Sep 08, 2019 04:47 Asia/Jakarta
  • Lintasan Sejarah 8 September 2019.
    Lintasan Sejarah 8 September 2019.

Dialog Imam Husein as dengan Umar bin Saad

1380 tahun yang lalu, tanggal 8 Muharram 61 HQ, rasa kehausan di kemah-kemah makin lama terasa semakin mencekik.

 

Imam Husein as memerintah saudaranya, Abbas, bersama beberapa orang untuk bergerak ke sungai Furat di malam hari. Dengan rencana yang matang, mereka berhasil mematahkan dan menerobos barisan musuh dan kembali ke kemah dengan kantong-kantong penuh air.

 

Pertemuan Imam Husein as dengan Umar bin Saad

 

1380 tahun yang lalu, tanggal 8 Muharam 61 HQ, Imam Husein as melakukan pertemuan dengan Umar bin Saad.

 

Imam Husein berkata, "Wahai anak Saad! Apakah engkau datang menemuiku dan tidak memiliki keluhan pada-Nya?"

 

Ibnu Saad mengatakan, "Jika aku memisahkan diri dari kelompok ini, maka rumahku akan rusak, kekayaanku akan dirampas, dan aku mengkhawatirkan anggota keluargaku dari kemarahan Ibnu Ziyad."

 

Imam Husein berkata, "Bagaimana dengan dirimu sendiri? Allah akan segera mengambil jiwamu dan engkau tidak akan terampuni di Hari Kiamat ... Apakah engkau mengira akan sampai pada pemerintahan Rey dan Gorgan? Demi Allah! Tidaklah demikian, karena engkau tidak akan pernah sampai pada keinginanmu."

 

Ubaidillah dalam surat selanjutnya mengancam Umar bin Saad bahwa ia akan memecatnya dari tugasnya seraya berkata, "Jika engkau mempermainkan dan tidak mentaati perintahku, maka aku akan menyerahkan tanggung jawab pasukan ini pada Syimr bin Dzil Jausyan."

 

Penggalan dari pidato Imam Husein as kepada para sahabatnya, "Wahai para keturunan besar dan agung! Bersabarlah, karena kematian hanyalah sebuah jembatan tempat kalian akan melewati segala kesulitan dan penderitaan dan mengantarkan kalian ke surga yang luas dengan segala nikmatnya yang kekal."

Pakta SEATO Diteken di Manila

 

65 tahun yang lalu, tanggal 8 September 1954, sebuah pakta pertahanan bernama SEATO yang merupakan perjanjian keamanan Asia Tenggara ditandatangani di kota Manila, Filipina.

 

Pakta ini ditandatangani oleh AS, Inggris, Australia, Pakistan, Thailand, Perancis, Selandia Baru, dan Philipina. Berdasarkan perjanjian SEATO ini, para anggota perjanjian akan memberikan bantuan militer kepada negara anggota lainnya yang diserang oleh pihak luar.

 

Pada tahun 1975, SEATO dibubarkan setelah terjadinya perubahan besar di kawasan Asia Tenggara, khususnya yang terkait dengan kekalahan AS dalam perang Vietnam.

Perayaan kemenangan Revolusi Islam Iran di Bundaran Azadi kota Tehran.

Jumat Berdarah dan Pembantaian di Bundaran Shohada Tehran

 

41 tahun yang lalu, tanggal 17 Shahrivar 1357 HS, Jumat pagi Jenderal Gholamali Oveisi, Panglima Militer Tehran mengumumkan kondisi darurat militer kepada warga Tehran dan sekitarnya lewat radio.

 

Masyarakat yang tidak mendapat informasi tentang kondisi darurat militer ini, sejak jam 6 pagi turun ke jalan-jalan untuk melakukan demonstrasi di hari keempat berturut-turut. Tempat berkumpulnya para demonstran adalah Bundaran Zaleh (sekarang bernama Bundaran Shohada).

 

Ketika warga tiba di jalan-jalan yang menuju tempat berkumpul, tiba-tiba mereka menyaksikan tank dan kendaraan lapis baja lainnya disertai tentara yang bersenjatakan senapan otomatis telah menanti mereka. Para demonstran benar-benar tidak siap dengan keadaan ini. Sementara tentara yang ada di sana setelah mengeluarkan beberapa kali peringatan langsung menembaki warga.

 

Jenazah terlihat di mana-mana di sekitar Bundaran Shohada dan darah tergenang di sisi jalan. Pada hari itu, kaki tangan Shah Pahlevi tidak membiarkan para demonstran berhamburan meninggalkan tempat berkumpul, tapi mengejar mereka hingga ke rumah-rumah warga yang berada di sekitar peristiwa pembantaian itu. Rezim Shah mengumumkan bahwa jumlah seluruh syuhada sekitar 58 orang dan aksi demonstrasi ini dikendalikan dari luar negeri. Sekalipun jumlah pasti dari korban pembantaian Jumat Kelabu ini tidak pernah jelas hingga sekarang, tapi dapat dipastikan jumlah korban lebih dari 4 ribu orang.

 

Sejak peristiwa itu, tanggal 17 Shahrivar diperingati sebagai Hari Jumat Berdarah Tehran.