Lintasan Sejarah 20 April 2019
-
Lintasan Sejarah 20 April 2019.
Ibnu Yunus Meninggal Dunia
801 tahun yang lalu, tanggal 14 Sya'ban 639 HQ, Ibnu Yunus, ahli fiqih, kedokteran, dan matematika muslim abad ke-7, meninggal dunia.
Ibnu Yunus menimba ilmu-ilmu dasar dari ayahnya dan kemudian melanjutkan dengan belajar kepada ulama-ulama terkemuka pada zaman itu. Pada masa itu, Islam sedang berada dalam kegemilangan keilmuan dan peradabannya.
Setelah menyelesaikan pendidikannya, Ibnu Yunus mengajar pada sekolah-sekolah di Kairo dan menulis berbagai buku. Di antara karya-karya adalah buku berjudul "Asrarus-Salathiniyah".
Suwarsih, Penulis Indonesia Lahir
107 tahun yang lalu, tanggal 20 April 1912, Suwarsih dilahirkan di Cilandak Bogor.
Suwarsih adalah penulis yang mahir menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Belanda. Mengenyam pendidikan di Sekolah Kartini, MULO dan Europesche Kweekschool. Bekerja sebagai guru Perguruan Rakyat tahun 1931, Taman Siswa tahun 1932, Pasudan Istri tahun 1937, dan HIS tahun 1939.
Tahun 1945 sampai dengan 1950, ia menjadi anggota Komite Nasional pusat. Tahun 1946 sampai dengan 1947 menjadi wakil kepala Biro Perjuangan bagian wanita. Membantu majalah berbahas Belanda: Critiek en Opbouw, Het Inzicht dan orientatie.
Beberapa karyanya adalah Empat Serangkai, Artinah, Badju Merah, Kereta Api Malam dan lain-lain. Kala itu ceritanya menggambarkan emansipasi perempua yang masih jarang kala itu.
Agha Najafi Quchani Wafat
75 tahun yang lalu, tanggal 31 Farvardin 1323 HS, Agha Najafi Quchani, meninggal dunia di usia 67 tahun dan dikebumikan di Huseiniahnya di Quchan.
Sayid Mohammad Hassan bin Sayid Mohammad yang lebih dikenal dengan Agha Najafi Quchani lahir sekitar tahun 1256 Hs di desa Khosrouiyeh, kota Quchan di Provinsi Khorasan. Beliau menyelesaikan pendidikan dasar agamanya di Quchan, Sabzavar dan Mashad, kemudian pergi ke Isfahan di usia 20 tahun. Setelah tinggal selama empat tahun di Isfahan dan berguru pada Akhond Kashani, Mirza Jahangir Khan Qashqai, Sheikh Abdolkareem Gazi dan Sayid Mohammad Baqir Darcheh-i, beliau kemudian pindah ke Najaf. Di Najaf beliau berguru kepada Akhond Khorasani dan Syeikh al-Syariah Isfahani.
Agha Najafi Quchani mencapai derajat ijtihad di usia 30 tahun dan setelah tinggal dan belajar selama 20 tahun di Najaf, beliau kembali ke kampung halamannya. Beliau menghabiskan umurnya selama 25 tahun di Quchan untuk mendidik murid dan membimbing masyarakat serta mengelola hauzah ilmiah kota ini.
Beliau banyak meninggalkan karya seperti Siahat-e Gharb dar Kaifiat-e Alam Barzakh, Sair Arwah Pas az Marg dan Siahat-e Sharq yang merupakan karya paling penting beliau yang juga memuat biografinya dari kecil hingga mencapai derajat ijtihad.