Jalan Menuju Cajaya 791
Surat Fatir ayat 39-41.
هُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ فِي الْأَرْضِ فَمَنْ كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْرُهُ وَلَا يَزِيدُ الْكَافِرِينَ كُفْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ إِلَّا مَقْتًا وَلَا يَزِيدُ الْكَافِرِينَ كُفْرُهُمْ إِلَّا خَسَارًا (39)
Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa yang kafir, maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka. (35: 39)
Pertama-tama ayat ini menekankan kekhalifahan manusia di muka bumi. Para ahli tafsir memberikan dua pengertian terkait khalifah ini, pertama, manusia sebagai khalifah Tuhan di muka bumi dan kedua, pergantian kaum-kaum tertentu oleh kaum yang baru. Namun demikian, keduanya menjelaskan kasih sayang Allah Swt terhadap manusia dengan memberikan ikhtiar kepada manusia untuk memanfaatkan seluruh nikmat alam dan penguasaan atas bumi.
Hukum akal mengatakan, manusia harus mengenal Sang Pemberi nikmat tersebut dan bersyukur kepada-Nya, akan tetapi sungguh disayangkan, sebagian besar manusia tidak mengenal-Nya dan kufur atas nikmat yang diberikan-Nya.
Orang-orang yang kufur dan mengingkari Tuhan, akan merasakan akibat kekufurannya itu sendiri. Pasalnya, Allah Swt tidak membutuhkan syukur hamba-hamba-Nya, begitu juga tidak memerlukan keberadaan mereka. Di saat mereka tidak ada, Tuhan akan selalu ada. Oleh karena itu, kekufuran dan keimanan manusia, sama sekali tidak memberikan keuntungan atau kerugian sedikitpun kepada Tuhan, namun keuntungan dan kerugian itu kembali kepada manusia sendiri.
Manusia yang bersyukur dan mukmin pasti akan mendapat limpahan kasih sayang dan rahmat khusus Allah Swt, baik di dunia maupun akhirat kelak. Sementara orang-orang yang kufur dengan perbuatan-perbuatan buruknya, telah mengundang murka dan marah Ilahi.
Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Karena kita adalah pengganti kaum-kaum terdahulu, maka suatu hari nanti kitapun akan pergi dan kaum-kaum yang baru menggantikan kita, oleh karena itu jangan pernah sombong dengan apa yang kita punya sekarang dan kufur nikmat Tuhan.
2. Dampak dan akibat berbahaya dari kekufuran itu tidak terbatas dan secara teratur terus meluas.
3. Kekufuran membuka peluang dilakukannya banyak dosa dan mendorong manusia ke jurang kebinasaan.
قُلْ أَرَأَيْتُمْ شُرَكَاءَكُمُ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَرُونِي مَاذَا خَلَقُوا مِنَ الْأَرْضِ أَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِي السَّمَاوَاتِ أَمْ آَتَيْنَاهُمْ كِتَابًا فَهُمْ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْهُ بَلْ إِنْ يَعِدُ الظَّالِمُونَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا إِلَّا غُرُورًا (40)
Katakanlah, “Terangkanlah kepada-Ku tentang sekutu-sekutumu yang kamu seru selain Allah. Perlihatkanlah kepada-Ku (bahagian) manakah dari bumi ini yang telah mereka ciptakan ataukah mereka mempunyai saham dalam (penciptaan) langit atau adakah Kami memberi kepada mereka sebuah Kitab sehingga mereka mendapat keterangan-keterangan yang jelas daripadanya? Sebenarnya orang-orang yang zalim itu sebahagian dari mereka tidak menjanjikan kepada sebahagian yang lain, melainkan tipuan belaka.” (35: 40)
Ayat ini mengajukan beberapa pertanyaan terkait syirik dan memerintahkan Nabi Muhammad Saw agar meminta orang-orang musyrik menyampaikan argumen akal atau teks kitab suci untuk mendukung sikapnya tersebut. Apakah sekutu-sekutu Allah Swt yang dikira oleh orang-orang itu ada di semesta ini, hingga sekarang pernah menciptakan langit atau bumi ? Jika tidak, lalu bagaimana mungkin kalian mengira mereka adalah sekutu Allah Swt ? Secara akal, apakah seseorang yang tidak punya kekuatan mencipta, layak dan pantas untuk disembah ?
Sekarang ketika jelas bahwa akal manusia menghukumi tidak ada sekutu bagi Allah Swt, apakah di dalam kitab-kitab suci yang diturunkan Allah kepada nabi-nabi-Nya terdapat perintah untuk menyembah atau izin untuk menyembah sesembahan selain Allah Swt ? Jelas, tidak ada argumen akal apapun atau teks kitab suci yang membenarkan hal tersebut. Hanya pemikiran menyimpang dan keliru yang menyebabkan orang-orang kafir berharap pada syafaat sekutu-sekutu Tuhan itu dan menyembahnya. Harapan kosong dan tidak pada tempatnya itu telah menipu kalian orang-orang kafir dan menyimpangkan kalian dari jalan yang benar dalam penghambaan kepada Allah Swt.
Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Salah satu jalan untuk mengajak orang lain kepada Islam adalah membangkitkan fitrah mereka dengan mengajukan beberapa pertanyaan yang jelas.
2. Kekufuran dan syirik sama sekali tidak punya pendukung argumen rasional atau akal. Tapi hanya bersandar pada pemikiran keliru yang menipu manusia.
3. Kekufuran dan syirik adalah bentuk kezaliman terhadap manusia dan kemanusiaan, dan akibatnya akan kembali kepada manusia sendiri.
إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا (41)
Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (35: 41)
Ayat sebelumnya menjelaskan tentang penciptaan langit dan bumi serta mahkluk Tuhan yang ada di atasnya, sementara ayat ini menjelaskan tentang keteraturan sistem langit dan bumi yang semata-mata berada di tangan Tuhan dan tidak ada satupun makhluk yang bisa menjadi sekutu bagi-Nya. Orang-orang musyrik mengakui bahwa Allah Swt adalah pencipta alam semesta, namun mereka menjadikan sesembahannya sebagai sekutu Tuhan dalam mengelola dunia dan kehidupan. Ayat ini menyatakan, sebagaimana dalam penciptaan tidak ada satupun sekutu bagi Allah Swt, begitu juga tidak ada satupun sekutu Tuhan dalam pengelolaan semesta ini, dan keterjagaan sistem penciptaan dan keberlangsungannya hanya ada di tangan Allah Swt.
Dari ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Posisi langit dan bumi, dan penempatan bumi dan matahari di tempatnya yang tetap dan tepat adalah berdasarkan kehendak Ilahi dan Dialah yang selalu menjaganya.
2. Keteraturan alam berdasarkan kehendak Allah Swt dan perencanaan yang sudah ditetapkan sebelumnya, bukan hal yang kebetulan atau terjadi secara tiba-tiba.
3. Allah Swt adalah pencipta juga pengelola alam semesta, oleh karena itu, tercipta dan terjaganya keberlangsungan alam ini berada di tangan-Nya, dan selama Ia menghendaki, keberadaan alam ini akan tetap terjaga.
4. Jika tidak ada kesabaran dan pengampunan Allah Swt, seluruh alam semesta ini akan ditimpakan kepada orang-orang zalim dan penjahat. Oleh karena itu, jika Tuhan memberikan kesempatan kepada orang-orang zalim, hal itu semata-mata karena kesabaran-Nya, bukan karena ketidakmampuan dan kelemahan-Nya.