Apr 19, 2019 11:02 Asia/Jakarta
  • Lintasan Sejarah 19 April 2019.
    Lintasan Sejarah 19 April 2019.

Muhamad Khalidi Wafat

240 tahun yang lalu, tanggal 13 Sya'ban 1200 HQ, Husein bin Muhammad Shaleh Khalidi, seorang ulama terkemuka abad ke-13 Hijriah, meninggal dunia.

 

Muhammad Khalidi dilahirkan di Baitul Maqdis dan di kota itulah ia menuntut ilmu-ilmu yang berkembang pada zaman itu.

 

Selain dikenal sebagai ulama, Khalidi juga terkenal karena keahliannya dalam menulis indah dan menyusun syair dalam bahasa Arab.

 

K.H. Abdul Wahid Hasyim, Pahlawan Nasional Wafat

 

66 tahun yang lalu, tanggal 19 April 1953, K.H. Abdul Wahid Hasyim, Ketua Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), wafat dan jenazahnya dimakamkan di Tebuireng, Jombang.

 

K.H. Abdul Wahid Hasyim adalah pahlawan nasional Indonesia dan mantan Menteri Negara Kabinet Presidensial.

 

Tahun 1939 Nahdlatul Ulama (NU) menjadi anggota MIAI (Majelis Islam A la Indonesia) sebuah badan federasi partai dan organisasi islam di zaman pendudukan Belanda. Pada tanggal 24 Oktober 1943, Wahid Hasyim diangkat menjadi Ketua Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) menggantikan MIAI. Selaku pemimpin Masyumi, Wahid Hasyim merintis pembentukan Barisan Hizbullah yang membantu perjuangan umat Islam untuk mewujudkan kemerdekaan.

 

Selain aktif dalam gerakan politik, tahun 1944 ia mendirikan Sekolah Tinggi Islam di Jakarta. Menjelang kemerdekaan tahun 1945 ia menjadi anggota BPUPKI dan PPKI.

Jet-jet tempur Iran dalam sebuah latihan militer. (dok0

Sayid Said Vatan Pour Gugur Syahid

 

32 tahun yang lalu, tanggal 30 Farvardin 1366 HS, Sayid Said Vatan Pour gugur syahid ketika ikut dalam operasi yang digelar Batalion Karbala-10 dalam Perang Pertahanan Suci.

 

Syahid Sayid Said Vatan Pour dilahirkan di kota Isfahan, Iran bagian tengah. Sejak masa kanak-kanak, ia senantiasa berusaha untuk tidak meninggalkan shalat meski belum mencapai usia baligh. Kedua orang tuanya sengaja tidak membangunkan Syahid Vatan Pour untuk shalat subuh, akan tetapi dia mengiba kepada mereka agar dibangunkan di subuh hari. Setelah melihat kesungguhan hatinya, akhirnya mereka membangunkan Syahid Vatan Pour selama beberapa hari untuk shalat subuh, setelah itu dia selalu menunaikan shalat subuh tanpa perlu dibangunkan lagi.

 

Sejak usia remaja, Syahid Vatan Pour aktif melakukan amr makruf dan nahi munkar dengan tutur kata yang lembut. Dalam hal ibadah, dia menjadi teladan bagi saudara dan tetangganya. Di bidang pendidikan, Syahid Vatan Pour selalu meraih rangking pertama semenjak duduk di bangku Sekolah Dasar hingga SMA.