May 17, 2019 14:23 Asia/Jakarta
  • Tanggal 17 Mei 2019.
    Tanggal 17 Mei 2019.

Ayatullah Muhammad Mahdi Khalishi Wafat 97 tahun yang lalu, tanggal 11 Ramadhan 1343 HQ, Ayatullah Muhammad Mahdi Khalishi meninggal dunia di usia 67 tahun.

Ayatullah Muhammad Mahdi Khalishi lahir pada 1276 HQ di desa Kazhimain, Irak. Beliau belajar kepada guru-guru besar hauzah seperti Mirza Habibullah Rasyti, Akhond Khorasani dan Mirza Shirazi di Kazhimain dan Najaf al-Asyraf, sehingga berhasil meraih derajat keilmuwan yang tinggi.

Ayatullah Khalishi tidak hanya sibuk dengan masalah keagamaan, tapi juga politik. Menurutnya, berpolitik merupakan bagian dari agama. Oleh karenanya, beliau menghabiskan umurnya bertahun-tahun dengan berjuang menentang kolonialisme, khususnya penjajah Inggris. Beliau punya peran penting dalam kebangkitan Irak pada 1920 M, bersama Ayatullah Shirazi dan berusaha keras untuk memerdekakan Irak dari tangan penjajah.

Selain berjuang, Ayatullah Khalishi juga meninggalkan karya ilmiah seperti Catatan Pinggi Alfiyah, Catatan Pinggir Kifayah al-Ushul, al-Qawa’id al-Fiqhiyah dan lain-lain.

Imam Khomeini ra Tinggal di Jamaran, Tehran

41 tahun yang lalu, tanggal 27 Ordibehesht 1359 HS, Imam Khomeini tinggal di Jamaran, Tehran.

Imam Khomeini ra setelah kemenangan Revolusi Islam Iran dan dimulainya akfititas kerja pemerintahan sementara, pada 10 Isfand 1357 HS beliau pindah dari Tehran ke Qom. Beliau tinggal di sana hingga diketahui menderita penyakit jantung pada 2 Bahman 1358 HS.

Setelah dirawat selama 39 hari di Rumah Sakit Jantung Tehran, untuk beberapa waktu beliau tinggal di kawasan Darban, Tehran. Setelah itu pada tanggal 27 Ordibehesht 1359 HS beliau pindah ke sebuah rumah sederhana di kawasan Jamaran. Beliau tinggal di rumah itu sampai ajal menjemputnya.

 

Buku Putih Palestina Diterbitkan

80 tahun yang lalu, tanggal 17 Mei 1939, pemerintah Inggris menerbitkan sebuah buku berjudul Buku Putih yang merupakan salah satu langkah persiapan didirikannya negara Zionis.

Dalam buku ini disebutkan rencana pembentukan negara Palestina yang independen dengan dua kewarganegaraan, yaitu muslim dan yahudi. Selain itu, buku ini juga memprediksikan bahwa hingga tahun 1944, seratus ribu warga Yahudi akan hijrah ke Palestina dan sejak saat itu, kedatangan Yahudi harus mendapatkan persetujuan dari bangsa Arab.

Bangsa Palestina menolak rencana yang tertuang dalam buku tersebut, begitu pula kaum Zionis. Pada tahun 1942, dalam konferensi di AS, kaum Zionis secara resmi merencanakan pendirian negara Zionis di atas tanah milik bangsa Palestina.