Sep 23, 2019 07:02 Asia/Jakarta
  • Lintasan Sejarah 23 September 2019.
    Lintasan Sejarah 23 September 2019.

Kelahiran Imam Khomeini ra Menurut Penanggalan Iran

117 tahun yang lalu, tanggal 1 Mehr 1281 HS, Imam Khomeini ra lahir ke dunia menurut penanggalan Iran.

 

Ayatullah al-Udzma Imam Khomeini ra, Pendiri Republik Islam Iran lahir di kota Khomein pada 1 Mehr 1281 HS yang bertepatan dengan 20 Jumadil Tsani 1320 HQ bersamaan dengan kelahiran Sayidah Fathimah az-Zahra as. Ayah beliau syahid sejak masih kanak-kanak dan akhirnya beliau diasuh oleh ibu dan bibinya.

 

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah hauzah, beliau kemudian belajar fiqih untuk tingkat mujtahid kepada Ayatullah Sheikh Abdulkareem Hairi Yazdi. Beliau mendapat perhatian khusus oleh gurunya.

 

Bersamaan dengan pendirian hauzah ilmiah Qom, Imam Khomeini ra berhijrah ke kota ini dan belajar kepada Ayatullah Sheikh Ali Akbar Yazdi dan Ayatullah Mohammad Ali Shah Abadi dalam ilmu astronomi, irfan dan filsafat. Setelah itu beliau mulai membentuk kelasnya sendiri dan banyak mendidik murid-murid hebat yang masih hidup di masa kini. Mereka juga menjadi pendukung beliau di masa kebangkitan Islam di Iran.

 

Imam Khomeini ra termasuk pribadi yang berperan mengajak Ayatullah al-Udzma Boroujerdi untuk pindah ke Qom dan mendukung sikap politik beliau. Pasca meninggalnya Ayatullah Boroujerdi dan semakin meluasnya aksi-aksi anti Islam dari rezim Pahlevi, Imam Khomeini ra bangkit menentang rezim ini dan memulai gerakan kebangkitan rakyat.

 

Banyak terjadi peristiwa besar di masa itu, khususnya protes Imam Khomeini ra akan undang-undang Kapitulasi yang berujung pada pengasingan beliau ke Turki, Irak dan akhirnya di Paris. Setelah diasingkan dari tanah air selama 15 tahun, pada bulan Bahman 1357 Hs, beliau kembali ke Iran dan mendirikan Republik Islam Iran. Selama 10 tahun membimbing Republik Islam Iran beliau akhirnya meninggal dunia pada 14 Khordad 1368 dalam usia 88 tahun dan dikebumikan di Tehran.

Imam Khomeini ra.

Peledakan Haram Imam Hadi dan Askari as di Samarra

 

14 tahun yang lalu, tanggal 23 Muharam 1427 HQ, tentara pendudukan asing dan para teroris yang menjadi boneka mereka meledakkan kubah suci Imam Hadi dan Imam Hasan al-Askari as di kota Samarra.

 

Seluruh pengikut dan pecinta Imamah dan Wilayah di penjuru dunia mengucapkan

Belasungkawa atas perbuatan memalukan para musuh Islam. Mereka yang merencanakan dan melakukan perbuatan ini menganggap perbuatan busuk mereka dapat menghilangkan pelita hidayah dan agama dari muka bumi. Namun mereka tidak menyangka bahwa Allah yang melindungi agamanya.

 

Semua manusia bebas dari ikatan etnis dan agama turut mengecam perbuatan terkutuk yang dilakukan oleh orang-orang yang berpikiran pendek. Sementara para pecinta Imamah justru semakin kokoh dan menjadikan hari ini sebagai waktu yang tepat untuk memperbarui janjinya dengan para imam maksum dan siap mengorbankan jiwanya untuk mereka.

Haram Imam Hadi dan Askari as di Samarra.

Pidato Kontroversial Gaddafi di PBB

 

10 tahun yang lalu, tanggal 23 September 2009, pemimpin Libya saat itu, Muammar Gaddafi, berpidato selama sekitar satu setengah jam di Sidang Tahunan Majelis Umum Peserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, AS. Itu merupakan pidato pertama sekaligus yang terakhir bagi Khadafi di PBB.

 

Dua tahun kemudian, Agustus 2011, kekuasaan Khadafi terjungkal oleh pasukan pemberontak, yang didukung NATO. Dia akhirnya mati secara mengenaskan setelah ditangkap pasukan pemberontak saat berupaya kabur.

 

Saat berpidato di sidang PBB, Khadafi tampil menggebu-gebu. Sebenarnya, Gaddafi  hanya diberi jatah waktu berpidato selama 15 menit, namun dia langgar. Dia terus berbicara lantang hingga lebih dari satu setengah jam.

 

Selama berpidato, Gaddafi mencela Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB), yang dianggap gagal menjaga perdamaian dunia. Gaddafi menganggap PBB gagal mencegah berkobarnya rangkaian peperangan. Dia mencatat sedikitnya 65 perang besar terjadi sejak berakhirnya Perang Dunia Kedua 1945 atau sejak PBB dibentuk.

 

Gaddafi pun menuduh negara-negara kuat dunia meremehkan dan memperlakukan negara lain sebagai negara kelas dua. Pidato Gaddafi fokus pada ketidakberimbangan DK PBB karena lima anggota tetapnya, AS, Rusia, China, Inggris, dan Prancis memiliki hak veto.

 

"Seharusnya itu disebut 'dewan teror'," kata Gaddafi. Dia meminta agar hak veto dihapus dan keanggotaan diperluas dengan menyertakan suara lebih besar dari negara-negara Afrika, Amerika Latin, serta negara-negara Muslim dan Arab.

 

Para pimpinan delegasi sebenarnya hanya diperbolehkan berbicara sekitar 15 menit. Kode berupa lampu merah akan menyala bila tiba saatnya mereka berhenti berpidato. Namun, aturan itu dilanggar sejumlah pemimpin delegasi, termasuk Presiden Amerika Serikat, Barack Obama.

 

Saat berpidato, Obama tidak mempedulikan lampu itu dan berbicara selama 38 menit. Namun pelanggaran yang dilakukan Gaddafi lebih parah.

 

Pemimpin Libya berusia 67 tahun itu berpidato selama 1 jam 36 menit. Ini membuat jadwal pidato delegasi sesudahnya berantakan dan mengganggu jadwal makan siang yang disediakan Sekjen PBB Ban Ki-moon untuk menyambut kehadiran lebih dari 100 pemimpin negara dan pemerintahan.

 

Tanggal 20 Oktober 2011, Gaddafi meninggal di tangan pasukan oposisi yang disebut tentara Transisi Nasional Libya (NTC).