Lintasan Sejarah 1 November 2019
-
Lintasan Sejarah 1 November 2019.
Pasukan Yazid Serang Mekah dan Nistakan Masjidul Haram
1377 tahun yang lalu, tanggal 3 Rabiul Awal 64 HQ, pasukan Yazid menyerang Mekah dan menistakan Masjidul Haram.
Yazid bin Muawiyah memerintah selama tiga tahunan. Pada tahun pertama kekuasaannya, ia memerintah pasukannya membunuh cucu Rasulullah Saw, Imam Husein as di Karbala dan melakukan kejahatan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Islam.
Pada tahun kedua, ia melakukan kejahatan kedua di Madinah dan pasukannya melakukan pembantaian di sana, sehingga kota suci Madinah penuh dengan mayat umat Islam.
Di akhir kekuasaannya, Yazid bin Muawiyah dengan niat hendak menumpas gerakan Abdullah bin Zubair, ia mengirim pasukannya pada 3 Rabiul Awal 64 Hq di bawah komando Hashin bin Numair ke kota Mekah. Dalam serangan ini, mereka mengepung Masjidul Haram dan menyerang Ka'bah dengan katapel raksasa. Serangan ini terus berlanjut, sehingga Hashin dikabari bahwa Yazid telah meninggal dunia.
Permulaan Perang Kemerdekaan Aljazair
65 tahun yang lalu, tanggal 1 November 1954, dengan didirikannya Gerakan Pembebasan Aljazair oleh Ahmed Ben Bella, perang kemerdekaan negara ini pun dimulai.
Aljazair pada awal abad ke-20 secara penuh dijajah oleh Perancis dan selama itu perjuangan bangsa Aljazair bersifat sporadis. Akhirnya, setelah 132 tahun dijajah oleh Perancis, Aljazair berhasil meraih kemerdekannya pada tahun 1962 dan Ben Bella menjadi presiden.
Namun, pemerintahan Ben Bella tidak berlangsung lama karena pada tahun 1965, ia digulingkan oleh Menteri Pertahanannya sendiri, Kolonel Boumedienne.
Ayatullah Ali Qazi Thabathabai Gugur
40 tahun yang lalu, tanggal 10 Aban 1358 HS, Ayatullah Sayid Mohammad Ali Qazi Thabathabai, seorang ruhaniwan Iran terkemuka, gugur syahid akibat teror kelompok Furqan.
Beliau dilahirkan pada tahun 1292 HS di kota Tabriz di barat laut Iran. Beliau memulai pendidikan dasar agamanya di bawah bimbingan ayahnya sendiri dan kemudian melanjutkan menuntut ilmu di hauzah-hauzah ilmiah terkemuka dan menjadi murid ulama-ulama besar saat itu, di antaranya Imam Khomeini.
Akibat aktivitas perjuangannya melawan rezim despotik Shah Pahlevi, Ayatullah Thabathabai berkali-kali dipenjara dan diasingkan. Setelah kemenangan Revolusi Islam Iran, Ayatullah Thabathabai ditunjuk Imam Khomeini sebagai imam Jumat di kota Tabriz.