akan mengulangi kesalahan serupa.
Dari tiga ayat tadi terdapat enam poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Kafir adalah bagian dari kufur nikmat. Sebab mereka menjadi kafir karena tidak mensyukuri karunia yang dianugerahkan Allah swt kepada mereka.
2. Seluruh penjahat dan pendosa yang melakukan perbuatan buruk dan jahat di dunia dengan kesombongan, suatu hari akan berteriak memohon ampunan dan menyesali seluruh perilakunya di akhirat kelak. Tapi penyesalan dan taubat mereka sia-sia belaka.
3. Ketika seluruh argumentasi sudah disampaikan kepada para pengingkar kebenaran, tapi mereka masih tetap membangkang, maka keadilan Tuhan akan menentukan balasannya. Mereka akan diganjar sesuai dengan perbuatannya selama ini.
4. Umur bukan untuk disia-siakan, tapi dimanfaatkan sebaik-baiknya. Semakin panjang usia, maka pertanggungjawabannya pun akan semakin besar dan berat. Oleh karena itu manfaatkan usia sebaik-baiknya dengan memperbanyak amal saleh dan menjauhi perbuatan munkar di dunia ini.
5. Tidak memanfaatkan usia dengan sebaik-baiknya merupakan perbuatan zalim kepada diri sendiri. Sebab tidak memperhatikan seruan peringatan para Nabi dan wali Allah Swt sebagai penyampai risalah ilahi.
6. Dalam tradisi agama Islam, berbuat lalim terhadap diri sendiri dan menghalangi pertumbuhan potensi diri dalam menerima kebenaran termasuk kezaliman sebelum kezaliman kepada orang lain. Sebab semua yang kita miliki termasuk tubuh adalah amanah ilahi yang harus selalu dijaga. Manusia bukan pemilik utama tubuhnya sendiri, hingga bisa sesukanya melakukan tindakan yang melukai diri sendiri.