Lintasan Sejarah 10 April 2016
Hari ini, Ahad tanggal 10 April 2016 yang bertepatan dengan penanggalan Islam 2 Rajab 1437 Hijriah Qamariah. Sementara menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 22 Farvardin 1395 Hijriah Syamsiah. Berikut ini peristiwa bersejarah yang terjadi di hari di tahun-tahun yang lampau.
Ibnu Rumi Lahir
1216 tahun yang lalu, tanggal 2 Rajab tahun 221 Hq, Ibnu Rumi, penyair terkenal Arab terlahir di dunia di kota Baghdad. Sejak kecil dia menimba ilmu dari ayahnya dan dari ulama-ulama terkemuka pada masa itu. Ibnu Rumi sejak muda telah menguasai ilmu sastra dan telah menciptakan syair-syair yang indah.
Ibnu Rumi dianggap sebagai penyair khusus Imam Hasan Askari as, salah satu keturunan Rasulullah Saw, karena banyak menciptakan syair yang memuji beliau. Rumi meninggal tahun 283 Hijriah.
Abu Raihan Biruni Wafat
997 tahun yang lalu, tanggal 2 Rajab 440 HQ, Abu Raihan Biruni, ilmuwan terkemuka Iran meninggal dunia di kota Gazneh Afganistan.
Abu Raihan Biruni sejak muda telah tertarik pada ilmu matematika dan ilmu alam dan dalam waktu singkat dia mampu menjadi ilmuwan besar di bidang itu. Biruni juga menguasai bidang sejarah, geografi, kedokteran, obat-obatan, perbintangan, filsafat, dan berbagai bahasa, di antaranya Arab, Yunani, dan Sansekerta.
Abu Raihan Biruni adalah penemu fenomena rotasi bumi dan dia berhasil menghitung bahwa setiap hari bumi berotasi dan dalam setahun bumi berputar mengelilingi matahari.
Tiga Tokoh Perjuangan Palestina Diteror Mossad
43 tahun yang lalu, tanggal 10 April tahun 1973, para petugas Badan Intelejen Rahasia Israel (Mossad) melakukan aksi teror atas tiga orang tokoh perjuangan Palestina, yaitu Kamal Nashir, Kamal ‘Udwan, dan Mohamad Yusuf Najjar.
Ketiganya menjadi sasaran teror Mossad saat berada di Beirut, Lebanon. Aksi teror terhadap para tokoh perjuangan Palestina yang sedang berada di luar negeri menjadi model Mossa dalam menekan perjuangan bangsa Palestina. 10 tahun berikutnya, pada tahun 1983, aksi yang sama dilakukan Mossad terhadap ‘Usham Sarthawi, penasehat politik Yasser Arafat.
Sarthawi dibunuh oleh agen-agen Mossad saat sedang melakukan lawatan ke Portugis. Meskipun tindakan ini jelas-jelas melanggar hukum internasional dan mendapatkan kecaman keras dari dunia Islam, akan tetapi Rezim Zionis tidak segan-segan melakukan tindakan-tindakan serupa di kemudian hari. Negara-negara Barat yang selalu mengklaim sebagai pendekar HAM serta penegak supremasi hukum, ternyata malah menunjukkan sikap apatisnya atau malah mendukung aksi-aksi rezim Zionis tersebut.
Upaya Kudeta Anti Revolusi Islam Iran Terungkap
34 tahun yang lalu, tanggal 22 Farvardin 1361 Hs terungkap kudeta anasir anti revolusi untuk menggulingkan Republik Islam Iran.
Pasca kemenangan revolusi Islam Iran yang dipimpin oleh Imam Khomeini ra, para anasir anti revolusi dalam negeri dengan bimbingan dan dukungan musuh-musuh pemerintahan Islam, berkali-kali telah melakukan konspirasi untuk menggulingkan pemerintahan ini. Di antaranya adalah dengan menyusun kudeta tahun 1361 Hs.
Rencana kudeta ini dengan membunuh para pejabat level awal pemerintah kemudian pura-pura melakukan balas dendam menuntut pertumpahan darah mereka dengan bantuan kekuatan asing. Selain itu menghancurkan lembaga dan lambang revolusi dan kemudian berusaha menguasai pemerintahan Republik Islam.
Pada saat itu pasukan Republik Islam Iran yang siap mati di hari itu mendapatkan informasi bahwa gerakan konspirasi ini bertujuan menggulingkan Republik Islam. Dengan mengumpulkan data yang cukup antara lain kaset percakapan para pemimpin konspirasi dan mengenali jaringan kudeta secara lengkap, pada kesempatan yang tepat mereka menangkap para anggota asli dan berpengaruh operasi ini.
Vonis Konspiratif Pengadilan Lokal Jerman
19 tahun yang lalu, tTanggal 22 Farvardin 1376 Hs (10 April 1997), sebuah pengadilan lokal di Jerman mengeluarkan vonis bahwa para pejabat tinggi Republik Islam Iran terlibat dalam pembunuhan terhadap salah seorang tokoh oposisi Iran yang mendapatkan suaka politik dari pemerintah Jerman.
Besok harinya, menyusul vonis tersebut, negara-negara yang tergabung ke dalam Uni Eropa secara serentak memanggil pulang para duta besarnya dari Tehran ke negara masing-masing. Sebagai tindakan balasan, Iran juga memanggil para duta besarnya yang berada di negara-negara anggota Uni Eropa.
Hubungan diplomatik Iran dan negara-negara Eropa menjadi agak renggang. Tehran sendiri membantah vonis pengadilan lokal Jerman yang dikeluarkan tanpa disertai bukti-bukti kuat tersebut. Perkembangan berikutnya menunjukkan secara jelas bahwa vonis pengadilan lokal Jerman itu merupakan hasil konspirasi Israel dan AS.
Karena itu, Iran sejak awal meyakini bahwa tindakan negara-negara Eropa itu tidak akan berkepanjangan. Setelah sepuluh bulan berlalu dari vonis tersebut, perkembangan proses hukum atas vonis pengadilan lokal Jerman menunjukkan bahwa vonis tersebut sangat dipaksakan dan bukti-buktinya semakin kabur dan bias. Karena itu, negara-negara Eropa akhirnya mengirimkan lagi para duta besarnya ke Teheran secara diam-diam.