Jul 02, 2018 13:04 Asia/Jakarta

Surat Fatir ayat 42-44.

وَأَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لَئِنْ جَاءَهُمْ نَذِيرٌ لَيَكُونُنَّ أَهْدَى مِنْ إِحْدَى الْأُمَمِ فَلَمَّا جَاءَهُمْ نَذِيرٌ مَا زَادَهُمْ إِلَّا نُفُورًا (42) اسْتِكْبَارًا فِي الْأَرْضِ وَمَكْرَ السَّيِّئِ وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا سُنَّةَ الْأَوَّلِينَ فَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَحْوِيلًا (43)

Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah; sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat-umat (yang lain). Tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan, maka kedatangannya itu tidak menambah kepada mereka, kecuali jauhnya mereka dari (kebenaran). (35: 42)

Karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu. (35: 43)

Berbagai tafsir muktabar menyebutkan mengenai sumpah orang-orang musyrik. Ketika orang-orang musyrik Mekah mendengar orang-orang Yahudi membunuh sebagian dari para Nabi dan tidak bersedia menerima ajaran yang dibawanya, orang-orang musyrik itu bersumpah akan menerima ajaran para Nabi jika mereka datang untuk menyampaikan risalah ilahi.

Tapi faktanya, ketika Nabi Muhammad Saw datang untuk menyampaikan risalah Allah swt, para pembesar Quraisy yang sebelumnya bersumpah tidak akan mengikuti jejak orang-orang yahudi yang membunuh sebagian Nabi, justru bertindak sama saja. Mereka melakukan berbagai cara untuk menghalangi dakwah Islam yang dibawa Nabi Muhammad Saw. Bahkan merencanakan pembunuhan beliau, tapi gagal. 

Mereka bisa menerima ajaran yang dibawa Rasulullah Saw jika sesuai dengan kehendak dan kepentingannya. Tapi ajaran Islam bukan untuk mengikuti hawa nafsu atau kepentingan segelintir manusia, terutama para pembesar Quraisy ketika itu. Tapi Islam datang untuk kemaslahatan umat manusia, dan menunjukkan jalan kebenaran. 

Salah satu contoh dari ajaran Islam adalah pembebasan budak, dan pandangan tentang kedudukan manusia yang setara di hadapan Tuhan. Sebab, kedudukan sejati manusia dalam ajaran Islam ditentukan oleh ketakwaannya, bukan keturunan, status sosial maupun hartanya.

Masalah ini memicu penentangan keras dari kalangan pembesar Quraisy. Orang-orang sombong tidak bersedia menerima kebenaran ajaran Islam yang datang dari Allah swt. Mereka berupaya melemahkan dan menghalangi penyebaran ajaran Islam yang disampaikan Rasulullah Saw.

Tapi berbagai konspirasi mereka tidak berhasil menghalangi perjuangan Rasulullah Saw dalam menyampaikan risalah ilahi. Allah swt yang menjaga Rasulullah saw dan agama yang dibawanya, mengembalikan makar tersebut kepada mereka sendiri. Rekaman sejarah dunia menunjukkan bukti-bukti dari Sunatullah ini bahwa kebenaran akan mengalahkan kebatilan.

Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Setiap sumpah tidak boleh langsung dipercaya. Apalagi sumpah yang disampaikan orang-orang yang sering melanggarnya berulangkali, dan orang-orang yang memiliki kepentingan di balik sumpah tersebut.

2. Manusia harus selalu diingatkan supaya tidak lalai, dan melakukan kesalahan maupun dosa. Ketika terlanjut melakukan kesalahan atau dosa, peringatan bisa mendorong segera sadar dan bertaubat.

3. Kebanyakan pengingkaran terhadap kebenaran di tengah masyarakat bukan karena mereka tidak mengenali kebenaran. Tapi disebabkan kesombongan diri, ataupun dorongan hawa nafsu.

4. Dunia diatur berdasarkan ketentuan ilahi yang tidak berubah. Mengenali aturan ini akan membawa manusia menuju kebahagiaan.

أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَكَانُوا أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعْجِزَهُ مِنْ شَيْءٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ إِنَّهُ كَانَ عَلِيمًا قَدِيرًا (44)

Dan apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka, sedangkan orang-orang itu adalah lebih besar kekuatannya dari mereka? Dan tiada sesuatupun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (35: 44)

Melanjutkan ayat sebelumnya, di ayat ini Allah Swt berfirman mengenai kehidupan orang-orang dahulu yang mengingkari kebenaran, karena mereka merasa memiliki kekuatan dan kekuasaan yang besar. Tapi kekuatan dan kekuasaan yang mereka sombongkan tidak seberapa dibandingkan Allah Swt.

Contoh yang disebutkan sejarah mengenai Firaun dan Namrud dengan kekuasaan yang dimilikinya berakhir mengenaskan. Sejarah juga mencatat nasib serupa yang dialami Karun dengan kekayaannya yang melimpah. Mereka tidak bisa melawan Sunatullah.

Perjalanan penguasa dari berbagai etnis dalam sejarah menunjukkan bahwa kezaliman tidak akan bisa bertahan melawan keadilan. Kebatilan akan binasa dan kebenaran yang akan muncul.

Dari ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Al-Quran mengajak manusia untuk merenungkan perjalanan hidup orang-orang terdahulu, temasuk nasib orang-orang lalim yang pernah berkuasa dan hancur.

2. Ajaran Islam menyerukan manusia untuk mempelajari jejak yang ditinggalkan dari peradaban orang-orang terdahulu, dan menjadikan perjalanan hidup mereka sebagai pelajaran penting dalam meniti jalan kehidupan ini.

3. Kekuasaan dan kekayaan selama ini sering membuat manusia silau sehingga banyak yang menolak kebenaran karena dua masalah ini. Tapi orang-orang yang jernih dan berhati tulus menyingkirkannya, dan memilih kebenaran sebagai pijakan.

4. Ketika berkuasa maupun kaya-raya jangan sombong. Sebab masih banyak orang yang lebih dari kita dalam masalah itu. Semua ini tidak kekal, sebab kekuasaan dan kekayaan mutlak hanya berada di tangan Allah Swt.