Isu HAM Iran dan Kemunafikan AS 2
Pemerintah Amerika Serikat dengan penuh percaya diri menerbitkan laporan tahunan tentang situasi hak asasi manusia di negara-negara dunia. Padahal, ada banyak kasus pelanggaran HAM di AS yang menyisakan kisah tragis praktek perampasan hak-hak dasar masyarakat di negara itu. Sejumlah laporan mencatat bahwa pembunuhan, kriminalitas, diskriminasi rasial, dan perampasan hak-hak kaum minoritas dan penduduk asli Amerika meningkat secara mengkhawatirkan.
Kajian ilmiah terkait situasi hak asasi manusia dan tingkat kepatuhan AS terhadap parameter HAM di dunia, memperlihatkan sebuah realitas bahwa setelah enam dekade dari pengesahan Piagam HAM Dunia, AS sama sekali tidak membuat terobosan penting untuk memajukan nilai-nilai hakiki HAM di dunia, tapi secara terorganisir dan rutin justru melanggarnya baik di dalam negeri maupun di negara-negara lain.
Kasus-kasus pelanggaran berat HAM oleh pemerintah AS antara lain; pembangunan penjara dan pusat penyiksaan rahasia di Eropa dan Asia, penistaan hak-hak kaum Muslim dan kelompok minoritas agama dan etnis serta imigran, intervensi luas di negara lain pasca peristiwa 11 September, dukungan untuk pembentukan organisasi-organisasi teroris seperti Taliban dan Al Qaeda, dan penggunaan isu terorisme sebagai alasan untuk menginvasi negara lain.
Di sini, kita hanya akan menyoroti masalah pusat penahanan dan penyiksaan rahasia yang dibangun AS dengan alasan membela HAM, menciptakan keamanan, dan memerangi terorisme di dunia. Penjara-penjara penuh horor ini ujung-ujungnya menjadi sebuah skandal bagi para pejabat Washington yang mengaku sebagai pembela HAM.
Meskipun sensor media telah menghalangi publikasi kejahatan AS dalam kasus tersebut, namun beberapa lembaga independen berhasil menyusun laporan akurat dan membongkar praktek pelanggaran HAM oleh otoritas AS. Laporan-laporan kredibel itu menegaskan bahwa AS telah melakukan pelanggaran HAM berat terhadap para tahanan, baik mereka yang dikurung di wilayah Amerika atau pusat penahanan rahasia di negara-negara lain.
Penjara Bagram atau disebut juga "Guantanamo Afghanistan" merupakan salah satu tempat yang mengerikan di mana kasus pelanggaran HAM oleh AS di penjara itu sudah tercatat berkali-kali. Kajian Human Rights Watch (HRW) terhadap metode penyiksaan di Bagram Afghanistan mencatat bahwa sedikitnya 600 tentara atau pegawai sipil Amerika tersandung dalam berbagai kasus kejahatan terhadap tahanan.
Laporan media-media internasional tentang penjara AS di Afghanistan selama beberapa tahun terakhir, mencatat bahwa para interogator menerapkan berbagai metode penyiksaan untuk memperoleh pengakuan tahanan Afghan dan menyebabkan kematian beberapa dari mereka. Sejumlah tahanan juga meninggal dunia atau memilih bunuh diri akibat tekanan mental dan siksaan fisik.
Para tahanan yang tidak pernah tahu kesalahannya telah menjadi korban doktrin perang kontra-terorisme yang diadopsi AS. Para tahanan Afghan yang ditahan oleh tentara Amerika di Bagram, sama sekali tidak memiliki akses ke lembaga-lembaga peradilan Afghanistan sehingga mereka bisa memperoleh keadilan.
Menurut laporan koran New York Times, dua tahanan Afghan meninggal dunia akibat dipukuli dan diikat selama empat hari oleh penyiksa AS di Bagram pada Desember 2002. Sebagian tahanan benar-benar berada dalam situasi yang sangat sulit. Kekerasan itu telah mendorong pemerintah Afghanistan untuk mengambil alih kendali Bagram dari militer AS.
Militer AS terbukti melakukan penyiksaan brutal dan perilaku anti-kemanusiaan di Afghanistan. Anehnya lagi, para pelaku kejahatan itu justru bernostalgia dengan aksi bejatnya. Sejumlah tentara AS di Afghanistan mengencingi tiga jenazah yang tewas dalam perang dan salah seorang di antaranya bercanda dengan mengatakan, “Have a nice day, buddy.” Sedangkan yang lain mengucapkan lelucon cabul.
Video yang tersebar luas di internet itu memperlihatkan perilaku brutal tentara Amerika dan mereka benar-benar menikmati perilaku tak terpujinya. Para tentara Amerika dengan aksinya itu mengira telah melewati hari-hari yang indah di Afghanistan. Tindakan brutal dan tidak manusiawi ini telah menjadi sebuah lelucon dan hiburan bagi Amerika yang disebut berperadaban.
Contoh kasus kejahatan lain berhubungan dengan pengakuan Sersan Calvin Gibbs yang membunuh dan memutilasi tiga warga sipil Afghanistan. Dengan cara sungguh sadis, Gibbs menanam senjata di tubuh korban dan memotong jari tangannya untuk disimpan sebagai trofi perang. Gibbs merencanakan "skenario" yang memungkinkan tentara AS bisa membunuh warga sipil dan membuatnya tampak seolah-olah mereka militan Taliban.
Koran The Washington Post pada September 2010 melaporkan bahwa sekelompok tentara Amerika menyasar secara acak dan membunuh warga Afghanistan untuk olahraga. Aksi tak berperikemanusian itu diungkap ke publik oleh harian tersebut setelah melakukan penyelidikan langsung ke Afghanistan. Dari hasil wawancara dengan orang yang terlibat langsung serta didukung hasil penyelidikan militer AS, terungkap bahwa olahraga membunuh warga sipil tak berdosa itu dimulai pada musim dingin 2010.
Militer AS juga terlibat kejahatan perang pada Oktober 2015 ketika menyerang sebuah rumah sakit dokter tanpa batas di Kunduz, Afghanistan. Serangan yang dilakukan oleh jet tempur Amerika itu menewaskan 42 orang termasuk pasien anak-anak. Pentagon kemudian mengakui serangan AS atas sebuah rumah sakit di Kunduz adalah suatu kesalahan. Dokter Lintas Batas menggambarkan serangan AS terhadap rumah sakit yang menewaskan para pasien itu sebagai pelanggaran menjijikkan terhadap hukum humaniter internasional.
Dalam laporannya pada April 2016, AS menyatakan bahwa pemboman tersebut bukan kejahatan perang. Pentagon mengatakan serangan itu bukan termasuk kategori kejahatan perang, para pelaku hanya dijatuhi sanksi disiplin dan administratif. Tragedi seperti ini sudah berkali-kali dilakukan oleh tentara AS selama perang di Irak dan Afghanistan atau di Pakistan dengan dalih memerangi terorisme. Kasus tersebut juga bukan yang pertama atau terakhir yang melibatkan tentara Amerika di Afghanistan.
Penjara Abu Ghraib di Irak merupakan tempat horor lain milik Amerika, di mana peristiwa-peristiwa tragis yang kerap terjadi di sana telah menggegerkan dunia. Kejahatan tentara Amerika dan pelanggaran berat HAM di Abu Ghraib benar-benar sangat mengerikan dan mendorong media-media dunia untuk mengungkap kejahatan perang yang dilakukan AS di Irak. Skandal penyiksaan dan pelecehan tahanan di Abu Ghraib, tidak akan begitu saja terlupakan oleh waktu.
Apa yang dialami para tahanan Abu Ghraib di luar batas kemanusiaan. Gambar-gambar penyiksaan di penjara itu yang terjadi pada tahun 2004, menggegerkan dunia internasional, memicu kemarahan semua manusia beradab. Pertama kali melihat gambar-gambar tersebut tidak ada yang percaya perilaku kejam itu melibatkan sebuah negara maju. Dalam gambar yang dimuat media-media dunia itu tampak seorang penyiksa yang berpose di depan tumpukan tahanan dalam keadaan telanjang.
Ada juga gambar seorang tentara wanita Amerika yang berpose dengan seorang tahanan yang ditelanjangi dalam keadaan lehernya dirantai. Pada gambar lain terlihat seorang tahanan Irak dalam keadaan ketakutan di depan anjing buas Amerika. Rasa sesak justru bertambah ketika dunia mengetahui medote penyiksaan yang diterapkan AS. Para sipir militer AS secara brutal menyiksa fisik dan mental tahanan.
Para tentara Amerika juga melecehkan tahanan dengan menelanjangi mereka dan menumpuknya di lorong sel. Para tahanan sering dibenturkan ke tembok hingga pingsan, ada yang ditelanjangi dan diancam diperkosa, sementara tangan dan kakinya dirantai dan kepalanya ditutupi kain. Banyak juga tahanan dipaksa minum air hingga muntah darah. Beberapa tahanan lain juga diperkosa, dipukuli, setelah itu dibiarkan dalam keadaan telanjang selama beberapa hari.
Komite Anti Penyiksaan PBB pada 28 November 2014 merilis sebuah laporan, yang membongkar skandal lain AS di bidang HAM. Mereka mengkritik keras kasus-kasus pelanggaran HAM oleh AS dalam kebijakan kontra-terorisme, kebrutalan polisi, kebijakan imigrasi, kekerasan seksual di militer dan lainnya.
Laporan itu mengecam pemerintahan Obama karena tidak mengungkap informasi tentang praktik CIA setelah 11 September, yang melanggar hak asasi manusia, termasuk penyiksaan, penganiayaan dan penghilangan paksa dari orang yang dicurigai terlibat dalam kejahatan terorisme. Laporan tersebut juga mendesak pemerintahan Obama untuk menghentikan penahanan tanpa tuduhan atau pengadilan untuk para tahanan di penjara Guantanamo.
Pelanggaran HAM oleh AS tentu saja tidak hanya terbatas terhadap para tahanan, tapi juga mencakup penistaan luas terhadap hak-hak warga sipil.