Jalan Menuju Cahaya 796
Surat Yasin ayat 10-12.
وَسَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (10) إِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيمٍ (11)
Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman. (36: 10)
Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia. (36: 11)
Pada pertemuan sebelumnya telah dijelaskan ayat-ayat tentang hukuman berat untuk kaum kuffar dan musyrikin. Ayat-ayat ini menyebutkan bahwa sumber dari kekufuran itu adalah permusuhan dan perlawanan mereka terhadap kebenaran, sedemikian rupa sehingga mereka tidak sudi mendengar perkataan nabi dan argumentasi kokohnya. Jika seandainya mereka mendengar pun mereka tidak mempedulikannya, seakan mereka tidak mendengar ucapan nabi. Oleh karena itu, tidak ada bedanya apakah nabi membimbing mereka atau tidak, karena sejak awal mereka telah berniat tidak ingin beriman. Hati mereka keras seperti batu yang air hujan tidak akan menembusnya.
Kelanjutan ayat menyebutkan bahwa bimbingan akan berpengaruh pada orang yang siap untuk menerima peringatan dan pengingatan serta mengikutinya. Ayat-ayat al-Quran, semuanya adalah bimbingan dan peringatan, sementara nabi dalam banyak ayat disebut sebagai Muzakkir atau orang yang mengingatkan.
Pada prinsipnya, banyak maarif dan hakikat agama dalam fitrah ilahi yang ada pada diri manusia, akan tetapi karena berbagai faktor, manusia melupakannya. Untuk mengingatkan manusia dan mengenalkan manusia pada fitrahnya, Allah Swt mengutus para nabi dan kitab-kitab samawi sehingga mereka yang mencari hakikat akan mendapatkan hidayah dan tidak tersesat. Jika seseorang merenungi pesan-pesan nabi, di setiap kondisi, dan memperhatikan Allah Swt, maka dia akan sedikit melakukan khilaf.
Sikap Allah Swt kepada orang-orang seperti itu juga berdasarkan pengampunan dan kemurahan. Semua kekhilafannya akan diampuni dan kebaikannya akan diberikan pahala berlimpah.
Dari dua ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Penyempurnaan hujjah untuk seluruh masyarakat itu penting. Akan tetapi potensi pengaruhnya hanya untuk orang-orang yang siap untuk menerima bimbingan dan imbauan serta mencari hakikat.
2. Al-Quran adalah kitab peringatan dan pengingatan agar fitrah manusia yang terlelap kembali terjaga serta terbebaskan dari faktor-faktor yang membuatnya terlupakan.
3. Tanda-tanda iman sejati kepada Allah Swt, adalah ketakwaan seseorang baik secara lahir atau batin, bukan hanya secara lahir di depan masyarakat saja.
4. Orang-orang yang memperhatikan peringatan para nabi, mereka akan mendapat rahmat ilahi dan dijanjikan pahala surga di Hari Kiamat kelak.
إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآَثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ (12)
Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh). (36: 12)
Salah satu bimbingan terpenting para nabi dan kitab-kitab Samawi adalah tentang hari kiamat. Artinya, manusia setelah kematian akan dibangkitkan kembali di alam lain dan dia akan ditanya tentang apa saja yang dilakukannya selama hidup di dunia. Oleh karena itu, setiap amal perbuatan manusia di dunia akan dicatat sehingga di Hari Kiamat nanti manusia itu sendiri harus mempertanggungjawabkannya.
Pada prinsipnya dalam urusan peradilan di dunia, hanya tindak kejahatan yang ditindak, itu pun yang nyata dan terdeteksi. Sementara di hari kiamat, seluruh perbuatan manusia baik itu baik atau buruk, akan diperitungkan dan dihisab. Seluruh efek dari perbuatan manusia akan nampak secara lahiriah, begitu juga dampaknya yang mungkin akan berlangsung selama puluhan hingga ratusan tahun setelah kematiannya.
Jika seseorang di dunia melakukan pembunuhan. Pengadilan akan mengeluarkan hukuman terkait tindak kejahatan pembunuhan tersebut. Sementara keluarga dan anak-anak korban akan menghadapi berbagai masalah ekonomi, sosial dan dbuaya hingga puluhan tahun sepeninggal korban. Dalam sistem hukum dunia sekarang, masalah ini tidak dimasukkan dalam pertimbangan dan masalah-masalah yang dihadapi keluarga korban tidak diperitungkan dalam hukuman pelaku. Adapun dalam pengadilan Allah Swt, seluruh dampak dan pengaruh amal manusia dalam jangka panjang juga akan tetapi diperhatikan.
Lanjutan ayat menekankan tercatatnya seluruh amal perbuatan manusia dan bahwa segalanya akan tercatat dalam "Luh Mahfudh" serta tidak ada satu pun yang meleset. Lauh Mahfudh tersebut adalah rujukan seluruh malaikat Allah Swt dalam memberikan pahala dan hukuman, serta parameter untuk menimbang perbuatan baik dan buruk manusia, dalam ayat ini disebut dengan kata "imam".
Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Catatan perbuatan manusia setelah kematiannya akan dibuka kembali di Hari Kiamat. Pengaruh dan dampak perbuatannya setelah kematiannya juga akan tetap dicatat.
2. Dalam budaya Islam, manusia bukan hanya bertangunggjawab atas perbuatan yang dilakukannya saja, melainkan terhadap seluruh dampak dari perbuatannya terhadap keluarga dan masyarakat.
3. Pengadilan Allah Swt di Hari Kiamat, bukan berdasarkan perkiraan, tebakan atau prasangka, melainkan berdasarkan bukti-bukti jelas yang tercatat dan tidak terkurangi sedikit pun.