Lintasan Sejarah 14 Juli 2020
-
14 Juli 2020
Hari ini, Selasa, 14 Juli 2020 bertepatan dengan 22 Zulkaidah 1441 Hijriah atau menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 24 Tir 1399 Hijriah Syamsiah. Berikut kami hadirkan beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi hari ini.
Allamah Tabarsi Menyelesaikan Penulisan Buku Tafsir Majma Al-Bayan
905 tahun yang lalu, tanggal 22 Dzulqadah 536 HQ, Allamah Tabarsi menyelesaikan penulisan buku tafsir Majma al-Bayan.
Buku Tafsir Majma al-Bayan merupakan karya ahli tafsir terkenal Allamah Sheikh Tabarsi. Beliau dikenal dengan sebutan Amin al-Islam (Amanat Islam). Sebutan itu diberikan berkat keutamaan, kejujuran dan amanatnya dalam ilmu-ilmu Islam seperti fiqih, hadis dan tafsir.
Tafsir Majma al-Bayan merupakan satu dari buku tafsir penting al-Quran yang pernah ditulis oleh ulama Islam. Tafsir ini banyak mengulas sastra yang digunakan dalam al-Quran, selain tema-tema penting lainnya. Buku ini telah dicetak berkali-kali, namun Allamah Sheikh Tabarsi berhasil merampungkan penulisan buku tafsir monumentalnya ini pada tanggal 22 Dzulqadah 536 HQ.
Hijrah Ulama Tehran ke Qom, di Masa Revolusi Konstitusi
114 tahun yang lalu, tanggal 24 Tir 1285 HS, Ayatullah Sayid Mohammad Tabatabai dan Sayid Abdullah Bahbahani memimpin sebuah kelompok berjumlah 1000 orang bergerak ke kota Qom yang akhirnya dikenal sebagai Mohajerat Kubro.
Hal itu dilakukan sebagai kelanjutan Revolusi Konstitusi, pasca tidak diterimanya tuntutan ulama dan rakyat terkait pendirian pengadilan dan penerapan hukum Islam, ulama memutuskan untuk berhijrah ke kota Qom dan melakukan aksi mogok di komplek suci Sayidah Fathimah Maksumah as.
Tiga hari setelahnya, Sheikh Fazlollah Nouri mempersiapkan jumlah orang yang lebih banyak untuk melakukan hijrah dari Tehran ke Qom. Hijrah ini menciptakan gelombang kebangkitan di seluruh negeri dan ulama besar waktu itu seperti Agha Najafi Isfahani di Isfahan dan Akhond Mulla Ghorbanali Zanjani dari Zanjan, ikut bergabung dalam aksi mogok itu. Menyusul aksi itu, para ulama dari pelbagai kota mendapat telegram untuk ikut dan mereka bergabung melakukan aksi mogok di Qom.
Mozaffaruddin Shah akhirnya menerima tuntutan itu. Tapi ketika aksi ini berada di puncak keberhasilannya, ada gerakan mencurigakan yang mengarah pada penyimpangan gerakan ini. Sejumlah warga secara tidak sadar justru meminta suaka ke Kedutaan Besar Inggris dan melakukan aksi mogok di halaman Kedubes Inggris.
Aksi mogok lebih dari 20 ribu warga di Kedubes Inggris, sekalipun alasan pertamanya untuk menyelamatkan diri, tapi pada intinya aksi pelanggaran terhadap hukum Islam yang memang diinginkan oleh negara imperialis ini. Penyimpangan ini terus berlanjut hingga Sheikh Fazlollah Nouri yang merupakan pemimpin Revolusi Konstitusi, harus digantung akibat penolakannya terhadap kebangkitan Revolusi Konsitusi yang tidak sah.
Akhirnya, akibat tekanan para pelaku aksi mogok, Mozaffaruddin Shah menerima seluruh tuntutan mereka dan tanggal 14 Mordad 1285, lewat sebuah perintah, selain pemecatan Ain ad-Dowleh, Perdana Menterinya, Mozaffaruddin Shah mengeluarkan perintah penyelenggaraan pemilu dan pendirian parlemen. Para ulama dan rakyat yang melakukan aksi mogok di Qom kembali ke tehran setelah 10 hari sejak penandatangan Perintah Revolusi Konstitusi.
Kerajaan Irak Dikudeta
62 tahun yang lalu, tanggal 14 Juli 1958, pemerintahan kerajaan di Irak digulingkan oleh kudeta militer yang dipimpin oleh Jenderal Abdul Karim Qasim.
Sejak itu pula, sistem pemerintahan Irak diubah menjadi sistem republik. Dalam kudeta ini, Raja Faisal Kedua, putra mahkota Pangeran Abdullah, dan perdana menteri Nuri Said, beserta sejumlah pendukung kerajaan lainya tewas dibunuh.
Jenderal Abdul Karim Qasim berkuasa di Irak hingga tahun 1963 ketika ia tewas dibunuh dalam kudeta yang dilakukan oleh teman dekatnya sendiri, Abdus-Salam Arif.