Definisi dan Makna Persatuan Umat Islam
Umat Islam memiliki budaya umum dan pandangan serupa tentang dunia. Mereka semua menyembah satu Tuhan dan beriman kepada kenabian Rasulullah Saw. Kitab suci mereka al-Quran dan Ka'bah adalah kiblatnya. Mereka sama-sama berhaji ke Mekah, menunaikan shalat dan berpuasa. Mereka tidak memiliki banyak perbedaan kecuali dalam hal-hal yang tidak prinsipil (furu').
Cahaya Islam terbit di masa memuncaknya kegelapan dan kebodohan umat manusia. Lentera harapan dan kebebasan menyinari hati-hati manusia yang terbelenggu oleh kebodohan dan menerangi pandangan mereka. Kidung persatuan menyapu seluruh penjuru dunia. Kaum, kabilah dan suku yang terpecah-belah diajak untuk bersatu dan berpegang teguh kepada tali ilahi. Hal ini berkat kelahiran manusia agung, pembawa pesan persatuan dan risalah ilahi serta utusan Allah Swt, yaitu Rasululah Muhammad Saw.
Kini, hari-hari mulia dan mengesankan itu telah berlalu lebih dari 1.400 tahun, namun hingga saat ini, senandung indah tersebut masih menyatukan hati dan pikiran orang-orang Mukmin. Meskipun ada perbedaan pendapat dalam berbagai mazhab Islam terutama Syiah dan Sunni mengenai hari kelahiran Rasulullah Saw, namun mereka sepakat tentang bulan dan tahun kelahiran beliau. Sunni meyakini bahwa hari kelahiran Nabi Muhammad Saw jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 570 M, sementara menurut Syiah, beliau lahir pada tanggal 17 Rabiul Awal.
Persatuan adalah salah satu ajaran penting al-Quranul Karim. Meskipun kata "persatuan" tidak digunakan dalam al-Qur'an, namun masalah ini dijelaskan dalam ayat-ayatnya. Dalam surat Al-i-Imran ayat 103, Allah Swt berfirman, "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadikan kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara…."
Allah Swt, dari satu sisi mengajak umat manusia kepada kebahagiaan, ilmu dan amal, namun dari sisi lain, Dia mengingatkan tentang kebodohan, perpecahan dan permusuhan. Permusuhan di antara bangsa Arab memiliki akar panjang disebabkan fanatik suku dan etnis. Lalu Islam datang dan mengajak mereka kepada persaudaraan dan kesetaraan. Islam menjelaskan tujuan penciptaan manusia untuk sampai kepada kesempurnaan dan sebagai pedoman bagi kehidupan umat manusia di dunia.
Selain menegaskan tentang persatuan umat Islam, Surat Al-i-Imran Ayat 64 juga menekankan untuk bersatu dengan para pengikut agama-agama lain berdasarkan kalimat Tauhid. Allah Swt berfirman, "Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah…."
Dengan demikian, perbedan kecil dan tidak prinsipil tidak seharusnya menghalangi umat Islam untuk mencapai persatuan dan hidup berdampingan dengan rukun. Sebab, Tuhan mereka satu, kitab suci dan nabi mereka juga sama. Mereka shalat menghadap Ka'bah dan berhaji ke tanah suci serta menunaikan ibadah puasa. Mereka membina rumah tangga dan keluarga, jual beli dan mendidik anak-anak serta menguburkan jenazah mengikuti sunnah dan ajaran Rasulullah Saw. Mereka tidak memiliki banyak perbedaan kecuali dalam masalah furu'iyah.
Persatuan di antara umat Islam bukanlah sebuah persatuan taktis yang berdasarkan kepentingan politik. Persatuan ini tidak seperti persatuan dua kelompok politik untuk mencapai sebuah tujuan bersama dan jangka pendek. Contohnya, jika ada dua kelompok politik di masyarakat Islam, di mana salah satunya adalah atheis dan kelompok lainnya adalah orang-orang Muslim, maka tidak boleh terjadi persatuan di antara mereka. Imam Khomeini (ra), Pencetus Revolusi Islam Iran tidak menganggap para komunis yang turut serta dalam perjuangan melawan rezim Pahlevi sebagai saudara. Beliau juga tidak menilai mereka sebagai sekutu perjuangan masyarakat Muslim.
Beberapa bulan sebelum kemenangan Revolusi Islam, seseorang bertanya kepada Imam Khomeini, apakah Anda bekerjasama dengan elemen-elemen Marxisme? Beliau menjawab, "Tujuan kami dengan tujuan mereka berbeda. Kami bersandar kepada Islam dan Tauhid, sementara mereka menentang keduanya. Hukum kami adalah hukum Islam dan mereka tidak menerima Islam. Oleh karena itu, kami tidak tertarik untuk bekerjasama dengan mereka. Kami tidak memiliki kerjasama (dengan mereka) dan tidak akan memilikinya…." (Sahifah-e-Nur, Juz 4, Halaman 37)
Atas dasar tersebut, persatuan menurut pandangan Republik Islam adalah bukan persatuan taktis dan temporary, namun persatuan yang mendalam dan stabil, di mana dengan menciptakan kekompakan dan keharmonisan yang diperlukan akan tercipta kondisi yang tepat untuk pertumbuhan bakat dan perkembangan potensi guna menerima kebenaran agama yang dipilih secara bebas. Dan yang lebih penting dari itu, penciptaan persatuan itu sendiri adalah salah satu tugas penting umat Islam. Hal ini seperti dijelaskan dalam al-Quran, "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai…."
Persatuan di antara mazhab-mazhab Islam bukan berarti harus melepaskan keyakinan-keyakinan dalam mazhabnya. Jangan sampai ada yang berpikir bahwa persatuan umat Islam adalah memilih salah satu mazhab Islam dan kemudian meninggalkan mazhab-mazhab lainnya, atau mengambil semua persamaan mazhab dan mengesampingkan semua perbedaannya serta menciptakan mazhab baru yang tidak sama dengan mazhab apapun.
Yang dimaksud dengan persatuan Syiah dan Sunni adalah mengesampingkan persoalan yang diperdebatkan dan bersandar pada kesamaan serta menempatkan landasan interaksi satu dengan yang lainnya terkait isu-isu dunia Muslim dan dunia internasional. Artinya, umat Islam harus bergerak searah dan sejalan tanpa memandang perbedaan dan menjauhi perpecahan dan konflik terkait isu-isu dunia Islam.
Sheikh Ashour, Wakil Universitas al-Azhar Mesir dan Ketua Komite Dialog antar Mazhab Islam menyinggung persatuan di antara mazhab-mazhab Islam. Beliau mengatakan, "Maksud kami bukan menyatukan semua mazhab dan berpaling dari mazhab lain serta beralih ke mazhab lainnya, di mana hal ini akan mengaburkan ide pendekatan mazhab. Keselarasan harus didasarkan pada diskusi dan penerimaan ilmiah sehingga dengan 'senjata' ilmiah ini, mereka bisa terjun ke medan perang untuk melawan penyimpangan. Para cendekiaan setiap mazhab harus bertukar ilmu melalui dialog-dialog ilmiah agar mereka bisa mengetahui, mengenal dan menjelaskan serta mengambil kesimpulan dalam lingkungan yang tenang."
Persatuan di antara mazhab-mazhab Islam merupakan peluang yang baik agar kedua belah pihak bisa membahas dan menyampaikan konsep ilmiah dalam kondisi dan lingkungan yang sehat dan bersahabat. Oleh karena itu, persatuan tidak bertentangan dengan penjelasan mengenai kebenaran dan penolakannya. Sebab, jika tidak demikian, maka justru akan menjadi faktor perpecahan.
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran berulang kali menegaskan pentingnya untuk menjaga persatuan dalam definisi dan penjelasannya. Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei mengatakan, kami serius mengenai persatuan. Kami juga telah memaknai persatuan umat Islam. Persatuan umat Islam bukan berarti umat Islam dan berbagai firqah menarik diri dari keyakinan teologi dan fikih tertentu mereka, namun persatuan umat Islam bermakna dua hal yang keduanya harus terpenuhi.
Rahbar menambahkan, kedua makna itu adalah pertama, baragam firqah Islam (Sunni dan Syiah) harus berempati, bekerjasama dan berkonsultasi dalam menghadapi musuh-musuh Islam. Kedua, berbagai firqah Islam harus berusaha saling mendekat, menciptakan pemahaman dan membandingkan mazhab-mazhab fikih serta menyesuaikan. Ada banyak fatwa para Fuqaha dan ulama, di mana jika dibahas secara bijak di bidang ilmu fikih, mungkin saja fatwa-fatwa kedua mazhab akan menjadi dekat.
Ayatullah Khamenei menuturkan, kami tidak mengatakan bahwa orang-orang Sunni di dunia harus menjadi Syiah atau orang-orang Syiah di dunia harus meninggalkan akidahnya. Tentu saja, jika ada seorang Sunni atau siapa saja yang melakukan penelitian dan apapun akidahnya harus bertindak berdasarkan keyakinan dan penelitiannya, di mana kewajibannya bersama Tuhan-Nya. Pembicaraan kami di Pekan Persatuan dan sebagai pesan persatuan adalah umat Islam harus bersatu dan jangan sampai saling bermusuhan. Porosnya adalah al-Quran, Sunnah Nabi Muhammad Saw dan syariat Islam.
Musuh-musuh Islam merasa takut dengan persatuan umat Islam sehingga mereka menerapkan strategi yang dikenal dengan "memecah dan menguasai." Oleh sebab itu, umat Islam harus menempatkan perbedaan ke arah persaingan yang konstruktif dan tidak membiarkan perbedaan itu menjadi sumber permusuhan dan pengkafiran satu dengan lainnya, karena hal ini akan mengantarkan umat Islam kepada kehancuran. (RA)