Jul 22, 2020 12:06 Asia/Jakarta
  • Lintasan Sejarah 22 Juli 2020

Pernikahan Imam Ali dan Sayidah Fatimah Zahra as

1439 tahun yang lalu, tanggal 1 Dzulhijjah 2 HQ, Imam Ali dan Sayidah Fatimah Zahra as menikah.

 

Di masa permulaan Islam, banyak pria yang melamar Sayidah Fatimah Zahra as dari Rasulullah Saw untuk menjadi isterinya. Namun tidak seorangpun yang mendapat jawaban positif. Waktu terus berlalu hingga Imam Ali as datang menghadap Rasulullah Saw dengan tujuan yang sama, melamar Sayidah Fatimah Zahra as.

 

Ketika itu Nabi Muhammad Saw berkata, "Wahai Ali! Sebelum engkau datang, sudah banyak pria yang menghadapku untuk melamar Sayidah Fatimah sebagai isterinya, tapi Fatimah menolak mereka semua. Tunggulah di sini, seperti yang lain. Aku akan ke dalam menanyakan pendapat Fatimah."

 

Rasulullah Saw menemui Fathimah dan berkata, "Fatimah, engkau telah mengenal Ali bin Abi Thalib dari sisi kedekatan keluarga, keutamaan dan keislamannya. Aku memohon kepada Allah untuk mengawinkanmu dengan makluk terbaik dan paling dicintai Allah. Kini Ali telah melamarmu. Apa pendapatmu?"

 

Fatimah kemudian terdiam, tapi ia tidak memalingkan wajahnya. Rasulullah sendiri tidak melihat wajah Fatimah menunjukkan ketidaksukaan. Akhirnya Nabi berdiri dan berkata, "Allahu Akbar. Diamnya Fatimah merupakan tanda kerelaannya."

 

Ketika itu juga Malaikat Jibril turun dan berkata, "Wahai Rasulullah! Nikahkan Fatimah dengan Ali. Allah menerima Fathmah untuk Ali dan sebaliknya, Ali untuk Fatimah."

 

Akhirnya Rasulullah Saw menikahkan Ali dengan Fatimah. Setelah mempersiapkan segala sesuatu, keduanya dinikahkan oleh Rasulullah tanggal 1 Dzulhijjah 2 HQ.

 

Mas kawin Sayidah Fatimah Zahra senilai 500 dirham dimana Ali membeli rumah dari setengah harga mas kawin tersebut. Sekaitan dengan hal ini Nabi berkata, "Saya menikahkan Fatimah dengan Ali sesuai dengan perintah Allah."

 

Dengan demikian, Sayidah Fatimah as hidup serumah dengan Imam Ali as. Dari pernikahan keduanya lahir dua pemuda penghulu Surga, Imam Hasan dan Husein as dan Sayidah Zainab Kubra dan Shugra as.

 

Tzar Rusia Berusaha Memisahkan Georgia dari Iran

 

237 tahun yang lalu, tanggal 22 Juli 1783, Tzar Rusia dalam usahanya untuk melaksanakan wasiat dari Peter the Great, mantan penguasa Rusia, berkenaan dengan penguasaan Rusia atas Teluk Persia, melakukan langkah pertamanya dengan memisahkan Georgia dari kekuasaan Iran.

 

Dalam rangka ini, Tzar Rusia menjalin perjanjian dengan pemimpin Georgia yang menyatakan bahwa Georgia berada di bawah perlindungan Rusia dan Georgia dilarang berhubungan langsung dengan Iran dan Ottoman. Meskipun perjanjian antara Georgia dan Rusia ini menimbulkan kemarahan di pihak Iran, namun raja Iran saat itu yang sibuk dengan perang dan konflik dalam negeri tidak mengambil langkah apapun dalam menanggapi masalah ini.

 

Mohammad Reza Pahlevi Akui Rezim Zionis Israel

 

69 tahun yang lalu, tanggal 1 Mordad 1330 HS, Shah Mohammad Reza Pahlevi mengakui rezim Zionis Israel.

 

Ketika perang propaganda mencapai puncaknya antara Iran dan beberapa negara seperti Uni Soviet dan Cina akibat begitu dekatnya Shah Mohammad Reza Pahlevi kepada Amerika dan pemberian banyak konsesi kepada AS, pemerintah Manouchehr Iqbal, Perdana Menteri waktu itu mulai kasak-kusuk untuk menjalin hubungan dengan rezim Zionis Israel. Akhirnya, pemerintah Iran mengakui Zionis Israel secara terbatas.

 

Tampaknya kedua pemerintah juga tidak terjadi pertukaran duta besar, tapi seorang dari pejabat kementerian luar negeri menjadi kuasa usaha di Israel, sementara Zionis Israel menetapkan atase ekonominya di Iran menjalankan tugas seorang duta besar.

 

Menyusul terjalinnya hubungan antara Iran dan rezim Zionis Israel, Gamal Abdul Nasser, Presiden Mesir mengeluarkan pernyataan keras terhadap Shah Iran dan mengritik sikap Iran mengakui Zionis Israel. Pernyataan Gamal Abdul Nasser itu sangat berpengaruh terhadap negara-negara Islam, sehingga mereka ikut mengritik pemerintah Iran, sehingga Shah terpaksa mengirim pesan telegram kepada Syeikh Shaltout, Syeikh al-Azhar yang isinya menjelaskan bahwa pada 1 Mordad 1330, Iran mengakui rezim Zionis Israel secara terbatas dan saat ini tidak melakukan tindakan apa-apa.

 

Pasca hubungan Iran dan rezim Zionis Israel, dampak dari tekanan Amerika, pemerintah Mesir memutuskan hubungannya dengan Iran dan mengusir para diplomat Iran dari Kairo.