Apr 10, 2019 04:51 Asia/Jakarta
  • Lintasan Sejarah 10 April 2019.
    Lintasan Sejarah 10 April 2019.

Abul Fadhl Al-Abbas Lahir

1413 tahun yang lalu, tanggal 4 Sya'ban 27 HQ, Abbas bin Ali yang lebih dikenal dengan nama Abul Fadhl, lahir ke dunia.

 

Beliau adalah putera Imam Ali as dari istri beliau, Ummul Banin. Abul Fadhl dibesarkan bersama saudara-saudaranya, yaitu Imam Hasan as dan Imam Husein as dalam didikan spiritual Imam Ali as.

 

Ketika Imam Hasan memegang tampuk imamah atau kepemimpinan atas umat Islam, Abul Fadhl termasuk pendamping Imam yang sangat setia. Kesetiaan kepada jalan suci Ahlul Bait dia tunjukkan pada peristiwa heroik pembantaian keluarga Rasulullah di Padang Karbala, yang berakhir dengan gugurnya Imam Husein as. Dalam peristiwa itu, Abul Fadhl al-Abbas termasuk di antara para syuhada Karbala dengan kondisi kaki dan tangan terpotong-potong.

 

Hari kelahiran beliau oleh bangsa Iran dijadikan sebagai Hari Cacat Perang Nasional, dan rakyat Iran serta seluruh pengikut Ahlul Bait sedunia selalu mengenang pengorbanan al-Abbas untuk kemudian  dijadikan teladan dalam pengorbanan demi kepentingan Islam dan kaum Muslimin.

Imam Khomaini ra.

Sikap Imam Khomeini Soal Ulama dan Politik

 

55 tahun yang lalu, tanggal 21 Farvardin 1343 HS, Imam Khomeini ra mengeluarkan sikap soal ulama dan politik.

 

Pasca pidato tanggal 13 Khordad 1342 HS dan penahanan beliau oleh rezim Shah Pahlevi dan terjadinya peristiwa kebangkitan 15 Khordad, Imam Khomeini ra harus menjalani penahanan hampir 10 bulan dan setelah itu beliau dibebaskan, namun rumah beliau mendapat pengawasan ketat pemerintah. Tapi reaksi keras rakyat soal blokade rumah beliau memaksa rezim Shah mengendorkan pengawasan ketat itu dan pada 18 Farvardin 1343, Imam Khomeini ra dibebaskan.

 

Pasca pembebasan Imam Khomeini ra, rezim Shah berusaha menunjukkan bahwa Imam dan rezim Pahlevi telah menemukan kesepahaman. Sekaitan dengan hal ini, surat kabar Ettelaat menulis, "Betapa indahnya ketika masyarakat ulama dan rakyat bersama-sama melaksanakan program revolusi Shah dan rakyat."

 

Ketika berita ini sampai kepada Imam Khomeini ra, beliau mereaksinya dengan keras. Oleh karenanya, hanya dalam tiga hari setelah pembebasannya, pada 21 Farvardin 1343 Hs, Imam menyampaikan pidatonya:

 

"Pada harian Ettelaat ditulis judul besar mengenai "persatuan suci" yang menyebutkan ada kesepahaman dengan para ulama dan mereka menyepakati Revolusi Putih Shah dan bangsa. Mereka berbicara tentang revolusi yang mana? Bangsa yang mana? Apakah revolusi ini ada kaitannya dengan ulama dan rakyat? Mereka yang ada di universitas, sampaikan kepada siapa saja bahwa ulama menolak revolusi ini. Bila Mereka menggantung Khomeini, tetap saja tidak akan ada kesepakatan!"

 

Pidato ini menyebabkan rezim Shah kebingungan dan akhirnya mengirim seorang utusan kepada Imam untuk menyampaikan maaf secara langsung. Langkah selanjutnya rezim Shah memperingatkan Imam untuk tidak ikut campur dalam masalah politik. Mereka berusaha menunjukkan politik itu isinya tipu muslihat dan kebohongan. Tapi Imam Khomeini membongkar kedok tagut dan mengingatkan pentingnya campur tangan ulama dalam masalah politik dan menyebut politik adalah agama.

Ilustrasi kejahatan rezim Zionis di bumi Palestina.

Tiga Tokoh Perjuangan Palestina Diteror Mossad

 

46 tahun yang lalu, tanggal 10 April tahun 1973, para petugas Badan Intelejen Rahasia Israel (Mossad) melakukan aksi teror atas tiga orang tokoh perjuangan Palestina, yaitu Kamal Nashir, Kamal ‘Udwan, dan Mohamad Yusuf Najjar.

 

Ketiganya menjadi sasaran teror Mossad saat berada di Beirut, Lebanon. Aksi teror terhadap para tokoh perjuangan Palestina yang sedang berada di luar negeri menjadi model Mossa dalam menekan perjuangan bangsa Palestina. 10 tahun berikutnya, pada tahun 1983, aksi yang sama dilakukan Mossad terhadap ‘Usham Sarthawi, penasehat politik Yasser Arafat.

 

Sarthawi dibunuh oleh agen-agen Mossad saat sedang melakukan lawatan ke Portugis. Meskipun tindakan ini jelas-jelas melanggar hukum internasional dan mendapatkan kecaman keras dari dunia Islam, akan tetapi Rezim Zionis tidak segan-segan melakukan tindakan-tindakan serupa di kemudian hari. Negara-negara Barat yang selalu mengklaim sebagai pendekar HAM serta penegak supremasi hukum, ternyata malah menunjukkan sikap apatisnya atau malah mendukung aksi-aksi rezim Zionis tersebut. (RM)