Mar 21, 2019 13:49 Asia/Jakarta
  • 21 Maret 2019
    21 Maret 2019

Hari ini, Kamis 21 Maret 2019 bertepatan dengan 14 Rajab 1440 Hijriah atau menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 1 Farvardin 1398 Hijriah Syamsiah. Berikut kami hadirkan beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi pada hari ini di masa lampau

Perang Pertama Muslimin dengan Musyrikin Mekah

 

1438 tahun yang lalu, tanggal 14 Rajab 2 HQ, kontak senjata pertama umat Islam setelah tinggal di Madinah dengan kaum Muslimin dipimpin oleh Abdullah bin Jahsy al-Asadi.

 

Dalam perang tersebut, kaum Musyrikin dipimpin oleh Umar bin al-Hadhrami tewas dalam pertempuran ini.

 

Perang ini dalam sejarah Islam disebut Sariyah Abdullah bin Jahsy.

 

Image Caption

 

 

Perubahan Bulan Hijriah Qamariah Menjadi Syamsiah

 

94 tahun yang lalu, tanggal 1 Farvardin 1304 HS, perubahan bulan Hijriah Qamariah menjadi Syamsiah di Iran.

 

Hijrah Nabi Muhammad Saw dari Mekah ke Madinah pada tahun 622 menjadi dasar tahun Hijriah Qamariah. Tahun dan bulan Hijriah Qamariah menjadi dasar penanggalan resmi di Iran hingga tahun 1344 HQ. Pada tahun itu yang bertepatan dengan 1304 tahun syamsiah dari hijrah Nabi Muhammad Saw, Iran mengubah penanggalannya dari Hijriah Qamariah menjadi Hijriah Syamsiah.

 

Sebelumnya, pemerintah Iran mengusulkan rancangan undang-undang kepada parlemen agar penanggalan Hijriah Syamsiah menjadi penanggalan resmi Iran. Pada 1 Farvardin 1304 (21 Maret 1925), parlemen Iran meratifikasi RUU tersebut menjadi UU. Sesuai dengan ratifikasi itu, seluruh kantor pemerintah berkewajiban untuk menggunakan bulan Syamsiah dalam aktivitasnya.

 

Namun sepuluh tahun kemudian, tepatnya tahun 1314 HS, Reza Shah Pahlevi yang menerapkan kebijakan memusuhi Islam, hanya menyusun bulan-bulan Syamsiah dan melarang penggunaan bulan-bulan Qamariah.

 

mata uang Rial

 

Iran Ubah Qiran ke Riyal Sebagai Mata Uang Resmi

 

87 tahun yang lalu, tanggal 1 Farvardin 1311 HS, Iran mengubah mata uang Qiran ke Riyal dan mata uang resmi.

 

Di Iran hingga tahun 1268 HS (1889 M) ketika Inggris mendirikan Bank Shahanshahi, mata uang yang dipakai berupa uang logam perak dan emas. Pada tahun itu, sesuai dengan perjanjian yang dilakukan, Bank Shahanshahi merupakan satu-satunya pihak yang berhak mencetak uang kertas dan menyebarkannya di seluruh Iran.

 

Setahun setelah pendirian Bank Shahanshahi, untuk pertama kalinya dicetak uang kertas baru dengan tanda singa dan matahari dengan gambar Naseruddin, Raja Qajar dengan menyertakan nilainya. Secara keseluruhan bank ini mencetak uang kertas di Iran selama 40 tahun, hingga pada 23 Ordibehesht 1309 HS hak percetakan uang kertas dicabut dari bank ini dan diberikan kepada Bank Melli Iran.

 

Akhirnya, dua tahun kemudian bersamaan dengan awal tahun 1311 HS, mata uang Iran yang semulanya Qiran digantikan Riyal. Sejak saat itu Bank Melli Iran mencetak dan menyebarkan uang riyal ke seluruh Iran dan menjadi alat tukar menukar resmi. Uang kertas pertama Bank Melli Iran yang dicetak dengan nilai nominal 5, 10, 20, 50, 100, 500 dan 1000 riyal.

 

Perang PLO Melawan Israel

 

51 tahun yang lalu, tanggal  21 Maret 1968, terjadi perang hebat antara para gerilyawan yang tergabung ke dalam Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dengan tentara Zionis Israel.

 

PLO adalah gerakan perjuangan bersenjata rakyat Palestina yang didirikan  tiga tahun sebelumnya, yaitu tahun 1965. Sistem organisasi yang rapi serta  isu merebut kemerdekaan dari tangan Israel, membuat organisasi ini dengan cepat memperoleh simpati para pemuda Palestina. Inilah yang membuat Tel Aviv sangat mengkhawatirkan organisasi ini.

 

Karena itu, pada tanggal tersebut, tentara Israel yang dilengkapi dengan peralatan perang yang canggih menyerang markas PLO yang saat itu berada di Kamp Pengungsi Karamah yang berada di perbatasan Jordania. Dalam perang itu, gerilyawan PLO berhasil menghabisi nyawa sekitar 1.230 tentara Zionis. Tank-tank baja milik tentara Zionis juga banyak yang dihancurkan atau direbut.

 

Peristiwa ini membuat PLO semakin poluler dan diperhitungkan di dunia. Akan tetapi, pada tahun 1991, pemimpin PLO Yaser Arafat memutuskan untuk mengubah haluan gerakan dari perjuangan militer menjadi perjuangan diplomatis. Arafat berharap perundingan-perundingan bisa menjadi cara terbaik guna memperoleh kembali hak-hak bangsa Palestina yang sudah dirampas. Hanya saja, harapan itu ternyata tinggal angan-angan.

 

Perubahan haluan perjuangan PLO tersebut malah semakin memberikan peluang bagi Zionis Israel untuk melakukan berbagai kesewenang-wenangan di tanah Palestina. Akibatnya, popularitas Arafat dan PLO semakin menurun.