Irak, Poros Baru Kebangkitan Islam
Konferensi Dewan Tinggi Forum Dunia Kebangkitan Islam ke-9 yang digelar di Baghdad, Irak berakhir hari Minggu sore (23/10/2016). Pertemuan tersebut merupakan konferensi Forum dunia Kebangkitan Islam yang pertama kali digelar di luar Iran sejak berdiri lima tahun silam.
Forum Dunia Kebangkitan Islam dibentuk atas inisiatif Ayatullah Khamenei menyikapi gelombang kebangkitan Islam di negara-negara Muslim. Arus gelombang baru Kebangkitan Islam di kawasan Afrika Utara dan Asia Barat pada tahun 2011 memunculkan sebuah kebutuhan untuk membentuk forum yang akan mengarahkan gerakan rakyat dan menjelaskan konspirasi musuh terhadap Dunia Islam.
Forum Dunia Kebangkitan Islam muncul untuk memperkuat barisan kaum Muslim dalam melawan konspirasi musuh. Hingga kini, gerakan Kebangkitan Islam tetap bergelora di Irak, Suriah, Bahrain, Yaman, dan Palestina.
Gerakan kebangkitan Islam dimulai tahun 2011 di Tunisia dengan tumbangnya rezim despotik Ben Ali. Kemudian menjalar dengan cepat ke berbagai negara kawasan Timur Tengah dan Afriika Utara. Diktator Mesir, Hosni Mobarak yang berkuasa selama bebearapa dekade tumbang digulingkan oleh perlawanan rakyat revolusioner Mesir, terutama kalangan muda Muslim yang berpusat di bundaran Tahrir.
Seiring tumbangnya dua diktator ini, AS dan sekutunya di Eropa berupaya mengalihkan revolusi rakyat yang lahir dari kebangkitan Islam di kawasan karena kepentingan mereka terancam. Salah satu kelemahan gerakan kebangkitan Islam di kawasan ini adalah tidak adanya pimpinan yang kuat dan didukung oleh semua kalangan. Selain itu, tidak adanya kejelasan agenda dari gerakan mereka setelah menggulingkan rezim diktator.
Sebagian gerakan Islam seperti Ikhwanul Muslimin mempercayai Barat.Akibatnya mereka terperangkap jebakan Barat yang berupaya menyelewengkan kebangkitan Islam hingga berujung kudeta terhadap Mursi setelah terpilih sebagai presiden melalui pemilu yang demokratis.
AS dan sekutunya di Eropa memanfaatkan kelemahan tidak adanya pemimpin yang kuat dan agenda yang matang dari gerakan revolusioner rakyat setelah tergulingnya rezim despotik, untuk mengalihkan gerakan kebangkitan Islam. Tidak lama setelah rezim Ben Ali di Tunisia, dan Mobarak di Mesir tumbang, rakyat Libya bangkit menggulingkan Ghaddafi.
Di Libya, negara-negara Barat menunggangi gerakan perlawanan rakyat di negara ini. Setelah rezim Ghaddafi tumbang, Libya bukan membaik tapi justru semakin terkotak-kotak menjadi beberapa kubu, dan Barat dengan leluasa menancapkan pengaruhnya di tubuh kekuasaan Libya yang tercerai-berai. Politik “belah bambu” yang dijalankan Barat di Libya membuka jalan bagi masuknya pengaruh kelompok teroris Al-Qaeda dan Daesh.
Di Libya, AS dan negara-negara Barat berperan mendukung gerakan perlawanan rakyat negara Afrika Utara itu dalam menggulingkan rezim Ghaddafi. Tapi di Bahrain, Barat justru menjadi pembela utama rezim Al Khalifa dalam menumpas suara perlawanan rakyat yang menyerukan demokratisasi dan keadilan.
Di Suriah, AS bersama sekutu Barat dan Arab serta Turki melancarkan konspirasi untuk menggulingkan pemerintahan Suriah dengan memanfaatkan aksi protes kelompok oposisi. Dengan mengatasnamakan dukungan terhadap kebebasan dan protes rakyat Suriah, AS dan sekutunya mengirimkan para teroris yang direkrut dari berbagai negara dunia demi menggulingkan pemerintahan Bashar Assad.
Di berbagai negara Muslim seperti Suriah dan Irak, kelompok teroris takfiri semacam Daesh melakukan berbagai kejahatan besar. Kelompok-kelompok teroris takfiri yang dibidani kelahirannya oleh negara-negara Barat menjadikan Suriah dan Irak sebagai konsentrasi para teroris dari berbagai penjuru dunia.
Tujuan utama Barat mendukung kelompok-kelompok teroris yang beroperasi di negara-negara Muslim adalah mengobarkan friksi antarmazhab Islam, dan menyelewengkan gerakan kebangkitan Islam. Meskipun di permukaan slogan yang mereka usung adalah perang melawan terorisme, tapi faktanya para teroris itu adalah binaan mereka sendiri. Ironisnya sejumlah negara Muslim justru menjadi sekutu Barat dalam mendukung teroris.
Di Suriah, Arab Saudi bersama Turki, Qatar dan Uni Emirat Arab menjalankan skenario AS dan negara-negara Barat dalam mendukung kelompok teroris yang beroperasi di negara Arab itu. Merekalah yang selama ini memantik kedatangan ribuan teroris dari berbagai penjuru dunia ke Suriah dan Irak.
Turki adalah salah satu koridor utama teroris untuk memasuki Suriah dan Irak. Arab Saudi, Qatar dan Uni Emirat Arab menjadi penyandang dana utama kelompok teroris, terutama yang beroperasi di Suriah dan Irak. Beberapa waktu lalu, sebuah liputan media membongkar laporan mengenai pembelian 60.000 unit Land Cruiser oleh Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab dari perusahaan Toyota Jepang. Ternyata, kendaraan tersebut dipergunakan oleh kelompok teroris yang beroperasi di Suriah dan Irak. Tidak hanya itu, negara-negara Arab ini memasok senjata untuk teroris yang dibeli dari Barat.
Kelompok teroris semacam Daesh yang dirancang Barat untuk menyelewengkan gerakan kebangkitan Islam di negara-negara Muslim. Salah satu isu yang menjadi agenda utama dibentuknya Dewan Tinggi Kebangkitan Islam adalah menghadapi skenario Barat tersebut yang menargetkan perpecahan di tubuh umat Islam.
Pertemuan yang berlangsung dua hari ini dihadiri oleh lebih dari 50 ulama, cendekiawan, dan intelektual dari 22 negara Muslim, yang mayoritas dari kalangan Sunni. Mereka menyerukan negara-negara Muslim bersatu dengan berpegang teguh pada nilai-nilai Islam utama, yaitu al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad Saw.
Konferensi Kebangkitan Islam di Irak, yang saat ini berada di garis depan memerangi teroris Daesh, menunjukkan bahwa negara-negara Islam mendukung rakyat dan pemerintah Irak dalam menggagalkan konspirasi musuh. Perlawanan rakyat Irak bersama rakyat Suriah dan Yaman terhadap berbagai konspirasi musuh adalah bukti nyata dari kelanjutan gerakan Kebangkitan Islam.
Para peserta dengan suara bulat mendukung integritas teritorial dan kedaulatan nasional Suriah dan Irak dalam memerangi terorisme dan konspirasi musuh serta perlawanan rakyat Yaman dan Palestina terhadap rezim agresor dan penjajah.
Mantan perdana menteri Irak, Nouri Maliki dalam pidato sambutannya mengatakan bahwa pemikiran takfiri yang diadopsi kelompok-kelompok teroris, terutama Daesh berupaya menyulut konflik sektarian di tengah umat Islam. Sementara itu, Perdana Menteri Irak, Haider Al-Abadi mengungkapkan bahwa terorisme tidak membedakan antara Sunni dan Syiah, bahkan Daesh lebih menyengsarakan Sunni.
Sekjen Dewan Tinggi Forum Dunia Kebangkitan Islam, Ali Akbar Velayati mengatakan, "Hari ini gerakan Kebangkitan Islam jelas terlihat di seluruh wilayah Islam berkat nilai-nilai Islam. Pekikan melawan kekuatan arogan dan intimidasi adalah hasil pertama dari Kebangkitan Islam di kawasan ini."
Di akhir pertemuan dibacakan Komunike bersama untuk menghadapi tantangan yang muncul akibat kehadiran kekuatan asing di negara-negara Muslim, termasuk Suriah, Irak, Yaman, dan Palestina. Gerakan Kebangkitan Islam sebagai sebuah realitas sedang berkembang di kawasan berkat nilai-nilai Islam dan persatuan umat Islam.
Mereka juga memperingatkan terhadap tantangan baru yang dihadapi Dunia Islam dewasa ini, seperti kampanye Islamphobia, sektarianisme di Dunia Islam, kesalahpahaman, tindakan memecah belah, dan kurangnya pengetahuan tentang sisi kesamaan mazhab-mazhab Islam. Persatuan dan kearifan dapat menjadi dua strategi utama untuk melestarikan gerakan Kebangkitan Islam sekaligus melumpuhkan konspirasi musuh.