Esensi Ziarah Arbain
https://parstoday.ir/id/radio/west_asia-i26149-esensi_ziarah_arbain
20 Safar bertepatan dengan peringatan Arbain para syuhada Karbala, hari ziarah khusus kepada Imam Husain as. Istilah Arbain yang berarti "empat puluh hari" memiliki nilai khusus di tengah-tengah budaya umat Islam.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Nov 19, 2016 12:40 Asia/Jakarta

20 Safar bertepatan dengan peringatan Arbain para syuhada Karbala, hari ziarah khusus kepada Imam Husain as. Istilah Arbain yang berarti "empat puluh hari" memiliki nilai khusus di tengah-tengah budaya umat Islam.

Bila salah satu keluarga muslim meninggal dunia, maka para ahli waris akan memperingati duka kematian keluarganya sejak hari pertama kematian sampai hari ketujuh. Setelah itu peringatan duka akan dilaksanakan kembali pada hari ke empat puluh kematiannya keluarganya. Dalam memperingati hari keempat puluh kematian keluarganya, ahli waris mengeluarkan sedekah dan kebaikan, menyelenggarakan majlis tahlil dan doa yang pahalanya di niatkan untuk almarhum dengan  mengundang para tentangga terdekat, kerabat dan sanak famili.

 

Istilah Arbain ini juga bisa kita temui pada budaya Asyura. Dalam budaya Asyura, Arbain berarti hari keempat puluh syahidnya Imam Husein as di Karbala. Arbain Imam Husein as bertepatan dengan tanggal 20 Safar. Pada hari ini para pecinta keluarga Rasulullah Saw seluruh dunia kembali menyelenggarakan duka syahidnya Imam Husein as. Para pecinta Keluarga Rasulullah Saw kembali mengenang perjuangan dan pengorbanan Imam Husein dan para sahabatnya dalam menegakkan Islam. Peringatan Arbain menjadi ajang para pecinta keluarga Rasulullah Saw untuk memperbarui baiatnya kepada mereka. Meski peristiwa Karbala sudah ratusan tahun berlalu, peringatan Arbain sebagai manifestasi kecintaan para pecinta keluarga Rasulullah Saw.

 

Arbain pertama Imam Husein as di Karbala dihadiri Jabir bin Abdullah Anshari. Jabir bin Abdullah Anshari adalah salah satu sahabat setia Rasulullah Saw yang berumur panjang. Ia lahir di Madinah pada tahun 15 sebelum hijrah dari keluarga Khazraj. Ayahnya bernama Abdullah bin Amr, penduduk Madinah yang pertama kali menerima ajakan Rasulullah Saw dan memeluk Islam sebelum hijrah.

 

Suatu hari Rasulullah Saw bersabda kepada Jabir: "Hai Jabir! Engkau akan berumur panjang sampai bisa menemui anakku Muhammad bin Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib. Di dalam Taurat dikenal dengan nama Baqir. Sampaikan salamku padanya bila kau menemuinya!"

 

Beberapa tahun berikutnya, Jabir menemui Imam Ali Zainul Abidin as dan mendapati seorang anak duduk di samping beliau. Jabir memanggil untuk mendekatinya kemudian berkata, "Demi Tuhannya Ka'bah, engkau mirip sekali dengan Rasulullah Saw! Kemudian Jabir menghadap Imam Zainul Abidin as seraya bertanya, "Siapakah ini? Imam Zainul Abidin as menjawab, "Ini adalah putraku dan imam setelahku, namanya Muhammad Baqir."

 

Jabir bangun dan sungkem di hadapan Imam Baqir as dan menciumnya seraya berkata: "Jiwaku untukmu wahai putra Rasulullah! Aku sampaikan salam ayahmu. Sesungguhnya Rasulullah Saw menyampaikan salam untukmu. Kedua mata Imam Baqir penuh dengan genangan air mata seraya berkata, "Wahai Jabir! Salam senantiasa untuk ayahku Rasulullah Saw selama langit dan bumi masih tegak. Dan salam untukmu wahai Jabir yang telah menyampaikan salam kepadaku."           

 

Pada Arbain tahun 61Hq, Jabir bin Abdullah Anshari datang menziarahi makam Imam Husein as di Karbala bersama Athiyah bin Saad bin Junadah Aufi. Athiyah adalah salah satu ilmuwan, mufassir dan ahli hadis yang lahir pada zaman pemerintahan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. Ketika Athiyah lahir ayahnya pergi menemui Imam Ali as seraya berkata, "Wahai Amirul Mukminin, Allah telah mengangnugerahkan anak kepada saya, tolong beri nama untuknya!" Imam Ali as berkata:,"Anak ini adalah Athiyatullah (pemberian Allah)." Imam Ali as menamakannya dengan kata-kata yang diucapkannya yaitu Athiyah.

 

Terkait ziarah Arbain yang dilakukan Jabir di makam Imam Husein as di Karbala, Athiyah meriwayatkan: "Aku bersama Jabir bin Abdullah Anshari menziarahi makam Imam Husein as. Ketika kami sampai di Karbala, Jabir mendekati sungat Furat dan mandi. Kemudian memakai pakaian (semacam pakaian ihram) satu helai dibalutkan di pinggang dan satu helai lainnya dipakai di pundak dan badannya. Setelah itu mengeluarkan wewangian berupa tepung (akar pohon berbau wangi) dari kantongnya, kemudian memakainya. Ia bergerak menuju makam Imam Husein as dalam kondisi mengucapkan zikir seraya berkata, "Bawa aku ke makam Husein sehingga aku bisa memegangnya!" (kata-kata ini diucapkan oleh Jabir karena matanya sudah buta).

 

Aku gandeng tangannya dan kuantar dia sampai ke makam Imam Husein as. Karena saking sedihnya ia pingsan dan jatuh di atas makam. Aku percikkan air ke wajahnya. Ketika siuman ia berkata, "Apakah kekasih tidak menjawab kekasihnya?"

 

Kemudian Jabir berkata, "Bagaimana engkau bisa menjawab, sementara urat badan dan lehermu terputus dan lehermu bergelimang darah. Kepalamu terpisah dari badanmu. Aku bersaksi, engkau adalah putra sebaik-baik nabi. Engkau adalah pemimpin orang-orang mukmin. Engkau adalah teladan takwa. Engkau adalah anak para pemberi petunjuk dan pemimpin. Engkau adalah orang kelima ahli kisa'. Engkau adalah putra Ali bin Abi Thalib. Engkau adalah putra penghulu para wanita. Bagaimana engkau tidak menjadi demikin? Sementara engkau disuap dengan tangan pemimpin para nabi. Engkau diasuh dalam pangkuan orang yang bertakwa. Engkau disusui dengan keimanan dan disapih dengan keislaman. Engkau hidup dan mati dalam keadaan suci.

 

Hati orang-orang mukmin terbakar karena berpisah darimu. Mereka yakin engkau hidup. Salam dan kebahagiaan dari Allah untukmu. Aku bersaksi, kisahmu seperti kisah syahidnya Nabi Yahya bin Zakaria, dimana thagut di zamannya telah memenggal kepalanya."

 

Selanjutnya Aufi meriwayatkan: "Kemudian Jabir memperhatikan makam para syuhada Karbala di sekitar makam Imam Husein dan menziarahinya seraya berkata, "Salam untuk kalian ruh-ruh yang berada di sekitar makam Imam Husein as. Kalian telah menidurkan onta-onta kalian demi dia. Aku bersaksi, kalian telah menunaikan shalat, membayar zakat dan melaksanakan amar makruf dan nahi mungkar. Kalian berperang melawan orang-orang yang sesat. Kalian telah menyembah Allah hingga datang kematian kalian. Demi Allah yang telah mengutus Muhammad Saw dengan benar. Kami bersama kalian dalam segala hal yang kalian alami."

 

Athiyah Aufi berkata, "Aku bertanya kepada Jabir, "Bagaimana kita bisa bersama mereka para syuhada Karbala? Sementara kita tidak bersama mereka dan tidak mengayunkan pedang sebagaimana mereka. Bahkan para syuhada ini telah berkorban, dimana kepala-kepala mereka terpenggal, anak-anak mereka menjadi yatim dan istri-istri mereka menjadi janda!?"

 

Jabir menjawab, "Hai Athiyah, aku mendengar sendiri dari Rasulullah Saw bersabda, "Barang siapa yang mencintai sebuah kaum, maka ia akan dibangkitkan bersama kaum tersebut. Barang siapa yang menyukai perbuatan sebuah kaum, maka ia terhitung sebagai mitra mereka dalam perbuatan tersebut. Demi Allah yang telah mengutus Muhammad Saw dengan benar, niatku dan niat para sahabatku sama seperti niatnya Imam Husein as dan niat para sahabatnya. Atas niat itulah mereka mencapai kesyahidan."

 

Jabir telah melaksanakan wasiat Rasulullah Saw sebagai peziarah pertama makam Imam Husein as dan berhasil mendirikan sunnah besar ini di masa-masa sulit zaman itu. Wasiat Rasulullah Saw sebagai berikut, "Hai Jabir, ziarahilah makam Husein karena sesungguhnya pahala menziarahinya sama dengan menunaikan haji sunnah sebanyak seratus kali. Sesungguhnya makam Husein bin Ali adalah sebuah taman dari taman-taman di surga dan sesungguhnya tanah Karbala terhitung sebagai tanah surga." 

 

Ziarah untuk mengenang Husain bin Ali! Husain yang menurut Imam Shadiq as berhasil menyelamatkan umat dari kebodohan akibat propaganda busuk dan pendidikan menyimpang Bani Umayyah yang menjauhkan mereka dari nilai-nilai sejati al-Quran dan sunnah. Dan keberhasilan ini melalui keberanian dan pengorbanan Imam Husain beserta pengikutnya di Padang Karbala.

 

Gerakan gagah berani Imam Husain menguak strategi propaganda dan menyimpang Bani Umayyah yang mengklaim sebagai pewaris Nabi. Kebangkitan Imam Husain berhasil memupus ajaran sesat penguasa dan menghidupkan kembali Islam sejati serta membuatnya semakin kokoh.

 

Imam Hasan Askari bersabda, “Tanda-tanda orang mukmin ada lima, menunaikan 51 rakaat shalat (17 rakaat shalat wajib dan 34 rakaat shalat sunnah), ziarah Arbain, memakai cincin di jari tangan kanan, sujud di atas tanah dan membaca bismillah dengan suara keras saat shalat.

 

Di peringatan hari Arbain ada sejumlah ziarah yang dianjurkan untuk dibaca. Salah satunya dikenal dengan “Ziarah Arbain” dari ajaran langsung Imam Shadiq as yang dibacakan kepada para murid beliau. Isi ziarah ini penuh dengan ajaran tinggi Islam. Ziarah Arbain yang dinukil dari Imam Shadiq ini mencakup irfan, ibadah, pengorbanan, syahadah, keridhoaan dan kerja keras. Ziarah Arbain ini memiliki nilai sangat tinggi di mana para pembacanya mengungkapkan ikrarnya untuk bersama para syuhada Karbala dan menjadi penerus Husain di kondisi apa pun.

 

Ziarah Arbain sama seperti ziarah lainnya, diawali dengan salam. Peziarah melalui salam ini sejatinya mengungkapkan kerendahan hati kepada Imam Husain. Mereka mengatakan, “Salam atas wali Allah dan kekasih-Nya. Salam atas keistimewaan Allah dan pilihan-Nya. Salam atas kesucian Allah dan putera kesucian-Nya.” Di salam ini, para peziarah menisbatkan sifat-sifat nabi Ulul Azmi seperti Nabi Muhammad Habibulla, Nabi Ibrahim Khalilullah dan Nabi Adam Safiullah kepada Imam Husain.

 

Dengan ungkapan yang diajarkan Imam Shadiq ini, para peziarah menyatakan bahwa Husain adalah sari dari para nabi Ulul Azmi. Di bagian lain ziarah disebutkan, Salam kepada mereka yang menjadi pewaris seluruh Nabi. Oleh karena itu, peringatan Arbain sama dengan memperingati serta membenarkan kebangkitan para Nabi, mulai dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad.

 

Siapa saja yang mendengar nama Husain dan tragedi Karbala, tanpa disadari akan meneteskan air mata. Air mata ini sangat berbeda dengan air mata manusia yang sekedar kehilangan kerabat atau ditimpa musibah. Air mata yang mengalir karena musibah yang dialami Imam Husain, jika dibarengi dengan makrifah dan kesardaran dapat mengangkat manusia dari alam rendah menuju alam malakut yang lebih tinggi.

 

Ayat 83 surat al-Maidah menyebutkan, “Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad s. a. w.).” Oleh karena itu, peziarah melalui salam dan pujian senantiasa mengenang musibah Imam Husian dan mengatakan, ” Salam atas Al-Husein yang mazhlum dan syahid. Salam atas yang tertawan dalam peristiwa yang paling berduka dan terbunuh dalam tragedi paling menderita”

 

Di bagian kedua ziarah Arbain, para peziarah mengikrarkan wilayah, kehormatan, kebahagiaan dan kesucian Imam Husain. “Ya Allah, aku bersaksi bahwa dia adalah kekasih-Mu dan putera kekasih-Mu, pilihan-Mu dan putera pilihan-Mu yang beruntung dengan kemuliaan-Mu. Kau muliakan dia dengan kesyahidan, Kau hampiri dia dengan kebahagiaan, Kau pilih dia dengan kelahiran yang baik. Kau jadikan dia penghulu para sayyid, pemimpin dari para pemimpin, dan pertahanan dari semua pertahanan. Kau karuniai dia pewaris para nabi, Kau jadikan dia hujjah atas makhluk-Mu dari para washi.”