Lintasan Sejarah 3 April 2016
Hari ini, Ahad tanggal 3 April 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 24 Jumadil Tsani 1437 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 15 Farvardin 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.
Ahmad bin Ali Baihaqi Sabzewari Wafat
893 tahun yang lalu, tanggal 24 Jumadil Tsani tahun 544 Hq, Ahmad bin Ali Baihaqi Sabzewari, seorang ilmuwan muslim meninggal dunia. Dia adalah ilmuwan bidang nahwu dan bahasa yang terkemuka di zamannya. Dia juga menulis tafsir al-Quran dan mampu membaca al-Quran dengan indah.
Ahmad bin Ali Baihaqi Sabzewari meninggalkan banyak karya tulis yang umumnya mengenai al-Quran.
Abu Zakaria Wafat
821 tahun yang lalu, tanggal 24 Jumadil Tsani tahun 616 Hq, Yahya bin Qasim Tsa'labi yang terkenal dengan nama Abu Zakaria, seorang sastrawan dan penyair Arab terkenal, meninggal dunia. Selain menguasai bidang sastra, dia juga merupakan ulama di bidang fiqih, agama, dan tafsir Quran.
Sri Sultan Hamengkubuwono IV Lahir
212 tahun yang lalu, tanggal 3 April 1804, Sri Sultan Hamengkubuwono IV dilahirkan.
Ia adalah raja Kesultanan Yogyakarta yang memerintah pada tahun 1814 - 1822. Nama aslinya adalah Raden Mas Ibnu Jarot, putra Hamengkubuwana III yang lahir dari permaisuri tanggal 3 April 1804. Ia naik takhta menggantikan ayahnya pada usia sepuluh tahun, yaitu tahun 1814. Karena usianya masih sangat muda, Paku Alam I ditunjuk sebagai wali pemerintahannya.
Pada pemerintahan Hamengkubuwono IV, kekuasaan Patih Danurejo IV semakin merajalela. Ia menempatkan saudara-saudaranya menduduki jabatan-jabatan penting di keraton. Keluarga Danurejan ini terkenal tunduk pada Belanda. Mereka juga mendukung pelaksanaan sistem Sewa Tanah untuk swasta, yang hasilnya justru merugikan rakyat kecil.
Pada tanggal 20 Januari 1820 Paku Alam I meletakkan jabatan sebagai wali raja. Pemerintahan mandiri Hamengkubuwono IV itu hanya berjalan dua tahun karena ia tiba-tiba meninggal dunia pada tanggal 6 Desember 1822 saat sedang bertamasya. Oleh karena itu, Hamengkubuwono IV pun mendapat gelar anumerta Sultan Seda ing Pesiyar.
Parvin Etesami, Penyair Kontemporer Iran Wafat
75 tahun yang lalu, tanggal 15 Farvardin 1320 Hs, Parvin Etesami, penyair kontemporer Iran meninggal dunia dalam usia 35 tahun. Jasadnya dikebumikan di samping kuburan ayahnya di komplek makam suci Sayidah Fathimah Maksumah as di kota Qom.
Parvin Etesami adalah anak dari Etesam al-Molk Ashtiyani. Ia dilahirkan pada 25 Isfand 1285 Hs di kota Tabriz. Sejak usia 5 tahun, ia bersama keluarga pindah ke Tehran.
Tata bahasa Persia dan Arab dipelajarinya dari ayahnya dan sejak kecil bakat kepenyairannya telah muncul. Di masa mudanya, ia mengajar sastra Persia dan Inggris dan pada 1313 Hs ia bercerai dengan suaminya. Sejak saat itu, Parvin semakin serius membuat puisi dan berhasil mencetak buku kumpulan syairny apada 1314 Hs.
Parvin dalam karya-karyanya tidak pernah membicarakan masalah percintaan, tapi banyak melakukan dialog dalam puisinya. Ia sering mengajak masyarakat untuk lebih menyayangi sesama. Dari sisi makna dan pemikiran, puisi Parvin sangat dalam. Ia termasuk salah satu penyair yang berpesan agar memahat bait-bait syair khusus sepeninggalnya di nisannya.
Baghdad Dikuasai Pasukan Rasyid Gilani
75 tahun yang lalu, tanggal 3 April tahun 1941, kelompok nasionalis Irak di bawah pimpinan Rasyid ‘Ali Gilani berhasil menguasai kota Baghdad.
Kelompok Gilani berhasil menduduki Baghdad karena mendapatkan dukungan dari Jerman. Saat itu, Inggris yang menganggap Irak sebagai bagian dari kawasan koloninya melakukan serbuan ke Baghdad untuk mengusir Gilani dari kota itu.Lambatnya bantuan dari pihak Jerman membuat Gilani terusir dari Baghdad.
Sejak saat itu, Inggris memberlakukan pengawasan ketat atas Irak. Saat Perang Dunia Kedua meletus, Irak dimasukkan oleh Inggris sebagai kawasan yang mendukung pasukan sekutu.
Ahmad Aram, Penerjemah Kontemporer Iran Wafat
18 tahun yang lalu, tanggal 15 Farvardin 1377 Hs, Ahmad Aram, penerjemah kontemporer Iran meninggal dunia di usia 94 tahun dan dikebumikan di pekuburan Behesht-e Zahra, Tehran.
Profesor Ahmad Aram, penerjemah kontemporer Iran lahir di Tehran pada 1 Farvardin 1283 Hs (21 Maret 1904) di keluarga agamis. Setelah menyelesaikan pendidikan awal dan menengah, ia melanjutkan pendidikannya di Madrasah Teb, namun tidak selesai. Sekalipun demikian Ahmad Arab bersama dua temannya menulis buku pelajaran fisika dan kimia yang membuat namanya terkenal.
Di samping aktivitasnya menulis buku-buku pelajaran, Ahmad Aram belajar ilmu logika, Fiqih dan sastra Arab dan dengan semangat yang tinggi ia berhasil menguasai bahasa Arab, Inggris dan Perancis. Ia kemudian menjadi anggota Farhangestan atau Akademi Bahasa dan Sastra Persia.
Beliau banyak menerjemahkan karya-karya bahasa asing ke dalam bahasa Persia, setidaknya tercatat ada 70 karya terjemah dan menulis sekitar 50 buah buku. Beliau menerjemahkan buku al-Hayat dalam 3 jilid, Ilm va Tamaddun dar Eslam, Seh Hakim Mosalman, Rouh Mellat-ha dan menulis buku Naghsheh Aseman, Hedieh Sal Nov dan lain-lainnya.