Sep 02, 2018 11:39 Asia/Jakarta

Surat Yasin ayat 1-4.

Dengan berakhirnya surat Fathir dalam pembahasan sebelulmnya, kita akan memulai pelajaran tafsir al-Quran kita dengan surat Yasin. Surat ini diturunkan di kota Mekah dan ayat pertamanya dimulai dengan huruf muqattha’ah serta dijadikan nama surat ini. Surat Yasin memiliki 83 ayat.

Surat ini menjelaskan tentang masalah akidah. Dalam surat ini juga ada ayat-ayat yang menyinggung akan keagungan Allah. Surat Yasin juga menjelaskan tema Ma’ad, pertanyaan dan jawaban di pengadilan Hari Kiamat dan ciri khas surat dan neraka. Dalam riwayat disebutkan bahwa surat Yasin juga disebut dengan “Qalbu al-Quran” atau jantung Quran.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

يس (1) وَالْقُرْآَنِ الْحَكِيمِ (2) إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ (3) عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (4)

Yaa siin. (36: 1)

Demi Al Quran yang penuh hikmah. (36: 2)

Sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul. (36: 3)

(yang berada) diatas jalan yang lurus. (36: 4)

Terkait huruf muqattha’ah sebelumnya telah dijelaskan dalam pembahasan tafsir surat al-Baqarah dan Ali Imran. Surat al-Baqarah dan Ali Imran serta sejumlah surat-surat al-Quran lainnya dimulai dengan huruf-huruf terpisah ini. Huruf-huruf ini bukan kalimat yang berdiri sendiri. Sebagaimana nama singkatan yang dipakai oleh lembaga atau organisasi dengan menggunakan huruf pertama sehingga menjadi singkata, huruf-huruf ini juga merupakan tanda bagi kalimat yang tidak begitu jelas buat kita.

Huruf-huruf ini merupakan rumusan dan kode al-Quran yang hanya diketahui oleh Nabi Muhammad Saw dan para Imam Maksum as dan di masa kemunculan Imam Mahdi af hakikat maknanya baru jelas bagi kita. Sebagian riwayat menyebut huruf muqattha’ah sebagai salah satu nama Nabi Muhammad Saw. Dasarnya adalah ayat-ayat setelah itu yang berbicara kepada Rasulullah.

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, setelah huruf-huruf muqattha’ah biasanya disebutkan nama al-Quran atau ciri khasnya. Surat ini juga menekankan ciri khas al-Quran yaitu tentang kebijaksanaan dan dijadikan sumpah. Kitab yang membuka pintu-pintu kebijakan kepada manusia dan menuntun mereka kepada jalan kebenaran dan lurus. Jelas, bahwa sumpah yang disebutkan dalam al-Quran untuk menjelaskan keagungan yang dipakai bersumpah itu, bukannya Allah membutuhkan sumpah untuk membuktikan kebenaran apa yang disampaikannya.

Ayat-ayat ini dengan baik menjelaskan hubungan antara risalah Nabi Muhammad Saw dengan turunnya al-Quran dan mengatakan kepada Rasulullah, “Al-Quran merupakan dalil terbaik yang membuktikan risalahmu. Karena al-Quran adalah mukjizat ilahi. Tidak ada seorangpun yang dapat membuat yang sama dengannya. Engkau juga sama dengan para nabi terdahulu bertanggung jawab untuk menuntun manusia. Allah Swt bersumpah bahwa engkau mengetahui dengan tepat Shirat al-Mustaqim dan juga memahami faktor-faktor yang membuat manusia menyimpang darinya.”

Dengan mencermati kandungan ayat-ayat ini, diketahui bahwa Nabi Muhammad Saw bukan saja berada di jalan yang lurus (Shirat al-Mustaqim), tapi juga menguasainya dengan sempurna. Jelas, seseorang yang ingin mengajak manusia lainnya ke jalan yang lain, ia sendiri harus menjadi teladan praktis Shirat al-Mustaqim. Selain dapat menuntun masyarakat dalam bentuk yang benar di jalan ini, ia juga melindungi mereka agar tetap dalam jalan yang lurus ini.

Harus diperhatikan bahwa berada lurus di jalan ilahi tidak berarti segalanya mudah dan enak. Jangan membayangkan jalan ini tidak memiliki kesulitan. Maksud dari jalan yang lurus adalah jalan yang benar bagi upaya sampai kepada tujuan. Karena ketika seseorang berada di jalan yang tidak lurus, sekalipun kelihatannya lenggang dan tidak tampak adanya belokan, tapi tidak akan pernah mengantarkan manusia kepada tujuan.

Dari empat ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Al-Quran merupakan kitab yang kokoh dan dipenuhi kebijakan. Satu dari dimensi kemukjizatannya adalah kebijakannya terkait dimensi individu, keluarga dan sosial.

2. Ajaran al-Quran membutuhkan seorang guru seperti Nabi Muhammad Saw, dimana ia mengajarkan al-Quran, sekaligus teladan dalam mengamalkannya.

3. Setiap kali melaksanakan shalat, kita meminta kepada Allah agar menuntun kita ke jalan yang lurus. Allah mengenalkan Nabi Muhammad Saw sebagai teladan jalan yang lurus. Oleh karenanya, kita harus mengetahui sirah dan kehidupan beliau dan mengamalkannya.