Dunia Modern, Ajang Perang Lunak Imperialis Global (Bagian 7-Habis)
https://parstoday.ir/id/radio/world-i12097-dunia_modern_ajang_perang_lunak_imperialis_global_(bagian_7_habis)
Berakhirnya perang dingin seiring runtuhnya Uni Soviet memunculkan fenomena baru di dunia, terutama di bidang keamanan global. Masalah suku, ras dan agama atau SARA menjadi salah satu isu utama dalam transformasi domestik, regional dan internasional. Friksi etnis memainkan peran penting sebagai penyulut konflik politik, bahkan kudeta di sebuah negara. Urgensi masalah SARA semakin menjadi perhatian melebihi sebelumnya, setelah terjadi konflik Balkan dan perang di Serbia.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jun 17, 2016 12:35 Asia/Jakarta

Berakhirnya perang dingin seiring runtuhnya Uni Soviet memunculkan fenomena baru di dunia, terutama di bidang keamanan global. Masalah suku, ras dan agama atau SARA menjadi salah satu isu utama dalam transformasi domestik, regional dan internasional. Friksi etnis memainkan peran penting sebagai penyulut konflik politik, bahkan kudeta di sebuah negara. Urgensi masalah SARA semakin menjadi perhatian melebihi sebelumnya, setelah terjadi konflik Balkan dan perang di Serbia.

Kini, kekuatan adidaya global menggunakan konflik SARA untuk mewujudkan ambisinya menguasai sumber daya alam dan menancapkan kepentingan politiknya di negara target. Dewasan ini, isu etnis menjadi salah satu pemantik paling besar munculnya krisis, bahkan perang besar di sebuah negara akibat intervensi kekuatan asing.

 

Para ahli meyakini, keutuhan sebuah negara dipengaruhi oleh solidaritas etnis di negara tersebut dan komitmennya terhadap tujuan bersama berbangsa dan bernegara. Sejarah dan budaya kolektif memiliki kaitan erat dengan tanah air yang diikat oleh solidaritas nasional.

 

Solidaritas nasional adalah rasa memiliki dari sebuah masyarakat terhadap nilai-nilai yang mengikat mereka dalam hubungan berbangsa dan bernegara. Solidaritas nasional akan mengurangi sentimen etnis, sekaligus meredam munculnya friksi dan menghalangi berkobarnya konflik dan perang di sebuah negara. Oleh karena itu, sebuah negara yang menghadapi masalah etnis sangat besar berpotensi dimasuki kepentingan asing. Kini, salah satu ancaman terbesar adalah separatisme dengan menguatnya tuntutan pemisahan diri dalam sebuah negara.

 

Dewasan ini, kudeta lunak muncul dalam bentuk meningkatnya friksi SARA. Selama dua abad terakhir, kawasan Timur Tengah yang menjadi tempat kelahiran berbagai agama besar dan etnis yang beragam menjadi target imperialis global. Timur Tengah saat ini sedang menghadapi krisis yang serupa dengan krisis yang menimpa kawasan Balkan. Krisis etnis di Timur Tengah yang marak saat ini sebagai bagian dari proyek Balkanisasi kawasan strategis tersebut. Isu etnis menjadi masalah yang terus menerus digoreng oleh imperialis global, terutama Amerika Serikat untuk mewujudkan tujuannya.

 

Secara umum, politik luar negeri Amerika Serikat di dunia hanya dua model; menjadi sekutu atau dimusuhi. Amerika mengajak negara-negara dunia menjadi sekutunya dengan konsekuensi mereka harus mematuhi kebijakan Gedung Putih di arena internasional. Jika sebuah negara menentang seperti Iran, maka akan masuk dalam kategori kedua menjadi pihak yang harus dimusuhi oleh Washington.

 

Dua kebijakan umum politik luar negeri Amerika Serikat tersebut diterapkan di Timur Tengah dengan menggiring semua negara kawasan mengamini kebijakan Washington. Ketika ada yang menentang, maka Amerika Serikat mengerahkan berbagai cara untuk melumpuhkannya, termasuk dengan melancarkan perang lunak yang memanfaatkan isu etnis sebagai pelurunya.

 

Balkanisasi Timur Tengah dan Afrika Utara dilancarkan Amerika Serikat dengan target menciptakan negara-negara boneka yang kecil dan bergantung terhadap dikte Washington. Senjata yang dipergunakan untuk mewujudkan tujuan tersebut adalah menggunakan perbedaan etnis yang beraneka ragam.

 

Lahirnya negara baru Sudan Selatan, salah satu dari kesuksesan dari skenario Amerika Serikat untuk memecah belah kawasan tersebut. Kini, Amerika Serikat dan rezim Zionis melancarkan skenario federalisasi Irak dan pembagian Libya menjadi beberapa negara dengan memanfaatkan sentimen sektarian yang semakin menguat belakangan ini. Tujuan lain dari Balkanisasi kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara ini adalah menghancurkan kekuatan regional yang besar dan meningkatkan dukungan sekaligus ketergantungan negara-negara regional terhadap Washington.

 

Salah satu negara kawasan Timur Tengah yang senantiasa menjadi target imperialis adalah Republik Islam Iran. Iran adalah negara yang memiliki posisi geopolitik yang strategis di kawasan, selain itu Iran juga menjadi kekuatan regional, bahkan dunia yang selama ini konsisten menghadapi hegemoni Barat. Pasca kemenangan Revolusi Islam, Iran menjadi sasaran permusuhan Amerika Serikat dan rezim Zionis. Oleh karena itu, Iran menjadi target skenario kudeta lunak dan keras yang dilancarkan musuh selama lebih dari tiga dekade.

 

Amerika Serikat selama ini menggunakan berbagai cara  untuk melumpuhkan Iran, termasuk dengan memanfaatkan isu SARA. Salah satu skenario Iranphobia yang dilancarkan Barat, terutama Amerika Serikat adalah masalah etnis, seperti sentimen etnis dan agama maupun mazhab yang belakangan semakin menguat dalam propaganda Washington. Amerika Serikat selama ini memrofokasi negara-negara kawasan dengan skenario Iranphobia.

 

Di tingkat regional, Amerika Serikat menggunakan isu sentimen non Arab untuk memrofokasi negara-negara Timur Tengah yang sebagian besar dihuni etnis Arab. Sedangkan di dalam negari Iran, Amerika Serikat melancarkan perang urat syaraf dengan mendukung langsung sejumlah tokoh minoritas etnis dan agama serta mazhab dan melancarkan dukungan terhadap kelompok teroris seperti Jundullah yang dibungkus isu sektarian.

 

Munculnya friksi sektarian, senantiasa menjadi salah satu alat terpenting untuk mendestabilisasi Republik Islam Iran. Proyek Delta dilancarkan Amerika Serikat untuk melakukan kudeta lunak terhadap Iran. Salah satu dari 15 isu yang dipergunakan Amerika Serikat untuk menyerang Iran adalah menyulut friksi dalam negeri sebagai peluang emas bagi Gedung Putih untuk melumpuhkan Republik Islam Iran.

 

Sebelumnya, Zalmai Khalil Zad, Duta Besar Amerika Serikat di Irak menyinggung kebijakan Gedung Putih terhadap Iran. Mantan Penasihat Presiden Amerika urusan Iran, Irak dan Afghanistan ini mengatakan, “Iran menghadapi masalah dalam negeri. Semua kekuatan harus dikerahkan untuk mendestabilisasi Iran.”

 

Para pendukung perang lunak, terutama Amerika Serikat melancarkan kudeta lunak yang menggunakan isu SARA dengan memolitisasi ketidakpuasan, kritik dan protes segelintir minoritas. Masalah tersebut berhasil diredam berkat solidaritas dan persatuan nasional Republik Islam Iran.

 

Sebagian politisi Amerika Serikat seperti  James Baker dan Lee Hamington selama bertahun-tahun mengusulkan skenario tersebut kepada pemerintah Amerika. Kedua politikus Amerika ini di bagian laporannya yang disampaikan pada 6 Desember 2006 lalu mengungkapkan, jika Republik Islam Iran tidak menghentikan dukungannya terhadap milisi Irak, maka Amerika Serikat bisa meningkatkan instabilitas di dalam negeri dengan mempertimbangkan keragaman etnis identitas Iran.

 

Meskipun Amerika Serikat telah mengerahkan berbagai cara, termasuk melancarkan perang lunak dengan memanfaatkan isu SARA, tapi semua itu membentur dinding. Sebab, bangsa Iran dengan keragaman etnis dan agama serta mazhab tetap bersatu di bawah payung Republik Islam. Dengan kesamaan sejarah dan budaya kolektif serta ikatan tanah air, bangsa Iran senantiasa mendukung perlawanan terhadap imperialisme yang disuarakan Republik Islam. Mereka tidak akan mengizinkan musuh membenamkan pengaruhnya di dalam negeri Iran.