Ambisi Saudi Membentuk Blok Baru Arab
https://parstoday.ir/id/radio/west_asia-i32701-ambisi_saudi_membentuk_blok_baru_arab
Dewan Kerjasama Teluk Persia (P-GCC) dibentuk pada tahun 1981 dengan enam negara anggota yaitu; Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain dan Oman. Ada banyak kesamaan di antara negara-negara anggota P-GCC. Dari segi demografi, hanya Bahrain yang memiliki populasi dengan mayoritas Syiah, namun lima negara lain anggota Dewan membentuk populasi dengan mayoritas Sunni.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Feb 11, 2017 08:00 Asia/Jakarta

Dewan Kerjasama Teluk Persia (P-GCC) dibentuk pada tahun 1981 dengan enam negara anggota yaitu; Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain dan Oman. Ada banyak kesamaan di antara negara-negara anggota P-GCC. Dari segi demografi, hanya Bahrain yang memiliki populasi dengan mayoritas Syiah, namun lima negara lain anggota Dewan membentuk populasi dengan mayoritas Sunni.

Dari segi bahasa dan agama, semua negara anggota P-GCC menggunakan bahasa Arab dan beragama Islam. Mereka juga menyimpan kesamaan dari segi ekonomi dan politik. Pendapatan utama negara-negara P-GCC berasal dari penjualan minyak dan gas, sementara sistem politik mengadopsi monarki dan dikendalikan oleh keluarga tertentu secara turun-temurun. Salah satu sisi kesamaan lain para anggota P-GCC adalah ketergantungan mereka pada kekuatan-kekuatan transregional dalam menjamin keamanan.

Dengan mencermati faktor-faktor kesamaan itu, P-GCC tidak memiliki kinerja yang sukses dan ia lebih banyak berperan sebagai sebuah klub untuk mendukung para raja. Salah satu contohnya adalah pengerahan tentara ke Bahrain pada Maret 2011 di bawah misi Pasukan Perisai Jazirah. Padahal, krisis Bahrain merupakan perseteruan antara rezim Al Khalifa dengan demonstran Bahrain dan sebuah isu dalam negeri, serta bertentangan dengan semangat lahirnya P-GCC, yaitu melindungi negara-negara anggota dari agresi asing.

Dalam menjamin keamanannya, negara-negara anggota P-GCC sangat mengandalkan kekuatan-kekuatan transregional terutama Amerika Serikat. Ketergantungan ini bahkan melebihi dari kemampuan pertahanan dan militer mereka sendiri. Ketergantungan ini juga terlihat dari kehadiran Armada Kelima AS di Bahrain, dua pangkalan militer Amerika di Kuwait, dua pangkalan militer lain di Oman dan juga Pangkalan Udara AS di al-Udeid dan al-Siliah, Qatar.

Kegagalan kinerja P-GCC dan ketergantungan akut mereka pada kekuatan transregional, telah menyebabkan munculnya wacana untuk menyulap P-GCC menjadi Serikat Teluk Persia (Gulf Union). Ide ini dilontarkan oleh Arab Saudi, dan Bahrain telah menjadi pendukung kuatnya. Al Saud – sebagai bapak angkat para raja Arab di Teluk Persia – berusaha membentuk sebuah blok seperti Uni Eropa dalam skala yang lebih kecil dengan melibatkan negara-negara Arab di wilayah Teluk Persia minus Irak dan beberapa negara lain di luar kawasan itu seperti, Yordania dan Maroko.

Misi utama Arab Saudi dalam menindaklanjuti wacana ini adalah untuk memperluas pengaruhnya di negara-negara Arab dengan cara menciptakan kebijakan regional yang searah dan terpadu. Dalam beberapa tahun terakhir, Saudi secara serius menindaklanjuti gagasan itu selama pertemuan di Manama, Bahrain. Al Saud melihat transformasi enam tahun terakhir di negara-negara Arab telah merusak perimbangan kekuatan yang merugikan Riyadh.

Dari sisi lain, Arab Saudi – dengan menindaklanjuti gagasan pembentukan Serikat Teluk Persia – berusaha untuk fokus pada isu-isu lain selain keamanan dan memikirkan solusi terhadap ancaman non-militer yang dihadapi oleh negara-negara Arab sekutu Riyadh. Krisis ekonomi merupakan ancaman non-militer terbesar yang dihadapi oleh mereka.

Di antara para anggota P-GCC, Bahrain merupakan satu-satunya negara yang menyuarakan dukungan kuat dan tanpa syarat terhadap ide pembentukan Serikat Teluk Persia. Alasan dukungan ini adalah karena situasi rumit yang dihadapi rezim Al Khalifa di Bahrain, ketergantungan keamanan rezim kepada Saudi dan prospek politik yang suram di negara itu. Saudi sendiri ikut mengkhawatirkan situasi di Bahrain.

Meski Uni Emirat Arab, Kuwait dan Qatar mendukung wacana pembentukan Serikat Teluk Persia, namun mereka belum memberikan dukungan kuat dan Kuwait bahkan pernah menentang gagasan ambisius ini. Dukungan lemah ini disebabkan perselisihan mereka dengan Arab Saudi dalam sejumlah isu. Mereka juga menolak berada terlalu dalam di bawah pengaruh Riyadh dalam kebijakan-kebijakan regional.

Rezim Saudi akan memiliki pengaruh besar terhadap negara-negara Arab lainnya jika Serikat Teluk Persia benar-benar lahir. Oman tercatat sebagai satu-satunya anggota P-GCC yang tidak mendukung wacana Serikat Teluk Persia dan bahkan menentangnya. Pemerintah Oman menilai kebijakan regional Arab Saudi sebagai faktor penting dalam memperluas kekacauan di Timur Tengah. Jadi, dapat disimpulkan bahwa wacana mengubah P-GCC menjadi Serikat Teluk Persia untuk saat ini hanya memiliki dua pendukung serius yaitu, Arab Saudi dan Bahrain.

Selain faktor-faktor tersebut, sebenarnya ada alasan lain yang mengindikasikan tidak adanya kapasitas yang diperlukan untuk membentuk Serikat Teluk Persia. Secara politik, meskipun para anggota P-GCC mengadopsi sistem pemerintahan yang sama, tapi mereka memiliki orientasi politik yang berbeda dan mengejar kepentingan masing-masing. Sebut saja Qatar, negara ini memiliki kecendrungan ke arah Ikhwanul Muslimin dan lebih mengedepankan Turki ketimbang Arab Saudi. Sementara Uni Emirat Arab memiliki kesepahaman politik yang lebih besar dengan Saudi.

Perbedaan oritentasi ini menyebabkan P-GCC gagal mengambil kebijakan yang seragam dalam menyikapi protes, yang mengguncang dunia Arab sejak tahun 2011. Masih dari segi politik, salah satu syarat penting membentuk sebuah kelompok kerjasama adalah merelakan sebagian dari kedaulatan nasional demi kepentingan kelompok. Dengan memperhatikan rivalitas internal di P-GCC, perselisihan dalam sejumlah isu dan krisis kepercayaan di antara para raja Arab, maka dapat disimpulkan, mereka tidak punya tekad politik yang kuat untuk merelakan sebagian dari kedaulatan nasionalnya demi kepentingan organisasi.

Di sektor ekonomi, Arab Saudi dalam kerangka P-GCC juga melakukan banyak upaya untuk menciptakan mata uang tunggal Arab. Tapi upaya ini tidak membuahkan hasil. Kehadiran mata uang tunggal tidak menjadi syarat penting untuk menjaga denyut nadi P-GCC, sementara syarat tersebut akan menjadi sebuah urgensitas dalam mewujudkan keberadaan Serikat Teluk Persia.

Salah satu syarat utama sebuah perhimpunan regional adalah bahwa perdagangan di zona mereka dan antar-anggota melebihi dari volume perdagangan dengan dunia luar. Namun, traksaksi perdagangan antar-anggota P-GCC dan juga aliran modal di antara mereka sangat rendah. Para anggota P-GCC lebih fokus melakukan investasi di negara-negara lain ketimbang menggarap potensi pasar di zona mereka sendiri.

Di samping itu, negara-negara anggota P-GCC justru terlibat persaingan di sektor ekonomi dan tidak menggarapnya untuk tujuan memperkuat persatuan. Oleh karena itu, mereka tidak mampu mengambil kebijakan ekonomi yang seragam. Jadi, harus dikatakan bahwa meski Arab Saudi melakukan banyak upaya untuk mengubah P-GCC menjadi Serikat Teluk Persia, namun tidak ada prospek yang cerah untuk mengumumkan kelahiran organisasi baru itu.