Lintasan Sejarah 13 September 2019
-
Lintasan Sejarah 13 September 2019.
Mulla Abdullah Shustari Meninggal
420 tahun yang lalu, tanggal 13 Muharram 1021 HQ, Mulla Abdullah Shustari, seorang ulama dan ahli fiqih termasyur di Iran, meninggal dunia.
Mulla Abdullah Shustari selama bertahun-tahun menuntut ilmu di Hauzah ilmiah di kota Najaf Irak. Selepas itu, beliau kembali ke Iran dan mengabdikan hidupnya di bidang pengajaran dan pendidikan.
Mulla Abdullah Shustari dikenal menjalani kehidupan yang zuhud atau sederhana, dan penuh ketakwaan. Selain itu, beliau amat aktif dalam membantu menyelesaikan berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat. Mulla Abdullah Shustari juga meninggalkan banyak karya penulisan berupa penjelasan atas kitab-kitab terkemuka.
Ayatullah Mirza Ibrahim Khui Gugur Syahid
111 tahun yang lalu, tanggal 22 Shahrivar 1287 HS, Ayatullah Haji Mirza Ibrahim Khui gugur syahid dalam peristiwa Revolusi Konstitusi pada usia 76 tahun di kota kelahirannya dan dikuburkan di Najaf, Irak.
Ayatullah Haji Mirza Ibrahim bin Hossein Khui yang lebih dikenal dengan Allamah Khui lahir di kota Khui sekitar tahun 1210 HS. Setelah mempelajari pendidikan agama tingkat dasar dan menengah, beliau kemudian pergi ke kota Najaf, Irak untuk melanjutkan pendidikannya.
Di Najaf, beliau belajar kepada guru-guru besar seperti Syeikh Murtadha Anshari dan Sayid Hossein Kouh Kamareh-i sehingga mencapai derajat keilmuan yang tinggi. Allamah Khui juga belajar kepada guru-guru besar lainnya seperti Syeikh Muhammad Husein Kazhimi dan Syeikh Mahdi Najafi Kasyif al-Ghita.
Allamah Khui memiliki kepribadian mulia seperti dermawan. Beliau menginfakkan kekayaan yang dimilikinya di jalan Allah. Kekayaan yang berasal dari warisan ayahnya.
Ulama besar ini juga meninggalkan karya ilmiah seperti catatan pinggir atas Rasail karya Syeikh Anshari, Syarah Nahjul Balaghah "ad-Durrah an-Najafiah" serta Syarah Arbain Haditsa.
Allamah Khui di masa hidupnya menjadi mujtahid besar di kotanya dan mendapat penghormatan dari rakyat. Mereka menanyakan pelbagai masalah keagamaannya kepada beliau.
Penandatanganan Perjanjian Gaza-Jericho
26 tahun yang lalu, tanggal 13 September 1993, nota kesepakatan damai "Gaza-Jericho" ditandatangani oleh Yasser Arafat dan Yitzak Rabin di Washington.
Yaser Arafat adalah pemimpin Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dan Yitzak Rabin adalah perdana menteri Israel waktu itu. Dalam kesepakatan damai yang didahului dengan berbagai perundingan dan proses perdamaian antara Arab dan Zionis itu, kedua pihak, yaitu PLO dan rezim Zionis, saling mengakui keberadaan masing-masing.
Selain itu, setelah mendapat banyak konsesi dari pihak Yasser Arafat, Israel bersedia mundur dari 90 persen wilayah Tepi Barat dan berjanji akan menandatangani perjanjian akhir pada tahun 1990 mengenai pembentukan pemerintahan Palestina di kawasan antara jalur Gaza hingga kota Jericho di Tepi barat.
Berdasarkan perjanjian Gaza-Jericho ini, pembangunan kota-kota pemukiman Israel di kawasan pendudukan harus dihentikan, tawanan Palestina dibebaskan, dan pembicaraan mengenai pengembalian pengungsi Palestina dan penetapan garis perbatasan akan dimulai. Namun, rezim Zionis hingga kini tidak menepati satupun dari isi perjanjian itu.
Sebaliknya, Yaser Arafat dipaksa memberikan sejumlah konsesi kepada Israel. Akibat lain dari kesediaan Yasser Arafat menandatangani perjanjian ini adalah terpecah-pecahnya persatuan kubu bangsa Arab dalam perundingan damai dengan Tel Aviv.