Lintasan Sejarah 8 Juli 2020
-
Lintasan Sejarah 8 Juli 2020
Rashid Al-Din bin Muhammad Al-Watwat Meninggal Dunia
868 tahun yang lalu, tanggal 16 Dzulqadah 573 HQ, Rashid al-Din al-Watwat meninggal dunia pada usia 93 tahun.
Rashid al-Din bin Muhammad bin al Djalil al-Umari yang lebih dikenal dengan Rashid al-Din al-Watwat lahir pada tahun 480 Hq di kota Balkh. Rashid al-Din masih keturunan dari Khalifah Umar bin Khattab.
Ia memulai pendidikannya di Madrasah Nizhamiah, Balkh dam berguru kepada Abu Saad al-Harawi. Setelah menguasai bahasa Persia dan Arab, Rashid al-Din kemudian pindah ke kota Kharazm. Kharazm waktu itu dipimpin oleh Abu al-Muzhaffar Alaa al-Daulah. Di awal masa pemerintahannya, Rashid al-Din al-Watwat mengabdi padanya hingga akhir hayatnya.
Rashid al-Din al-Watwat menguasai dua bahasa Arab dan Persia dengan sangat baik yang membuat ia disebut sebagai Dzul Lisanain (yang menguasai dua bahasa). Al-Watwat diakui kemampuannya dalam memilih kata dan menyusunnya dengan indah baik dalam bahasa Persia maupun bahasa Arab. Karya-karyanya antara lain, "Diwan Asy'ar Parsi", "Rasail al-Arabi", "Hadaiq al-Sahar fi Daqaiq al-Syi'r", "Mansyaat Farsi" dan lain-lain.
Perjanjian Tilsit Ditandatangani
213 tahun yang lalu, tanggal 8 Juli 1807, perjanjian bersejarah Tilsit ditandatangani oleh Tzar Rusia, Alexander Pertama dan Kaisar Perancis, Napoleon Bonaparte.
Melalui perjanjian ini, kedua negara itu sepakat untuk saling membantu jika ada negara ketiga yang menyerang Perancis atau Rusia.
Namun kesepakatan itu dengan segera bubar tiga tahun kemudian karena Rusia mendapati bahwa perjanjian dengan Perancis malah membuat terganggunya perdagangan luar negeri Rusia. Karena itu, Rusia kembali membuka pelabuhan-pelabuhannya terhadap kapal-kapal dari negara-negara yang netral dan tetap mengenakan pajak yang besar terhadap barang-barang Perancis yang masuk ke Rusia.
Akhirnya pada tanggal 24 Juni 1812, Perancis menyerang Rusia.
Sayid Kazem Akhavan Marashi Wafat
18 tahun yang lalu, tanggal 18 Tir 1381 HS, Ayatullah Sayid Kazem Akhavan Marashi meninggal dunia di usia 83 tahun dan dikebumikan di komplek makam suci Imam Ridha as di Mashad.
Ayatullah Sayid Kazem Akhavan Marashi lahir dari keluarga ulama pada 1298 HS di kota Najaf, Irak. Beliau telah kehilangan ayahnya sejak usia lima tahun. Tapi peristiwa ini tidak mengurangi sedikitpun semangatnya untuk menuntut ilmu-ilmu agama. Ketika berusia 13 tahun, beliau pergi ke Qom, Iran demi melanjutkan pelajaran hauzahnya. Setelah menyelesaikan pelajaran tingkat menengah hauzah, beliau kemudian mengikuti kuliah-kuliah Ayatullah Sayid Mohammad Hojjat Kouh Kamareh-i, Sayid Mohammad Taqi Khonsari, Imam Khomeini dan Ayatullah Boroujerdi.
Selama 17 tahun tinggal dan menuntut ilmu di Qom, pada usia 32 tahun beliau kembali ke kota Najaf. Sekembalinya di sana, Ayatullah Sayid Kazem Akhavan Marashi belajar kepada ayatullah Sayid Abdul Hadi Shirazi dan beliau sendiri mulai mengajar untuk tingkatan menengah.
Ayatullah Sayid Kazem Akhavan Marashi tinggal selama 22 tahun di Irak dan pada 1350 HS, beliau kembali ke Iran. Hanya dua tahun beliau tinggal di Qom dan setelah itu memilih tinggal di Mashad. Di sana beliau menyibukkan diri dengan menulis, mengajar, mengeluarkan fatwa dan menjadi imam shalat jamaah.
Ketika kebangkitan Islam di Iran mencapai puncaknya, ayatullah Sayid Kazem Akhavan memainkan peranan penting melawan rezim Pahlevi. Rumah beliau menjadi tempat perundingan dan pengambilan keputusan. Beliau mengambil langkah bersejarah ketika berhasil membobol blokade rumah sakit Imam Ridha as. Pasca kemenangan Revolusi Islam Iran, beliau beberapa kali ikut ke medan pertempuran selama perang 8 tahun dengan pasukan rezim Saddam.
Ayatullah Sayid Kazem Akhavan Marashi banyak meninggalkan karya tulis seperti Manasik Haji, Hasyiah Urwah al-Wutsqa dan Syarah al-Urwah al-Wutsqa.[]