Jul 16, 2020 10:31 Asia/Jakarta
  • Lintas Warta 16 Juli 2020
    Lintas Warta 16 Juli 2020

Penandatanganan Perjanjian Hudaibiyah

1435 tahun yang lalu, tanggal 24 Dzulqadah 6 HQ, dilakukan penandatanganan perjanjian Hudaibiyah.

 

Pada waktu itu, Rasulullah beserta sekitar 1400 kaum Muslimin, dengan tanpa membawa perlengkapan perang, berangkat dari madinah ke mekah dengan niat untuk menunaikan ibadah umrah. Namun di tengah perjalanan, di sebuah kawasan bernama Hudaibiyah, rombongan Rasulullah dicegat kaum Musyrikin.

 

Setelah melalui perundingan panjang antara kedua pihak, akhirnya disepakati untuk ditandatangani perjanjian Hudaibiyah, yang di antaranya berisi ketetapan bahwa tahun itu, kaum Muslimin tidak boleh memasuki Mekah untuk menunaikan ibadah haji, namun tahun depan larangan tersebut akan dicabut.

 

Perjanjian Hudaibiyah merupakan keberhasilan diplomatis besar yang dicapai kaum Muslimin. Dua tahun kemudian, yaitu tahun delapan hijriah, kaum Muslimin bahkan berhasil menguasai kota Mekah tanpa terjadi pertumpahan darah.

 

Saddam Hussein

 

Saddam Menggulingkan Presiden Bakr

 

41 tahun yang lalu, tanggal 16 Juli 1979,  Saddam menggulingkan Presiden Irak saat itu, Hassan Al- Bakr dan mengangkat dirinya sebagai presiden baru Irak sekaligus sebagai Sekjen Partai Baath.

 

Aktivitas politik Saddam dimulai sejak masa remaja dengan bergabung ke dalam Partai Sosialis Baath. Ia kemudian dipenjarakan karena terlibat dalam usaha pembunuhan atas PM Abdul-Karim Qassim.

 

Pada tahun 1960, Saddam melarikan diri ke Syria, kemudian ke Mesir dan di sana ia menyelesaikan pendidikan SMU-nya. Pada tahun itu pula, pengadilan Irak menjatuhinya hukuman mati in absentia. Sambil mneruskan pendidikan di fakultas hukum, Saddam meneruskan aktivitas militernya. Pada tahun 1968, Saddam telah menjadi salah satu pimpinan di Partai Baath dan terlibat dalam penggulingan Presiden Abdul Rahman Arif.

 

Jabatan Presiden Irak kemudian dipegang Hassan Al-Bakr dan Saddam ditunjuk sebagai wakil presiden. Akhirnya, pada tahun 1979, Saddam menggulingkan Hasan Al-Bakr dan ia menjalankan kekuasaan tangan besinya di Irak hingga tahun 2003, ketika ia digulingkan oleh AS.

 

Perancis Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Iran

 

33 tahun yang lalu, tanggal 26 Tir 1366 HS, Perancis putuskan hubungan diplomatik dengan Iran.

 

Pemerintah Perancis sejak awal perang 8 tahun Iran-Irak memberikan dukungan penuh kepada Irak dan semasa perang, dukungan ini semakin meluas. Perancis memberikan senjata-senjata modern seperti pesawat tempur Super Etendard dan helikopter Super Frelon yang dipersenjatai dengan rudal Exocet kepada Irak yang membuat Irak menjadi kuat, sehingga mampu menyerang kapal-kapal Iran.

 

Pemerintah Irak sendiri dengan memanfaatkan pesawat dan helikopter ini sejak tahun 1363 HS meningkatkan serangannya terhadap kapal-kapal tanker Iran dan ratusan kapal yang menjadi sasaran tembak.

 

Antara tahun 1364-1365, Perancis memberikan bantuan utang sebesar 5 miliar dolar kepada Baghdad dan dengan demikian Perancis menjadi partner Eropa terbesar bagi Irak. Bersamaan dengan bantuan ini, Paris berusaha untuk tidak membayar utangnya sebesar 1 miliar dolar kepada Iran.

 

Kebijakan tidak bersahabat Perancis di masa perang 8 tahun terhadap Iran terus berlanjut, sehingga akhirnya pada 26 Tir 1366, secara sepihak Paris memutuskan hubungan diplomatiknya dengan Iran.[]