Lintasan Sejarah 23 September 2018
-
23 September 2018
Hari ini, Ahad tanggal 23 September 2018 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 13 Muharam 1439 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 1 Mehr 1397 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari ini di tahun-tahun yang lampau.
Mulla Abdullah Shustari Meninggal
418 tahun yang lalu, tanggal 13 Muharram 1021 HQ, Mulla Abdullah Shustari, seorang ulama dan ahli fiqih termasyur di Iran, meninggal dunia.
Mulla Abdullah Shustari selama bertahun-tahun menuntut ilmu di Hauzah ilmiah di kota Najaf Irak. Selepas itu, beliau kembali ke Iran dan mengabdikan hidupnya di bidang pengajaran dan pendidikan.
Mulla Abdullah Shustari dikenal menjalani kehidupan yang zuhud atau sederhana, dan penuh ketakwaan. Selain itu, beliau amat aktif dalam membantu menyelesaikan berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat. Mulla Abdullah Shustari juga meninggalkan banyak karya penulisan berupa penjelasan atas kitab-kitab terkemuka.
Arthur Schopenhauer Meninggal Dunia
158 tahun yang lalu, tanggal 23 September 1860, Arthur Schopenhauer, seorang filosof Jerman, meninggal dunia.
Arthur Schopenhauer dilahirkan pada tahun 1788 dan saat beranjak dewasa, ia mempelajari filsafat secara mendalam. Schopenhauer dikenal sebagai pembaharu aliran filsafat Hegel dan Goethe. Ia dikenal juga sangat menyukai cara-cara berpikir Plato dan Kant.
Di antara karya tulisannya yang masih bisa kita baca adalah sebuah buku berjudul "Dunia adalah Kehendak dan Penampilan".
Kelahiran Imam Khomeini ra Menurut Penanggalan Iran
116 tahun yang lalu, tanggal 1 Mehr 1281 HS, Imam Khomeini ra lahir ke dunia menurut penanggalan Iran.
Ayatullah al-Udzma Imam Khomeini ra, Pendiri Republik Islam Iran lahir di kota Khomein pada 1 Mehr 1281 HS yang bertepatan dengan 20 Jumadil Tsani 1320 HQ bersamaan dengan kelahiran Sayidah Fathimah az-Zahra as. Ayah beliau syahid sejak masih kanak-kanak dan akhirnya beliau diasuh oleh ibu dan bibinya.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah hauzah, beliau kemudian belajar fiqih untuk tingkat mujtahid kepada Ayatullah Sheikh Abdulkareem Hairi Yazdi. Beliau mendapat perhatian khusus oleh gurunya.
Bersamaan dengan pendirian hauzah ilmiah Qom, Imam Khomeini ra berhijrah ke kota ini dan belajar kepada Ayatullah Sheikh Ali Akbar Yazdi dan Ayatullah Mohammad Ali Shah Abadi dalam ilmu astronomi, irfan dan filsafat. Imam Khomeini ra termasuk pribadi yang berperan mengajak Ayatullah al-Udzma Boroujerdi untuk pindah ke Qom dan mendukung sikap politik beliau.
Pasca meninggalnya Ayatullah Boroujerdi dan semakin meluasnya aksi-aksi anti Islam dari rezim Pahlevi, Imam Khomeini ra bangkit menentang rezim ini dan memulai gerakan kebangkitan rakyat.