Arafah, Hari Doa dan Istighfar
https://parstoday.ir/id/radio/west_asia-i61122-arafah_hari_doa_dan_istighfar
Arafah adalah hari doa, istighfar dan perhatian pada keesaan Sang Pencipta Semesta. Hari munajat seorang hamba yang terasing dari Penciptanya, Tuhan Maha Pemberi Kasih Sayang yang selalu memberkati waktu dan tempat sehingga terbuka jalan bagi manusia untuk kembali kepada-Nya.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Aug 21, 2018 14:22 Asia/Jakarta

Arafah adalah hari doa, istighfar dan perhatian pada keesaan Sang Pencipta Semesta. Hari munajat seorang hamba yang terasing dari Penciptanya, Tuhan Maha Pemberi Kasih Sayang yang selalu memberkati waktu dan tempat sehingga terbuka jalan bagi manusia untuk kembali kepada-Nya.

Arafah adalah salah satu hari yang diberkati itu dan padang Arafah juga merupakan salah satu tempat yang dipilih Tuhan Semesta Alam. Arafah adalah hari mendzikirkan asma Allah Swt dan memperkokoh ikatan batin dengan-Nya. Arafah adalah salah satu hari paling indah yang dikaruniakan kepada umat manusia.

Bulan Dzul Hijjah juga salah satu bulan suci dan mulia bagi setiap Muslim. Saat bulan Dzul Hijjah tiba, umat Islam menaruh perhatian khusus atas ibadah terutama di sepuluh hari pertama bulan ini yang keutamaannya ditekankan dalam banyak hadis Nabi Muhammad Saw. Rasulullah Saw bersabda, tidak ada amal baik dan ibadah yang lebih dicintai Allah Swt kecuali yang dilakukan di sepuluh hari bulan Dzul Hijjah.

Arafah

Di sebagian riwayat yang lain dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan malam yang 10 dalam Al Quran, Surat Al Fajr, adalah malam-malam 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah dan sumpah ini disebabkan keagungan malam tersebut.

Di 10 malam pertama Dzul Hijjah banyak peristiwa besar yang terjadi termasuk kelahiran Nabi Ibrahim as, pernikahan Imam Ali as dengan Sayidah Fathimah, kesyahidan Imam Baqir as, kesyahidan Muslim, Hari Arafah dan Idul Adha. Peristiwa yang terpenting dari semuanya adalah seluruh manasik haji dimulai dari hari Arafah.

Tanggal 9 Dzul Hijjah, yaitu Hari Arafah adalah hari dimulainya manasik haji. Di hari ini, jemaah haji bergerak dari kota Mekah menuju padang Arafah dan mereka wukuf di sana mulai dari adzan Dzuhur hingga tenggelamnya matahari.

Di Arafah mereka tenggelam dalam doa dan munajat. Setelah matahari tenggelam, jemaah haji bergerak ke arah Masy'aril Haram sehingga saat tiba hari Idul Adha mereka sudah berada di Mina.

Wukuf di Arafah merupakan salah satu rukun haji tamatu dan tanpa itu, ibadah haji seseorang menjadi tidak sah. Nabi Muhammad Saw bersabda, di antara dosa-dosa ada yang hanya bisa diampuni di Arafah saja. Allah Swt memberkati waktu dan tempat semacam ini agar tamu-tamu-Nya dapat memasuki rumah yang demi kesuciannya para nabi bangkit, dalam keadaan suci dan bersih. Allah Swt hanya akan menerima tamu-tamu yang suci di rumah-Nya.

Berkah besar yang dimiliki hari Arafah sebagaimana dijelaskan dalam riwayat Nabi Muhammad Saw dan Imam Maksum as, menjadikan Arafah sebagai hari raya yang dilimpahi rahmat Tuhan kepada umat manusia. Rasulullah Saw bersabda, Allah Swt tidak membebaskan hamba-hamba-Nya dari api neraka sebanyak di hari Arafah.

Begitu juga diriwayatkan dari Imam Sajjad as yang mendengar seorang pengemis meminta-minta di hari Arafah, beliau berkata, celakalah engkau, apakah di hari seperti ini engkau meminta-minta kepada selain Tuhan ? padahal di hari ini diberikan harapan atas rahmat Allah Swt bagi bayi-bayi yang masih ada di perut ibunya sehingga mereka bergembira dan bahagia.

Munajat di hari Arafah

Dapat dipahami bahwa berkah munajat di hari Arafah tidak hanya untuk jemaah haji di padang Arafah saja, meski mereka mendapat keutamaan lebih karena berada di tempat tersebut, namun setiap orang yang berdoa di hari ini di manapun mereka berada juga diliputi oleh karunia dan rahmat khusus dari Allah Swt.

Arafah disebut hari munajat karena amal terbaik di hari ini adalah memanjatkan doa kepada Ilahi. Sedemikian pentingnya doa di hari ini, sehingga para Imam Maksum as menganjurkan jika puasa sunnah di hari ini menyebabkan tubuh lemah dan tidak memungkinkan untuk berdoa, maka lebih baik ditinggalkan sehingga setiap orang bisa lebih khusyu berdoa dan bermunajat. Anjuran ini menunjukkan urgensi dan kedudukan khusus doa serta munajat.

Di antara agama Tauhid, Islam lebih dari semuanya, menaruh perhatian yang istimewa terhadap doa dan munajat. Al Quran di banyak ayatnya mengajurkan manusia untuk berdoa. Allah Swt di Surat Ghafir ayat 60 berfirman, "Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina"."

Begitu juga di Surat Al Baqarah ayat 186, Allah Swt berfirman, "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran."

Doa adalah wasilah atau instrumen bagi makhluk untuk mendekatkan diri kepada Penciptanya. Doa memberikan ketenangan batin kepada manusia. Karena dalam doa perhatian manusia hanya ditujukan kepada Tuhan dan mengabaikan selain-Nya.

Pada kenyataannya, dengan doa manusia melatih dirinya dalam penyembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan menghindari syirik, serta mewujudkan Tauhid yang merupakan syarat awal seseorang menjadi Muslim.

Oleh karena itu, Imam Shadiq as berkata, di sisi Tuhan ada kedudukan yang tidak mungkin diraih manusia kecuali dengan doa. Dalam pandangan Imam Baqir as, munajat adalah manifestasi tertinggi penyembahan Tuhan.

Tidak ada sesuatu yang lebih baik dari doa dan mengulurkan tangan kepada Tuhan. Di sisi lain, orang paling tercela adalah yang takabur dan tidak mau berdoa serta menyampaikan permohonan kepada Tuhan.

Munajat di hari Arafah

Sekalipun berdoa dan munajat kepada Tuhan tidak dibatasi waktu dan tempat, namun penekanan atas beberapa hari dan tempat yang khusus seperti hari Arafah, Lailatul Qadr, malam Jumat, masjid, Makam Imam Maksum dan lainnya untuk berdoa, berarti bahwa Tuhan telah menetapkan waktu dan tempat itu agar manusia memiliki kesempatan lebih besar.

Kenyataannya, Allah Swt ingin menolong hamba-hamba-Nya yang lemah dalam meraih kebahagiaan dengan memberkati hari dan tempat ini. Doa terbaik yang dapat dibaca di hari Arafah adalah Doa Arafah Imam Hussein as yang sarat dengan makrifat dan cinta kepada Allah Swt.

Imam Hussein as bersama putra, keluarga dan sahabatnya keluar dari kemahnya di siang hari ke-9 bulan Dzul Hijjah menuju padang Arafah. Di samping Jabal Rahmah dan dengan menghadap Ka'bah beliau mengangkat tangannya lalu mulai melantunkan doa Arafah dengan sangat khusyu, dan berlinang air mata. Sebuah doa yang menjadi warisan paling sarat makna dan paling menyentuh hati bagi umat manusia.

Doa Arafah adalah aliran pendidikan Imam Hussein as. Di dalam doa ini kita dapat menyaksikan pandangan dunia dan eksistensi semesta Imam Hussein yang sedemikian dalam dan berujung dengan epik Asyura dan menunjukkan kepribadian beliau yang agung terutama dalam masalah akhlak dan irfan.

Imam Hussein di salah satu bagian Doa Arafah berkata, puji syukur untuk Tuhan yang tidak ada satu perisaipun yang dapat menahan kepastian qadha-Nya dan tidak ada satu penghalangpun yang dapat menahan kasih sayang, cinta dan hidayah-Nya.

Kebodohan dan ketidaktahuanku, pembangkangan dan kesombonganku, tidak menghalangi-Mu untuk membimbingku untuk mendekat kepada-Mu dan Engkau membuatku berhasil atas apa yang Engkau ridhai dan kehendaki.

Oleh karena itu kapanpun aku memanggil-Mu, Engkau selalu menjawabku. Sebanyak apapun aku meminta bantuan-Mu, kapanpun aku mentaati-Mu, Engkau berterimakasih dan kapanpun aku bersyukur kepada-Mu, Engkat pasti menambah nikmat-Mu kepadaku, apakah semua ini, kecuali nikmat sempurna tanpa batas dari-Mu.

Munajat di hari Arafah

Nikmat-Mu yang manakah yang dapat aku hitung atau aku ingat ? Wahai yang selalu menemaniku saat sendiri, Wahai seruan di saat sedihku, Wahai pemilik nikmatku, Wahai penolong dan pembelaku dari serangan keji kesulitan, Wahai penolongku dalam kesendirian dan tanpa penolong, Wahai pemilik segala yang aku miliki dan atas kemuliaan tanpa batas-Mu, Engkaulah pelindungku.

Dengan doa ini, Imam Hussein telah memberikan semangat baru di dalam batin hari-hari Arafah, dan nikmat ini selalu berada dalam kalbu hari-hari Arafah sepanjang masa. Padang Arafah adalah tubuh dan Imam Hussein adalah ruhnya.