Jalan Menuju Cahaya 795
Surat Yasin ayat 5-9.
تَنْزِيلَ الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ (5) لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أُنْذِرَ آَبَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ (6)
(sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. (36: 5)
Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai. (36: 6)
Sebagai kelanjutan ayat-ayat sebelumnya yang menyinggung soal kebijaksaan al-Quran dan keagungannya, ayat-ayat ini sejak awal mengatakan, “Al-Quran merupakan firman Allah, bukan ucapan Nabi Muhammad Saw, sekalipun disampaikan lewat lisan beliau, tapi sangat berbeda dengan ucapan Nabi Muhammad.”
Bila kita menelisik sejumlah riwayat yang dinukil dari Nabi Muhammad Saw dan yang dikumpulkan dalam buku-buku hadis, maka kita dapat memahami gaya dan cara penjelasan hadis-hadis Nabi Muhammad Saw sangat berbeda dengan penjelasan ayat-ayat al-Quran. Siapa saja yang sedikit mengenal bahasa Arab dapat merasakan dengan baik perbedaan tersebut.”
Kelanjutan ayat tersebut dijelaskan, “Penurunan al-Quran bertujuan memperingatkan manusia agar tersadar dari kelalaiannya, sehingga dapat mengetahui akan hakikat dunia. Hakikat yang berhubungan dengan nasib manusia. Ketidaktahuan akan hakikat ini akan menyebabkan manusia hanya akan melihat dunia dan lalai akan akhirat yang merupakan tempat kehidupan yang kekal.”
Lanjutan ayat-ayat menjelaskan pentingnya risalah Nabi Muhammad Saw di Jazirah Arab, “Sebelumnya, di kawasan ini belum ada nabi yang berasal dari etnis Arab yang diutus dan mereka tidak menemukan nikmat nabi Ulul Azmi.”
Sesuai dengan ayat-ayat al-Quran yang lain, selalu ada saja orang di satu kaum yang memberi peringatan kaumnya dan menyampaikan hujjah kepada mereka, tapi mereka bukan berasal dari para nabi yang terkenal. Sebagaimana dalam jarak antara Nabi Isa as hingga Nabi Muhammad Saw, tidak ada nabi Ulul Azmi yang diutus.
Dari dua ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Allah memiliki segala sifat sempurna. Allah Mulia dan Kuat, sekaligus penyayang.
2. Peringatan bertujuan agar manusia tersadar dari kelalaian dan ini merupakan Sunnah Ilahi yang merupakan kewajiban utama para nabi.
لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلَى أَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (7)
Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, kerena mereka tidak beriman. (36: 7)
Sebagai kelanjutan ayat sebelumnya yang menyebutkan para nabi diutus agar membuka tabir kelalaian dari pandangan mereka, ayat ini mengatakan, “Kebanyakan masyarakat tidak memperhatikan peringatan yang disampaikan para nabi dan tidak beriman. Orang-orang yang seperti ini akan disiksa di Hari Kiamat.”
Jelas bahwa di Hari Kiamat orang-orang yang layak disiksa adalah mereka yang tidak bertaubat hingga akhir hayatnya. Mereka tidak kembali dari jalan yang sesat atau mereka adalah tokoh kekufuran dan kesyirikan yang banyak menyesatkan masyarakat.
Sementara bila mereka yang sebelum meninggal dunia tidak kembali dari jalan yang tidak benar atau tidak menyesali perbuatan yang tidak layak dan kemudian kembali kepada Allah, maka mereka yang seperti ini akan mendapat ampunan dan rahkat ilahi. Allah Swt akan menyelamatkan manusia yang seperti ini dari siksa api neraka.
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Terkait dengan masalah keberagamaan masalah kuantitas tidak menjadi parameter. Bila mayoritas masyarakat dunia tidak beriman, bukan berarti mereka benar. Orang mukmin yang minoritas tidak boleh ragu akan jalan yang dipilihnya apalagi berputus asa.
2. Kelalaian akan hakikat ghaib akan menyeret manusia kepada kekufuran dan permusuhan dengan kebenaran.
إِنَّا جَعَلْنَا فِي أَعْنَاقِهِمْ أَغْلَالًا فَهِيَ إِلَى الْأَذْقَانِ فَهُمْ مُقْمَحُونَ (8) وَجَعَلْنَا مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ (9)
Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu dileher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah. (36: 8)
Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. (36: 9)
Dua ayat ini menjelaskan balasan yang diterima orang-orang Kafir di dunia dan akhirat. Dalam penjelasan azab Hari Kiamat diingatkan akan rantai dan borgol neraka, bahkan mereka tidak diizinkan untuk menggerakan kepala dan lehernya. Selain dibakar apa yang diperbuat ke atas mereka agar mereka merasa terhina.
Selama di dunia, mereka tidak bersedia melihat hakikat yang berada di hadapannya atau di belakangnya. Mereka tidak mau menyaksikan Allah sebagai awal dan pencipta dunia dan tidak juga menerima akhirat sebagai akhir dari manusia dan bahkan dunia. Mereka akan dibangkitkan dan dikumpulkan seperti itu dan hati mereka yang mati di dunia akan ditampakkan di akhirat.
Pada dasarnya, Hari Kiamat merupak personifikasi dari perbuatan manusia selama di dunia dalam bentuk yang lain. Bentuk lahiriah perbuatan manusia di dunia bisa saja tidak dilihatnya dalam bentuk yang jelek, tapi di Hari Kiamat mereka akan menyaksikan hati mereka yang mati dan tidak peduli akan hakikat dalam bentuk mata yang buta. Karena manusia dikumpulkan dalam bentuk batin.
Dari dua ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Rantai dan borgol di Hari Kiamat pada hakikatnya rantai dan borgol yang dipakai oleh orang-orang Kafir selama di dunia. Mereka beranggapan bebas di dunia, tapi hakikatnya adalah mereka terbelenggu oleh hawa nafsunya.
2. Orang-orang Kafir beranggapan selama di dunia dapat memanfaatkan segala kelezatan dalam kehidupan yang fana dan menutup mata dari masa depan dunia. Di mata mereka ada tabir, sehingga tidak dapat melihat kebenaran. Mereka tidak mengambil pelajaran dari masa lalu dan juga tidak memikirkan masa depannya.