Lintasan Sejarah 29 Agustus 2019
-
Lintasan Sejarah 29 Agustus 2019.
Marwan Himar Wafat dan Punahnya Bani Umayah
1308 tahun yang lalu, tanggal 27 Dzuhijjah 132 HQ, Marwan Himar meninggal dunia dan punahnya Bani Umayah.
Pada awalnya ajakan Bani Abbasiah bangkit melawan Bani Umayah dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Demi meraih dukungan Muslimin, mereka berjanji bila berhasil menang dan menghancurkan Bani Umayah, mereka akan memilih satu dari keturunan Nabi Muhammad Saw sebagai khalifah.
Janji yang disampaikan Bani Abbasiah itu membuat masyarakat mendukungnya karena kecintaan kepada Ahli Bait. Mereka akhirnya membantu Abu Muslim Khurasani bangkit menentang Bani Umayah dan perjuangan Bani Abbasiah menjadi lebih serius dan luas. Akhirnya terjadi perang antara Abdullah bin Ali, paman Saffah dan Marwan Himar, khalifah terakhir Bani Umayah.
Dalam perang itu Marwan Himar terbunuh pada 27 Dzulhijjah 132 HQ dan dengan demikian berakhirlah pemerintahan tidak sah Bani Umayah. Setelah itu yang berkuasa atas Muslimin berasal dari silsilah keluarga lain, Bani Abbasiah yang tidak kalah zalimnya dari Bani Umayah.
Bani Abbasiah berkuasa selama lebih dari 5 abad.
Ayatullah Marashi Najafi Wafat
29 tahun yang lalu, tanggal 7 Shahrivar 1369 HS, Ayatullah Marashi Najafi meninggal dunia di usia 96 tahun dan dikuburkan di jalan masuk perpustakaan yang dibangunnya.
Ayatullah Sayid Shihab ad-Din bin Sayid Mahmoud bin Sayid al-Hukama Tabrizi Marashi Najafi lahir di kota suci Najaf, Irak pada 1276 HS. Ayahnya adalah seorang ahli hukum dihormati yang mengajar di hauzah Najaf, dan itu di bawah bimbingan ayahnya, beliau mulai pendidikan agamanya. Dia kemudian pergi ke Samarra dan Kazhimiah untuk pendidikan tinggi.
Setelah itu beliau pindah ke Mashad, sehingga akhirnya beliau memutuskan untuk pindah ke kota Qom dan menyelesaikan pendidikan agama tingkat mujtahid di bawah bimbingan Ayatullah Sheikh Abdolkareem Hairi Yazdi. Selain teologi dan fiqih, beliau juga belajar matematika, astronomi, dan obat-obatan dari berbagai macam ahli.
Di Qom, beliau menjadi ulama terkemuka dan mulai memberikan kuliah-kuliah agama dan diakui sebagai marji dari sejumlah ulama besar lainnya. Beliau mengabdikan usianya selama 70 tahun untuk mengajar dan mendidik ulama besar lainnya seperti Syahid Murtadha Muthahhari, Ayatullah Ibrahim Amini, Sheikh Hossein Mazhahiri, Sayid Ali Qazi Thathabai, dan Sayid Murtadha Askari.
Beliau juga meninggalkan sebuah perpustakaan besar di kota Qom yang memiliki khazanah kitab yang cukup besar. Perpustakaan ini termasuk ketiga terbesar di Dunia Islam dan saat ini memiliki sekitar 250 ribu kitab dan 2500 manuskrip.
Terkait alasan beliau mengumpulkan kitab dan pendirian perpustakaan tersebut, Ayatullah Marashi mengatakan, "Aku melintasi pasar di kota Najaf dan menyaksikan para santri kerap memasuki sebuah toko buku. Kemudian aku bertanya, apa sebenarnya yang tengah terjadi. Mereka mengatakan, ulama yang telah meninggal dunia, karya-karyanya diobral di toko ini. Aku masuk ke toko tersebut dan aku saksikan sekelompok orang berkumpul serta terdapat seseorang yang menjajakan buku dengan cara diobral. Kemudian orang-orang di sekitarnya mulai menawar harga, dari mulai yang terendah hingga tertinggi. Siapa yang mampu menawar dengan harga tertinggi maka ia akan memiliki buku tersebut.
Di majlis tersebut, terdapat seorang Arab yang duduk di pojok, di tangannya tergenggam kantong uang dan ia yang senantiasa memberikan tawaran tertinggi dan tidak memberi kesempatan kepada orang lain untuk membeli kitab. Kemudian aku menyadari bahwa orang tersebut bernama Kazim dan orang suruhan konsulat Inggris di Baghdad. Selama sepekan Kazim sibuk membeli buku dan di hari Jumat ia mengangkut buku tersebut ke Baghdad dan menyerahkannya ke Inggris.
Setelah menyaksikan peristiwa tersebut, Ayatullah Marashi berusaha mencegah dibawa kaburnya buku dan kitab karya ulama Islam ke Barat, khususnya yang masih berbentuk manuskrip. Oleh karena itu, selanjutnya Ayatullah Marashi bertekad untuk mengumpulkan kitab dan mendirikan perpustakaan. Beliau rela bekerja keras usai mengajar dan belajar serta menerima shalat dan puasa ijarah demi melaksanakan cita-citanya tersebut. Pengorbanan beliau tidak hanya sampai di sini, ulama besar ini pun rela mengurangi jatah makanannya hanya untuk membeli buku.
Selain itu, mengingat penghasilannya yang tidak mencukupi kehidupan beliau, Ayatullah Marashi tidak sempat menunaikan ibadah haji selama hidupnya. Namun demikian beliau berhasil menulis 148 kitab dan makalah ilmiah selama hidupnya.
Katrina Melanda Tiga Negara Bagian Amerika Selatan
14 tahun yang lalu, tanggal 29 Agustus 2005, badai topan Katrina melanda pesisir tiga negara bagian di Amerika Selatan yang terletak di Teluk Meksiko.
Rakyat di tiga negara bagian ini menjadi korban badai topan yang merupakan topan terburuk dalam satu dekade lalu. Kota New Orleans ibu kota Lousiana tenggelam dalam air. Lebih dari seribu orang tewas dan ratusan lainnya menjadi pengungsi.
Satu hal yang akan senantiasa dicatat oleh sejarah dalam bencana ini ialah sikap pemerintah Amerika yang lambat dalam memberi bantuan kepada korban. Reaksi terhadap foto-foto tragis dan memilukan para korban di kota New Orleans memberikan tamparan hebat terhadap pemerintah Gedung Putih. Pemerintah Presiden Bush pun dihadapkan dengan skandal besar dan untuk menekan kritikan publik, dia pun terpaksa menyingkirkan sejumlah pejabat tinggi AS.