Lintasan Sejarah 15 Agustus 2019
-
Lintasan Sejarah 15 Agustus 2019.
Perjanjian Aqabah Kedua Ditandatangani
1441 tahun yang lalu, tanggal 13 Dzulhijjah setahun sebelum Hijrah, Rasulullah Saw menjalin perjanjian Aqabah Kedua dengan penduduk kota Yatsrib yang kelak berubah nama menjadi Madinatun-Nabi atau Kota Nabi.
Perjanjian ini dibuat dalam rangka menengahi perselisihan antara dua kabilah di Yatsrib, yaitu Aus dan Khazraj.
Kedua kabilah itu telah melewati peperangan yang panjang dan karenanya, mereka mencari seseorang yang bisa dipercaya untuk menciptakan perdamaian dan ketenangan di antara mereka. Sementara itu, beberapa penduduk Yatsrib telah masuk Islam dan mereka memberitahukan kaumnya tentang keunggulan dan kemuliaan akhlak Rasulullah.
Oleh karena itu, penduduk Yatsrib mengirimkan delegasi untuk menemui Rasulullah dan meminta beliau agar datang ke Yatsrib demi menciptakan perdamaian di sana. Atas bimbingan dan petunjuk Rasulullah, warga Yatsrib pun akhirnya bersedia menandatangani Perjanjian Aqabah, yang selain berisi perjanjian damai di antara kedua kabilah, juga perjanjian untuk membela Rasulullah.
Allamah Mirza Naini Wafat
83 tahun yang lalu, tanggal 24 Mordad 1315 HS, Allamah Mirza Naini meninggal dunia di usia 80 tahun dan dikuburkan di komplek makam suci Imam Ali as.
Haj Mirza Muhammad Husein Naini Najafi yang lebih dikenal dengan sebutan Mirza Naini, seorang faqih, marji taklid dan sastrawan lahir di kota Nain, Iran pada 1239 HS. Di Isfahan beliau belajar ilmu-ilmu agama kepada Mirza Mohammad Baqir Najafi, Hakim Jangair Khan Qashqai dan Abul Maali Kalbasi. Setelah itu beliau pergi ke Irak. Di Samarra beliau belajar kepada Mirza Bozourg Shirazi dan Sayid Mohammad Fesharaki. Dari Samarra beliau pindah ke Karbala dan belajar kepada Sayid Ismail Sadr dan pindah lagi ke Najaf. Di kota ini, selama bertahun-tahun beliau belajar kepada Akhond Khorasani.
Mirza Naini akhirnya menjadi guru besar di hauzah ilmiah Najaf. Mereka yang mengikuti kuliahnya seperti Ayatullah Sayid Muhsin al-Hakim, Sayid Mahmoud Huseini Shahroudi, Sayid Jamaluddin Golpaigani, Sayid Mohammad Hojjat Kouh Kamareh-i, Sayid Mohammad Hadi Milani, Sheikh Mohammat Taqi Amoli, Sayid Abul Qasim Khu'i, Allamah Thaba'thabai, Mirza Hashem Amoli dan puluhan ulama besar lainnya.
Di masa Mirza Naini, terjadi revolusi rakyat dengan dipimpin ulama di Iran untuk mencegah meluasnya penindasan dan upaya meraih kemandirian yang dikenal dengan Revolusi Konstitusi. Sekaitan dengan hal ini, Mirza Naini bersama Akhond Khorasani memainkan peran penting dalam revolusi ini. Di tengah-tengah revolusi ini, Mirza Naini menulis karya monumentalnya Tanbih al-Ummah yang membahas berbagai bentuk pemerintahan despotik dan kewajiban para ulama dalam menghadapi pemerintahan seperti ini. Buku ini meningkatkan perasaan anti-despotisme di tengah rakyat Iran dan amat berperan dalam menggalang Revolusi Konstitusional Iran pada periode Dinasti Qajar.
Ketika Inggris menjajah Irak, Mirza Naini mengharamkan rakyat memilih pemimpin kafir di negara Irak yang menyebabkan rakyat bangkit melawan penjajah. Melihat kondisi semacam ini, penjajah Irak mempersiapkan rencana untuk mengasingkan para marji Syiah seperti Mirza Naini dan Sayid Abolhossein Isfahani dan beberapa orang lainnya ke Iran. Namun tekanan rakyat dan ulama membuat pemerintah Irak mengurungkan niatnya dan raja Irak waktu itu meminta maaf dan mengembalikan ulama yang diasingkan itu ke Irak secara terhormat.
Rezim Zionis Mundur dari Jalur Gaza
14 tahun yang lalu, tanggal 15 Augustus tahun 2005, Rezim Zionis Israel terpaksa mundur dari Jalur Gaza di wilayah barat Palestina pendudukan.
Kawasan ini diduduki Israel saat pecahnya perang Arab pada tahun 1967. Israel tetap menolak meninggalkan Jalur Gaza meski telah menandatangani perjanjian damai dengan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) pada tahun 1993 yang menuntut penyerahan wilayah tersebut kepada pemerintahan Otorita Palestina.
Akhirnya kebangkitan rakyat Palestina dan Intifada Masjid al-Aqsa yang dipusatkan di Gaza telah memaksa tentera Israel dan warga permukiman Zionis keluar dari Jalur Gaza. Meski demikian, Israel masih terus melanjutkan agresi brutal dan pembantaian sadis terhadap warga Palestina di Jalur Gaza.