Perkembangan Iptek di Iran dan Dunia (57)
-
perkembangan iptek Iran
Seorang ahli biologi Iran bersama dua orang dokter, setelah melakukan penelaahan dan penelitian selama 11 tahun, untuk pertama kalinya di dunia, berhasil menemukan antigen untuk mendiagnosa penyakit Sklerosis Multipel atau MS.
Para peneliti Iran memulai proyek ini sejak 11 tahun lalu dengan menelaah seluruh hasil penelitian dan makalah ilmiah yang ditulis terkait penyakit MS.
Selama tujuh tahun, para peneliti mengumpulkan hasil penelitian terkait penyakit MS yang dilakukan 100 tahun terakhir dan menelaahnya.
Metode diagnosa penyakit MS lewat antigen merupakan yang pertama kali di dunia dan para peneliti Iran berhasil untuk pertama kalinya mendiagnosa penyakit MS melalui darah.
Hasil ujicoba yang dilakukan menunjukkan bahwa pada 92 persen laki-laki dan 80 perempuan secara rata-rata di 85 persen kasus, penyakit MS bisa didiagnosa dengan antigen.
Prosesntase yang lebih kecil pada perempuan disebabkan siklus menstruasi mereka. Ujicoba metode ini pada binatang memberikan hasil yang sukses dan memuaskan, sekaligus membawa harapan yang besar tiga atau empat tahun mendatang penyakit ini dapat disembuhkan total pada manusia.
Para peneliti di Universitas Azad Sanandaj, Iran berhasil merancang dan membuat telepon genggam dan tongkat pintar untuk orang-orang tunanetra. 285 juta orang di dunia mengalami masalah penglihatan, 39 juta di antaranya buta total.
Oleh karena itu, para penemu Iran ini berusaha merancang sebuah gelang tangan yang bersambung ke telepon seluler. Gelang tangan tersebut adalah gelang tangan elektronik dan memainkan fungsi telepon seluler bagi orang-orang tunanetra.
Menurut keterangan para penemu, telepon seluler ini memiliki tombol-tombol kunci untuk menolak atau menerima panggilan telepon dan seorang tunanetra dapat mengirim pesan melalui tombol-tombol kunci dengan huruf braille yang ada di gelang tangan itu dan vibrasi-vibrasi tertentu.
Dengan tombol-tombol kunci yang ada pada gelang tangan, seorang tunanetra dapat mengakses menu-menu layanan dan fasilitas telepon seluler lainnya. Keyboard ini dibuat berdasarkan aturan huruf braille yang berlaku di seluruh dunia.
Selain itu gelang tangan ini dilengkapi dengan kemampuan memberikan peringatan dan getaran untuk terhubung dengan gadget-gadget lain, bisa disambungkan dengan handsfree, bisa mengakses kontak telepon, serta bisa menentukan getaran khusus dan personalisasi.
Tongkat pintar untuk para tunatetra yang dirancang oleh para peneliti Iran ini adalah jenis yang terpendek di dunia. Tongkat pintar ini memiliki kemampuan identifikasi dan kontrol hambatan hingga 5 cm di tempat-tempat padat pengunjung dan hingga 2 meter di ruangan terbuka.
Salah satu peneliti di Universitas Azad Eslami Iran dengan kerja sama peneliti dari Universitas Lille, Perancis berhasil menciptakan elektrode-elektrode yang mampu mendeteksi akumulasi protein-protein walaupun tingkat konsentrasinya rendah.
Setelah Alzheimer, Parkinson adalah penyakit degenaritif saraf yang paling banyak diderita di dunia. Parkinson merupakan jenis penyakit berbahaya dan terus mengalami pertumbuhan.
Akumulasi protein dan pembentukan Amyloid protein merupakan penyebab utama munculnya penyakit-penyakit yang banyak diderita manusia seperti diabetes, parkinson dan Alzheimer.
Oleh karena itu, dalam penelitian ini elektrode-elektrode yang dibuat mampu mengukur Lisozim dan mendeteksi akumulasi protein di jaringan tubuh.
Hasil penelitian menunjukkan, elektrode-elektrode yang sudah dimodifikasi memiliki kemampuan untuk mendeteksi akumulasi protein bahkan pada konsentrasi yang sangat rendah.
Penurunan biaya merancang elektrode karena penggunaan salah satu jenis nano berharga murah namun punya daya serap protein yang tinggi dan bisa digunakan lebih dari sekali setiap selesai pengukuran, merupakan kelebihan dari elektrode-elektrode ini.
Hasil penelitian itu dapat digunakan untuk mendiagnosa para penderita penyakit diabetes, parkinson dan Alzheimer, begitu juga berguna untuk mengembangkan dan membuat obat untuk menyembuhkan penyakit-penyakit tersebut. Hasil penelitian ini dimuat dalam jurnal ilmiah Electrochimica Acta.
Para peneliti di Universitas Harvard, Amerika untuk pertama kalinya berhasil menyembuhkan seorang yang tuli dari lahir dengan bantuan sebuah alat rekayasa genetik.
Tunarungu atau ketulian merupakan gangguan gen yang dialami banyak orang di dunia dan di sebagian kasus tidak dapat disembuhkan.
Akan tetapi sekarang para peneliti mengujicoba sebuah metode pengobatan baru yang sukses menyembuhkan ketulian pada tikus dan diharapkan bisa digunakan pada manusia.
Dalam penelitian ini para peneliti menggunakan metode Crispr/CAS-9. Pada kenyataannya pemulihan DNA terjadi pada sel-sel aktif.
Pada tikus yang tuli sejak lahir, gen berpengaruh terhadap ketulian dapat dimodifikasi dengan menggunakan metode ini.
Pada manusia munculnya kondisi serupa dapat menyebabkan seseorang kehilangan pendengarannya secara bertahap.
Para peneliti berharap dengan menggunakan metode pengobatan ini, orang-orang tunarungu sejak lahir dapat disembuhkan.[]