Lintasan Sejarah 8 Oktober 2019
-
Lintasan Sejarah 8 Oktober 2019.
Ammar bin Yasir Gugur
1404 tahun yang lalu, tanggal 9 Shafar 37 HQ, Ammar bin Yasir, seorang sahabat besar Rasulullah Saw dan pengikut setia Ahlul Bait Nabi, gugur dalam perang Shiffin pada usia 94 tahun.
Ammar bin Yasir lahir 57 tahun sebelum peristiwa hijrahnya Rasulullah. Kedua orang tuanya, yaitu Yasir dan Sumayah, adalah dua sahabat Rasulullah yang gugur syahid di awal perjuangan menegakkan agama Islam.
Gugurnya Ammar bin Yasir dalam perang Shiffin tersebut sangat menyedihkan Imam Ali as. Akan tetapi, peristiwa ini dicatat oleh para sejarawan sebagai bukti bahwa Imam Ali berada di pihak yang benar dalam perangnya melawan pasukan Muawiyah tersebut.
Sebelumnya, dalam sebuah haditsnya yang terkenal, Rasulullah Saw pernah berkata kepada Ammar sebagai berikut, "Wahai Ammar! Anak-anakku kelak akan didera banyak fitnah. Jika situasi itu kelak engkau saksikan, tetaplah engkau pada kelompok Ali. Karena kebenaran akan selalu bersama Ali, dan Ali selalu berada di jalan yang benar. Wahai Ammar! Engkau nanti akan bertempur membela Ali melawan dua kelompok. Kelompok pertama adalah para pelanggar janji, kelompok kedua adalah para penjahat. Engkau nanti akan terbunuh oleh kelompok yang melawan Ali tersebut."
Haji Agus Salim, Pahlawan Nasional Indonesia Lahir
135 tahun yang lalu, tanggal 8 Oktober 1884, Haji Agus Salim terlahir dengan nama Mashudul Haq yang berarti "pembela kebenaran" di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat.
Haji Agus Salim adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia. Haji Agus Salim ditetapkan sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 27 Desember 1961 melalui Keppres nomor 657 tahun 196.
Agus Salim lahir dari pasangan Soetan Salim gelar Soetan Mohamad Salim dan Siti Zainab. Jabatan terakhir ayahnya adalah Jaksa Kepala di Pengadilan Tinggi Riau. Pendidikan dasar ditempuh di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah khusus anak-anak Eropa, kemudian dilanjutkan ke Hoogere Burgerschool (HBS) di Batavia. Ketika lulus, ia berhasil menjadi lulusan terbaik di HBS se-Hindia Belanda.
Setelah lulus, Salim bekerja sebagai penerjemah dan pembantu notaris pada sebuah kongsi pertambangan di Indragiri. Pada tahun 1906, Salim berangkat ke Jeddah, Arab Saudi untuk bekerja di Konsulat Belanda di sana. Pada periode inilah Salim berguru pada Syeh Ahmad Khatib, yang masih merupakan pamannya.
Salim kemudian terjun ke dunia jurnalistik sejak tahun 1915 di Harian Neratja sebagai Redaktur II. Setelah itu diangkat menjadi Ketua Redaksi. Menikah dengan Zaenatun Nahar dan dikaruniai 8 orang anak. Kegiatannya dalam bidang jurnalistik terus berlangsung hingga akhirnya menjadi Pemimpin Harian Hindia Baroe di Jakarta. Kemudian mendirikan Suratkabar Fadjar Asia. Dan selanjutnya sebagai Redaktur Harian Moestika di Yogyakarta dan membuka kantor Advies en Informatie Bureau Penerangan Oemoem (AIPO). Bersamaan dengan itu Agus Salim terjun dalam dunia politik sebagai pemimpin Sarekat Islam.
Pada tahun 1915, Salim bergabung dengan Sarekat Islam (SI), dan menjadi pemimpin kedua di SI setelah H.O.S. Tjokroaminoto.
Di antara tahun 1946-1950 ia laksana bintang cemerlang dalam pergolakan politik Indonesia, sehingga kerap kali digelari "Orang Tua Besar" (The Grand Old Man). Ia pun pernah menjabat Menteri Luar Negeri RI pada kabinet Presidentil dan pada tahun 1950 sampai akhir hayatnya dipercaya sebagai Penasehat Menteri Luar Negeri.
Pada tahun 1952, ia menjabat Ketua di Dewan Kehormatan PWI. Biarpun penanya tajam dan kritikannya pedas namun Haji Agus Salim dikenal masih menghormati batas-batas dan menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik.
Setelah mengundurkan diri dari dunia politik, pada tahun 1953 ia mengarang buku dengan judul Bagaimana Takdir, Tawakal dan Tauchid harus dipahamkan? yang lalu diperbaiki menjadi Keterangan Filsafat Tentang Tauchid, Takdir dan Tawakal.
Ia meninggal dunia pada 4 November 1954 di RSU Jakarta dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta di usia 70 tahun. Namanya kini diabadikan untuk stadion sepak bola di Padang.
Imam Khomeini Minta Kepala Negara Islam Mobilisasi Rakyat Hadapi Zionis Israel
46 tahun yang lalu, tanggal 16 Mehr 1352 HS, Imam Khomeini ra minta kepala-kepala negara Islam memobilisasi rakyat hadapi Zionis Israel.
Pada 8 Ramadhan 1393 HQ yang bertepatan dengan 14 Mehr 1352 HS, militer Mesir dan Suriah menyerang pasukan Zionis Israel yang menduduki terusan Suez dan dataran tinggi Golan dan berhasil mengambilnya kembali. Perang ini disebut Perang Ramadhan.
Pemerintah Irak meminta hubungan dengan Iran dan menyampaikan masalah front baru anti Israel. Pada awalnya, Iran sendiri hanya menyatakan kekhawatirannya terkait perang Arab dan Israel. Dalam kondisi yang demikian, pada 16 Mehr 1352 HS Imam Khomeini ra mengeluarkan pesan kepada negara dan bangsa Islam di seluruh dunia meminta semua, khususnya negara-negara Arab untuk tetap bertawakal kepada Allah, bersandar kepada kekuasaan-Nya yang tak terhingga dan memobilisasi segala kekuatan berpartisipasi dalam jihad suci ini.
Imam Khomeini ra dalam pesannya kepada negara-negara penghasil minyak dan segala fasilitas yang dimiliki agar menggunakannya melawan Israel dan para imperialis. Menurut Imam Khomeini, umat Islam berkewajiban melakukan segala bentuk kerjasama dan pengorbanan di jalan ini sesuai dengan kewajiban kemanusiaan, persaudaraan dan sesuai dengan hukum akal dan Islam.