Diplomasi Hollywood atau Intervensi Politik AS ?
https://parstoday.ir/id/radio/world-i23632-diplomasi_hollywood_atau_intervensi_politik_as
Dewasa ini, Hollywood memiliki pengaruh besar di AS dan dunia, bahkan bisa melampaui kementerian luar negeri AS, Pentagon, maupun CIA sendiri. Dengan mengandalkan kepopuleran para penulis, produser, sutradara hingga artisnya, Hollywood mengirimkan mereka ke berbagai dunia untuk membantu diplomasi pemerintah AS mewujudkan ambisinya.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Okt 20, 2016 11:27 Asia/Jakarta

Dewasa ini, Hollywood memiliki pengaruh besar di AS dan dunia, bahkan bisa melampaui kementerian luar negeri AS, Pentagon, maupun CIA sendiri. Dengan mengandalkan kepopuleran para penulis, produser, sutradara hingga artisnya, Hollywood mengirimkan mereka ke berbagai dunia untuk membantu diplomasi pemerintah AS mewujudkan ambisinya.

Kebijakan luar negeri AS saat ini memanfaatkan ribuan orang dengan berbagai latar belakang dari akademisi, budayawan, hingga tokoh masyarakat. Gedung Putih mengerahkan ratusan institusi politik dan pusat riset demi memuluskan jalan bagi tercapainya kepentingan AS.  Selain itu, pemerintah AS juga memanfaatkan popularitas insan sinema dari penulis skenario hingga sutradara dan aktor terkemuka di arena politik demi mendukung kebijakan interventif Washington di negara-negara dunia. Contoh nyata dari sepak terjang ini adalah tingkah para pesohor Hollywood di arena politik.

Pada Maret 2012 lalu, berita penangkapan George Clooney menimbulkan kegemparan di kalangan masyarakat AS. Betapa tidak, actor sekaligus sutradara terkemuka ini bersama ayahnya ditangkap ketika sedang berunjuk rasa menentang pelanggaran HAM di Sudan yang dilakukan di depan kedutaan Sudan di Washington. Lalu pertanyaannya, apa hubungan antara Clooney dengan negara semacam Sudan ? 

Sudan adalah negara ketiga terbesar di Afrika dengan penduduk mayoritas Muslim, dan presidennya bernama Omar Al-Bashir. Posisi strategis Sudan yang berbatasan dengan Laut Merah menjadi perhatian banyak kalangan, terutama kekuatan adidaya dunia. Mayoritas warga Sudan adalah Muslim yang hidup di wilayah utara negara Afrika itu. Sementara itu, di wilayah selatan Sudan dihuni oleh mayoritas Kristen, bersama dengan minoritas agama lain dan sebagian Muslim. Posisi strategis dan konflik etnis yang sering terjadi di Sudan menjadi target kepentingan imperialis global.

Perang saudara yang terjadi antaretnis dan suku di wilayah selatan dan utara Sudan telah menghantui negara ini sejak 50 tahun silam. Sumber daya alam, terutama minyak dan gas yang melimpah selama ini menjadi incaran tangan-tangan rakus Barat, dan masalah ini menjadi penghambat terbesar kemajuan negara itu.

Negara-negara Barat terutama AS mempersenjatai suku-suku di wilayah selatan Sudan hingga memicu perang di dalam negeri yang berlangsung puluhan tahun. Para pemberontak selama beberapa tahun berhasil menguasai sejumlah wilayah di selatan. Pada saat yang sama, korporasi multinasional negara-negara Barat memanfaatkan kekacauan yang terjadi demi menjarah sumber daya alam Sudan.

Langkah Barat selanjutnya adalah mewujudkan prakarsa pemisahan wilayah selatan Sudan dari pemerintahan pusat melalui sebuah referendum di negara itu. Bersamaan dengan digelarnya skenario itu, AS mengerahkan kekuatan "pasukan" Hollywood di arena untuk mempengaruhi publik Sudan dan dunia.

Salah seorang yang memainkan perang penting dari maneuver politik AS ini adalah George Clooney dengan proyek satellite Sentinel Project. Peraih tiga penghargaan Golden Globe Awards dan dua Academy Awards ini adalah salah seorang yang paling berpengaruh terhadap referendum pemisahan wilayah selatan dari pemerintahan pusat Sudan. Clooney sendiri mengungkapkan, "Saya ingin melihat Omar Al-Bashir di hadapan mata, sebagaimana publik menantinya,".

George Clooney telah lama terlibat dalam masalah dunia politik. Dengan memanfaatkan popularitasnya sebagai selebriti terkemuka, ia berupaya menarik perhatian publik dunia demi kepentingan tertentu. Barangkali  hal ini tidak bermasalah secara pribadi, karena pemerintah Sudan sendiri memiliki masalah terkait diskriminasi terhadap perempuan dan anak-anak yang memang perlu perhatian dari publik dunia. Tapi masalahnya bukan itu. Pasalnya, Clooney melakukannya bukan karena rakyat Sudan, tapi menjalankan skenario intervensi AS di negara Afrika itu. Dengan popularitasnya sebagai pesohor dunia hiburan, Clooney menjustifikasi sanksi AS terhadap pemerintah Sudan utara.Tidak hanya itu, ia juga berhasil meyakinkan Uni Eropa dan Uni Afrika untuk mendukung kebijakan Washington.

Petualangan Clooney dalam masalah dalam negeri Sudan tidak hanya berhenti sampai di sana. Pada tahun 2010, ia memproduksi film berjudul "Akhir Permainan di Sudan". Ia juga berpidato di hadapan Presiden AS, Barack Obama untuk meminta dihentikannya pelanggaran hak asasi manusia oleh pemerintah Sudan. Dengan kampanye masif ala Hollywood, Clooney menciptakan sarana yang paling kondusif untuk memuluskan intervensi militer AS di Sudan.

Emmanuel Jal, penyanyi Sudan yang berdomisili di London bersama dengan Alissa dan Peter Gabriel, yang sama-sama menjadi penyanyi profesional dilibatkan dalam kampanye tersebut. Ketiga penyanyi itu menerbitkan sebuah video musik berjudul "Kami Menghendaki Perdamaian". Selain itu hadir juga  mantan sekjen PBB, Kofi Annan dan mantan presiden AS, Jimmy Carter. Tujuannya untuk mempengaruhi rakyat Sudan supaya mendukung referendum pemisahan Sudan selatan.

Kemudian, referendum Sudan Selatan digelar Januari 2011. Berdasarkan data statistik yang diperoleh, sebanyak 98 persen rakyat wilayah selatan memilih mendukung pemisahan dari pemerintahan pusat Sudan. Akhirnya, Sudan Selatan secara resmi diakui sebagai negara ke-55 negara Afrika dan anggota PBB ke-196.

Kini setelah beberapa tahun berlalu, kembali terdengar berita keterlibatan Hollywood di arena politik internasional untuk mendukung kepentingan AS. Belum lama ini, George Clooney dan Dan Cheadle, artis sekaligus produser AS, melaporkan mengenai perang di Sudan selatan yang dimuat Washington Post. Menurut klaim mereka, laporan berjudul "Kejahatan Perang yang tidak Dibalas" merupakan hasil investigasi selama dua tahun mengenai pelanggaran kejahatan perang di Sudan.

Laporan tersebut membongkar hubungan antara presiden Selatan dan wakilnya, dengan bank-bank internasional, korporasi tambang dan militer. Hubungan transaksional politik ini berlanjut hingga menjadikan Sudan Selatan sebagai salah satu tempat konflik paling berdarah di dunia.

Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa Sudan Selatan merupakan negara paling baru di dunia. Di sana terjadi perang saudara yang mengerikan. Ribuan orang tewas dalam perang tersebut, dan banyak dari mereka meninggalkan tanah airnya. Tidak sedikit orang-orang yang menjadi korban perkosaan. Anak-anak dijadikan sebagai tentara yang dikirim ke medan perang..... pasukan penjaga perdamaian diterima, tapi gerak mereka dibatasi dan bantuan kemanusiaan pun sangat minim. Para relawan diserang dan diperkosa. Padahal saat ini sekitar lima juta orang menderita kelaparan, dan mereka membutuhkan bantuan medis dan makanan. 

Penulis laporan ini mengungkapkan, Semua ini memberikan kesepakatan kepada para pemimpin haus perang untuk melanjutkan kekerasan dan mengekploitasi kekayaan alamnya. Bagian penting dari laporan ini mengenai informasi rinci bagaimana para pemimpin haus perang menggunakan posisinya untuk membeli properti di luar negeri, mobil mewah dan saham serta perannya di perusahaan-perusahaan multinasional minyak dan tambang serta bank-bank. Selain itu kasino dan perusahan pesawat terbang menjadi tempat investasi mereka.

Ironisnya, Clooney selama beberapa tahun silam menjadi orang yang mengkampanyekan pemisahan Sudan Selatan dalam referendum yang dinilainya sebagai solusi menyelamatkan nyawa rakyat di wilayah itu. Tapi kini tiba-tiba menyerukan sebuah strategi baru dan meminta dukungan publik dunia untuk menekan para pemimpin haus perang di wilayah selatan Sudan dan menerapkan perdamaian di sana.

Kasus Sudan Selatan yang belum lama ini menjadi negara baru, dan peran Hollywood dalam memprovokasi warga di wilayah itu untuk mendukung referendum menunjukkan peran besar perang lunak. Tapi sayangnya masalah ini tidak banyak disadari olah masyarakat dunia. Diplomasi yang dilakukan oleh pesohor di tingkat dunia bertujuan membantu AS untuk menghalangi publik dunia bergabung dengan gerakan non-Barat. Lalu, bagaimana semua ini terjadi?

Jika seseorang mengatakan kepada Anda akan memberikan bantuan, maka besar kemungkinan Anda akan mendengarkan ucapannya. Bahkan, mungkin saja akan memberikan sarana kepadanya. Tapi, jika seseorang mengatakan kepada Anda akan mengajarkan sesuatu untuk membantu pekerjaan Anda, kemungkinan besar akan menolaknya. Inilah perbedaan membantu dan intervensi.

Tujuan dari penggunaan kekuatan lunak adalah intervensi yang muncul di permukaan dalam bentuk bantuan. Intervensi AS melalui Hollywood termasuk jenis perang lunak. Hollywood menunjukkan kepada publik dunia apa yang harus dilakukan dalam kehidupan mereka seperti orang Amerika. Oleh karena itu, orang-orang yang berkecimpung di dunia Hollywood tidak bisa dilepaskan dari kebijakan luar negeri AS. Apa yang dilakukan Hollywood untuk AS lebih mudah diterima masyarakat dunia dari pada cara-cara militer yang dilancarkan bertahun-tahun oleh Pentagon.