Tujuan Kunjungan MBS ke AS (1)
Hubungan resmi Amerika Serikat dan Arab Saudi sudah berjalan 75 tahun. Tur dua pekan Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) ke Washington dilakukan tepat pada ulang tahun ke-75 hubungan kedua negara. Perjalanan baru-baru ini adalah kunjungan keduanya ke AS setelah Donald Trump berkuasa. Perjalanan pertama dilakukan pada Maret 2017, dan dia adalah orang pertama di keluarga Al Saud yang bertemu dengan Trump.
Dalam kunjungan tahun lalu, Mohammed bin Salman menjabat sebagai wakil putra mahkota, menteri pertahanan dan direktur perusahaan Aramco, sementara dalam kunjungan kali ini, ia menyandang status putra mahkota Arab Saudi dan penguasa de facto kerjaaan, dengan tetap mempertahankan posisi menteri pertahanan dan direktur perusahaan Aramco.
Misi kunjungan MBS ke Washington dapat ditinjau dari dua bagian domestik dan regional. Di tingkat domestik, tujuan utama MBS adalah untuk mempromosikan dirinya dan memulai proses membangun kembali hubungan dengan AS. Secara pribadi, tujuan utama putra mahkota Saudi adalah memperoleh dukungan AS bagi kekuasaannya; sebuah tujuan yang disebutnya hanya kematian yang bisa menghentikan niatnya.
Direktur Brookings's Intelligence Project, Bruce Riedel menilai kunjungan MBS ke Washington, mirip dengan lawatan Faisal bin Abdulaziz pada tahun 1946 ke negara itu. Dia menuturkan, "Hubungan AS-Saudi sudah berjalan 75 tahun. Untuk pertama kalinya, Pangeran Faisal, putra ketiga Abdulaziz, pendiri Al Saud di Arab Saudi, mengunjungi Washington pada tahun 1943 dan selama Perang Dunia Kedua. Dia bertemu dan berdialog dengan Presiden Franklin D. Roosevelt. Faisal dikirim ke Washington oleh ayahnya, Abdulaziz."
"Di Washington, Faisal mendapat sambutan dan jamuan yang mengesankan. Dalam perjalanan ini disepakati pembangunan sebuah pangkalan udara Amerika di kota Zahran, Arab Saudi, yang merupakan pangkalan udara pertama AS di Timur Tengah. Pangkalan ini diresmikan pada 1946, dan AS menggunakan fasilitas ini hingga tahun 1996," ujar Riedel.
Sebenarnya, Pangeran Faisal telah memberikan konsesi pangkalan militer di wilayah Saudi bersama dengan konsesi minyak ke AS. Namun, kunjungan Pangeran Faisal ke Washington tidak membuatnya menjadi raja Saudi setelah kematian ayahnya. Saudaranya, Saud bin Abdulaziz justru diangkat menjadi raja, dan kemudian baru giliran Pangeran Faisal naik takhta pada 1964, namun ia dibunuh oleh keponakannya pada 1975.
MBS juga mengincar takhta kerajaan Saudi, dan ia percaya bahwa restu Gedung Putih akan memuluskan langkahnya itu, meskipun dukungan AS pada dekade 50-an tidak berhasil mengantarkan Pangeran Faisal ke tampuk kekuasaan. MBS juga melakukan kunjungan ke Gedung Putih tahun lalu sebelum ia diangkat menjadi putra mahkota. Dia mempersiapkan rencana kunjungan Trump ke Riyadh, dan hanya beberapa hari setelah kehadiran Presiden AS di Riyadh, MBS menyingkirkan Mohammed bin Nayef dan resmi menyandang gelar putra mahkota Saudi, dan hanya selangkah lagi ia akan mencapai takhta.
Ada banyak spekulasi bahwa putra mahkota Saudi dalam tur dua minggu ke AS, ingin mempersiapkan kondisi untuk penobatannya sebagai raja bahkan di masa ayahnya masih hidup. Dalam hal ini, Andrew Bowen, seorang ahli di American Enterprise Institute (AEI) mengatakan, "Sebagian dari alasan kunjungan MBS ke Washington adalah untuk kampanye."
Kampanye putra mahkota Saudi ini fokus pada isu-isu seperti, pemberantasan korupsi, Visi Arab Saudi 2030, dan reformasi sosial, yang disebut dilakukan atas saran para pejabat Amerika, terutama Jared Kushner, menantu Donald Trump.
Mujtahid, seorang aktivis politik yang dekat dengan keluarga kerajaan dalam sebuah tweet di akunnya menulis, "Kunjungan 14 hari Mohammed bin Salman ke AS hanya bertujuan untuk mempromosikan putra mahkota." Menurutnya, MBS mencoba untuk meyakinkan lembaga legislatif dan lembaga-lembaga Amerika lainnya tentang program-programnya.
Pertemuan putra mahkota Saudi dengan beberapa tokoh lobi Zionis di Amerika, dan pengakuan resminya tentang eksistensi Israel, juga sejalan dengan tujuan kampanye MBS. Meskipun ia meyakini masalah normalisasi hubungan dengan rezim Zionis, namun sebagai langkah pertama, sekarang dia berusaha meyakinkan Israel dan lobi Zionis di AS agar mendukung ambisinya untuk duduk takhta.
MBS belum melewati sebuah proses normal untuk mencapai puncak kekuasaan di Arab Saudi, dan selama ini menggunakan posisi ayahnya untuk memperoleh kekuasaan. Dia sekarang fokus untuk mendapatkan dukungan AS dan lobi-lobi Zionis untuk menduduki takhta Kerajaan Arab Saudi.
Merekonstruksi hubungan Riyadh-Washington adalah salah satu tujuan lain MBS selama kunjungannya ke AS baru-baru ini. Hubungan Saudi dan AS tidak selalu berjalan stabil, tetapi ia penuh pasang surut. Salah satu periode paling penting dari pasang surut ini adalah era kepemimpinan Barack Obama. Meskipun Obama memberlakukan sanksi terberat terhadap Iran, namun Saudi tetap menjadi salah satu penentang negosiasi nuklir. Pemerintahan Obama juga kritis terhadap situasi buruk hak asasi manusia di Saudi.
Oleh karena itu, hubungan Riyadh-Washington khususnya di periode kedua pemerintahan Obama, tidak memiliki tren pertumbuhan dan kedua pihak menjalani sebuah hubungan yang kaku. Setelah Donald Trump, pemerintah Riyadh melakukan banyak upaya untuk membangun kembali hubungan dengan Washington. Hussein Ibish, seorang peneliti di sebuah lembaga riset di Washington, percaya bahwa Washington dan Riyadh telah melakukan bagian yang paling mudah dalam merekonstruksi hubungan.
Kunjungan kedua MBS ke Washington selama setahun terakhir bertujuan untuk memperkuat hubungan dengan AS, dan sebenarnya kedua negara telah melewati tahap rekonstruksi hubungan. Dalam hal ini, MBS mulai menerapkan reformasi model Amerika dalam kebijakan sosial. Arab Saudi sekarang bergerak cepat untuk meniru gaya hidup Amerika dan ini adalah sesuatu yang diinginkan oleh pemerintah Washington.
Selain tujuan domestik, Putra Mahkota Saudi juga mengejar tujuan regional selama turnya ke Washington. Dia ingin mengintensifkan konfrontasi dengan Iran, mengeluarkan Saudi dari "pasir hisap" Yaman, dan membentuk koalisi segitiga Saudi-Amerika-Israel dalam krisis Suriah.
Di Amerika, MBS selain mengulangi klaim-klaim usang, juga melontarkan klaim baru terhadap Republik Islam Iran. Putra Mahkota Saudi di tengah para anggota kabinet haus perang AS, kembali menuding Tehran mendukung terorisme. Di Amerika, dia menuduh Iran mendukung terorisme, padahal Trump selama kampanye pilpres 2016 mengakui bahwa kelompok-kelompok teroris seperti Daesh, dibentuk oleh AS.
Dalam sebuah wawancara dengan Wall Street Journal, Mohammed bin Salman meminta masyarakat internasional untuk menjatuhkan sanksi yang lebih berat terhadap Iran guna menghindari konfrontasi militer di kawasan. Dia mengatakan, "Kita harus mencapai ini untuk menghindari konflik militer, jika kita gagal melakukan ini, kita mungkin akan berperang dengan Iran dalam waktu 10-15 tahun ke depan."
Klaim ini menunjukkan bahwa ia telah larut dalam histeria selama berada di Amerika. Putra Mahkota Saudi bekerja keras membujuk AS agar memerangi Iran, tetapi Washington sangat menyadari akan biaya perang dengan Iran dan tidak akan terperangkap dalam ilusi pangeran muda, yang tidak memahami dampak perang.
Perang Suriah adalah isu lain yang didiskusikan oleh MBS dengan para pejabat AS selama kunjungannya ke Washington. Dalam hal ini, Trump bahkan memandang Arab Saudi sebagai sapi perah. MBS meminta AS untuk tetap di Suriah dan mendorong terbentuknya koalisi trilateral Saudi-Amerika-Israel untuk melawan pemerintah Suriah dan sekutunya. Namun, Trump secara eksplisit mengumumkan AS akan segera menarik pasukannya dari Suriah.
Tentu saja, Trump hanya mengeluarkan gertakan dengan tujuan memeras Arab Saudi, karena AS saat ini memiliki 10 pangkalan militer di Suriah dan menyusun rencana jangka panjangnya di negara itu. Surat kabar The Washington Post dalam sebuah laporan menulis, “Trump mengeluarkan komentar itu ketika AS sedang membangun dua pangkalan militer baru di Suriah Utara dan sekitar 2.000 pasukan AS ditempatkan di sana."
Trump bahkan mengatakan bahwa jika Arab Saudi menginginkan AS tetap tinggal di Suriah, mereka harus membayar biaya pasukan Amerika. Jelas bahwa Trump tidak berniat menarik pasukannya dari Suriah, tetapi sedang memeras Saudi untuk biaya kehadiran mereka di negara tersebut. Pemerintahan Trump sadar akan kekhawatiran Riyadh dan ia memanfaatkan peluang ini untuk mengeruk dolar minyak Saudi.
Mohammed bin Salman juga sedang mencoba membangun sebuah "hubungan pribadi" dengan para pejabat Washington, tetapi tidak ditemukan jejak "hubungan pribadi" dalam strategi pemerintahan Trump. Presiden AS justru sedang membuat Arab Saudi terhina dan hanya mengejar kekayaan mereka, dan strategi ini tidak mementingkan siapa yang berkuasa di Riyadh, Mohammed bin Salman atau pangeran lain.