Lintasan Sejarah 28 Oktober 2019
-
Lintasan Sejarah 28 Oktober 2019.
Mirza Abdul Qasim Farahani Meninggal Dunia
190 tahun yang lalu, tanggal 29 Shafar 1251 HQ, Mirza Abdul Qasim Qaim Maqam Farahani, seorang penulis dan politikus Iran periode Qajar, meninggal dunia akibat dibunuh.
Mirza Qaim Maqam Farahani merupakan putra mahkota Dinasti Qajar dan kemudian diangkat menjadi penasehat Shah Muhammad. Ia banyak melakukan reformasi dalam berbagai bidang di Iran. Namun, para lawan politiknya dan imperialis asing melihat bahwa kebijakan yang diambil Farahani membahayakan kepentingan ilegal mereka, sehingga mereka merencanakan pembunuhan atas Farahani.
Farahani banyak meninggalkan karya penulisan, di antaranya berjudul "Mansha`at", "Jalayer Nameh" dan "Kumpulan Syair".
Pembunuhan Massal Penduduk Palestina
71 tahun yang lalu, tanggal 28 Oktober 1948, pada era Perang Arab-Israel Pertama, tentara Zionis membunuh massal warga desa Ad-Dawaimah di kawasan pendudukan Palestina.
Tentara Zionis menyerang masjid di desa ini dan membunuh 75 kaum muslim Palestina yang sedang sholat di sana. Kemudian, mereka membunuh 35 keluarga yang tengah bersembunyi di sebuah gua di luar desa. Setelah membunuh seluruh warga desa itu, tentara Zionis kemudian meratakan desa tersebut dengan tanah.
Pada tahun 1984, ketika para pejabat PBB meminta penjelasan dari wakil Israel di PBB mengenai pembunuhan massal di desa itu, para wakil Israel tersebut mengingkari keberadaan desa dengan nama Ad-Dawaimah untuk menutup-nutupi kekejaman yang telah mereka lakukan.
Imam Khomeini ra Tolak Rencana Fahd Soal Perdamaian Palestina-Israel
38 tahun yang lalu, tanggal 6 Aban 1360 HS, Imam Khomeini ra tolak rencana Raja Fahd soal perdamaian Palestina-Israel.
Pasca kemenangan Revolusi Islam Iran dan setelah penandatanganan perjanjian damai Camp David antara pemerintah Mesir dan rezim Zionis Israel yang dimediasi Amerika, rezim-rezim yang menjual dirinya di Timur Tengah mulai mengikuti jejak Mesir untuk berdamai dengan Israel.
Fahd bin Abdul Aziz yang waktu itu merupakan Pangeran Mahkota Arab Saudi pada tanggal 18 Mordad 1360 (9 Agustus 1981) mengusulkan sebuah rencana yang berisikan sejumlah poin; pertama, Israel harus mundur dari seluruh daerah yang didudukinya, termasuk Baitul Maqdis. Kedua, tidak adanya jaminan hak bagi warga Palestina yang ingin pulang, terutama pemberian ganti rugi atas kerugian yang dialami selama ini. Ketiga, jaminan hak bagi seluruh negara di Timur Tengah untuk hidup secara damai.
Poin ketiga merupakan poin paling cerdik untuk mengakui secara resmi rezim Zionis Israel Hal ini pula yang membuat dunia Islam tidak mengakui rencana ini.
Imam Khomeini ra saat mereaksi rencana ini pada tanggal 6 Aban 1360 Hs (28 Oktober 1981) dalam sebuah pidatonya mengatakan, "Wajib bagi kami dan setiap muslim menolak rencana-rencana seperti yang dilakukan oleh Anwar Sadat dan Fahd bin Abdul Aziz. Wajib bagi kita untuk mengecam setiap rencana yang tidak berpihak kepada orang-orang tertindas (mustadhafin). Hari ini, tidak ada yang lebih berbahaya dari perjanjian Camp David dan rencana Fahd yang memperkuat Israel dan kejahatannya. Ide-ide semacam ini membuat munculnya perpecahan dan membuka jalan bagi Israel."
Sikap tegas Imam Khomeini ra menolak rencana Fahd dan dukungan umat Islam sedunia atas sikap Imam membuat banyak negara ikut menolak rencana ini.
Tahun-tahun selanjutnya terbukti betapa rezim Zionis Israel tidak pernah melaksanakan janjinya kepada bangsa Palestina dan tidak pernah mundur dari klaimnya selama ini. Begitu congkaknya Zionis Israel sehingga dalam sejumlah perjanjian dan pertemuan bersama dalam kerangka perdamaian Arab dan Israel, rezim Zionis Israel menyatakan satu-satunya solusi Palestina adalah membinasakan seluruh rakyatnya. Zionis Israel juga tidak mau menerima kembalinya warga Palestina yang hidup di luar negeri ke tanah airnya sendiri.