Sep 02, 2018 11:51 Asia/Jakarta

Surat Yasin ayat 13-19.

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا أَصْحَابَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَاءَهَا الْمُرْسَلُونَ (13) إِذْ أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوا إِنَّا إِلَيْكُمْ مُرْسَلُونَ (14)

Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka. (36: 13)

(yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata, “Sesungguhnya kami adalah orang-orang di utus kepadamu.” (36: 14)

Ayat-ayat sebelumnya membahas perbandingan perilaku orang-orang Mukmin dan kafir dalam menyikapi ajaran nabi-nabi Tuhan. Di ayat 13-14 Surat Yasin sebagai kelanjutan ayat-ayat sebelumnya, Allah Swt berfirman, Wahai Nabi, sampaikanlah salah satu contoh tentang umat-umat terdahulu sebagai pelajaran bagi kaum musyrik Mekah.

Beberapa nabi sudah diutus untuk menghidayahi kaum musyrik Mekah namun karena kedengkian dan keras kepala, mereka menolak seruan para nabi dan semua bangkit menentangnya. Seolah mereka tidak mau menerima bahwa Tuhan telah mengutus seseorang sebagai nabi kepada umat manusia. Mereka mengira Tuhan telah membiarkan mereka begitu saja dan mereka berhak melakukan apa saja yang diinginkan.

Oleh karena itu nabi-nabi utusan Tuhan selalu menegaskan bahwa mereka tidak melakukan apapun atas dorongan diri sendiri, tapi karena ditugaskan oleh Tuhan untuk menyeru manusia kepada-Nya. Mereka adalah para rasul dan pembawa pesan dan tidak menginginkan apapun untuk kepentingan diri mereka sendiri.

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Mengkaji sejarah kaum-kaum terdahulu dan nasib mereka, dapat menjadi lentera yang menerangi jalan generasi berikutnya.

2. Para nabi Tuhan, dalam menyampaikan risalahnya, mendatangi masyarakat dan tidak menunggu sampai mereka mendatanginya.

3. Terkadang beberapa nabi diutus kepada satu kaum dan memberikan hidayah kepada mereka.

قَالُوا مَا أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا وَمَا أَنْزَلَ الرَّحْمَنُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَكْذِبُونَ (15) قَالُوا رَبُّنَا يَعْلَمُ إِنَّا إِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُونَ (16) وَمَا عَلَيْنَا إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ (17)

Mereka menjawab, “Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatupun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka.” (36: 15)

Mereka berkata, “Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu.” (36: 16)

Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas. (36: 17)

Dalam membantah seruan para nabi, para pengingkar dan kaum kafir tidak punya argumentasi rasional, mereka hanya mengatakan, apa bedanya kami dengan kalian? Kalian manusia seperti juga kami, dan jika Tuhan ingin mengirim utusan untuk menghidayahi kami, seharusnya ia adalah seorang malaikat yang dekat dengan Tuhan, bukan manusia seperti kami. Dengan kata lain, orang-orang kafir sebenarnya ingin mengatakan bahwa mereka tidak mau tunduk pada seseorang yang sama dengan mereka, dan utusan Tuhan haruslah malaikat yang lebih unggul dan berbeda dengan manusia.

Padahal jika malaikat ditugaskan untuk menghidayahi umat manusia, orang-orang kafir itupun akan mengatakan, dia sendiri (malaikat) tidak menjalankan perintah Tuhan yang disampaikannya kepada manusia tentang makanan, minuman dan hubungan pria-wanita serta perintah lainnya, dan hanya memerintahkan kepada manusia.

Akan tetapi Allah Swt mengutus seorang manusia yang dari sisi materi dan kebutuhannya sebagai manusia sama dengan yang lain, untuk menghidayahi umat manusia. Selain itu, Allah Swt juga mewajibkan nabi sebagai orang pertama yang menjalankan perintah-Nya, sehingga masyarakat tidak mengira bahwa apa yang diperintahkan kepada mereka, adalah suatu hal yang tidak bisa dilaksanakan.

Jika orang-orang musyrik menerima keberadaan Tuhan, maka konsekuensi dari hikmah dan rahmat Tuhan adalah, Dia mengirim seseorang dari jenis manusia untuk menghidayahi umat manusia dan tidak membiarkan ciptaan-Nya begitu saja. Di sisi lain, orang-orang musyrik menyebut Tuhan sebagai ar-Rahman untuk menjelaskan bahwa Tuhan Yang Maha Asih tidak mempersulit manusia dan tidak memberikan perintah apapun kepada manusia, tapi membiarkannya begitu saja sehingga dapat melakukan apapun yang diinginkan.

Jawaban para nabi kepada para pengingkar adalah, Tuhan yang menciptakan kalian dan kalian yakini itu, tidak lain adalah Tuhan yang mengutus kami, dan kami tidak punya kewajiban apapun selain menyampaikan perintah Tuhan kepada kalian. Jika kami adalah pembohong, pasti Tuhan sudah menghinakan kami dan tidak membiarkan seorang pembohong menjadi utusan-Nya.

Dari tiga ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Sebagian manusia mengira bahwa rahmat Ilahi tidak bersyarat dan Ia membiarkan manusia begitu saja. Padahal dalam sistem keluarga saja, ayah dan ibu yang merupakan perwujudan rahmat terhadap anak-anaknya, tidak mungkin membiarkan mereka begitu saja. Ayah dan ibu mengirim anak-anaknya ke sekolah untuk belajar dan secara teratur mereka meminta anaknya mengerjakan tugas sekolah.

2. Para nabi hanya ingin menunaikan tugas memberikan pencerahan dan dakwah penyadaran, mereka tidak diwajibkan menjamin hasilnya. Meskipun banyak orang yang tidak beriman, namun para nabi tidak pernah lalai menjalankan tugas sepanjang masih diberi kesempatan hidup oleh Tuhan.

قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ (18) قَالُوا طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ أَئِنْ ذُكِّرْتُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ (19)

Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.” (36: 18)

Utusan-utusan itu berkata, “Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampui batas.” (36: 19)

Ayat ini menyinggung argumen yang digunakan orang musyrik dan menjelaskan, bukannya mendengarkan seruan para nabi dan ajaran kemanusiaan serta akhlaknya, mereka justru menjawab dengan bahasa meremehkan dan mengancam. Para pengingkar itu berkata, keberadaan kalian (nabi) di tengah masyarakat menjadi sebab kemalangan kami. Jika kalian tidak berhenti menyeru atau tidak keluar dari kota ini, maka kami akan menyiksa kalian dengan pedih atau membunuh kalian.

Dari dua ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:

1. Bantahan, pelecehan dan ancaman adalah logika kaum penentang dalam menjawab ajakan nabi kepada kebenaran.

2. Percaya pada takhayul seperti ramalan dan lainnya, adalah tradisi jahiliyah. Orang yang tidak berpikir rasional, kemungkinan besar akan mempercayai takhayul.

3. Kekufuran dan dosa, adalah sumber kemalangan manusia, meski secara lahir ia berada dalam kesejahteraan dan kenyamanan.

4. Israf tidak hanya dalam konsumsi, tapi dalam segala bentuk pembangkangan dan penolakan terhadap kebenaran, sehingga termasuk yang melampaui batas kemanusiaan.