Isu HAM Iran dan Kemunafikan AS 4
https://parstoday.ir/id/radio/world-i27142-isu_ham_iran_dan_kemunafikan_as_4
Rapor politik luar negeri pemerintah Amerika Serikat mencatat berbagai kejahatan anti-kemanusiaan. Akan tetapi Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat sangat sibuk menyoal rapor hak asasi manusia (HAM) negara-negara lain dengan merilis laporan tahunan dalam hal ini.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Des 01, 2016 09:39 Asia/Jakarta

Rapor politik luar negeri pemerintah Amerika Serikat mencatat berbagai kejahatan anti-kemanusiaan. Akan tetapi Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat sangat sibuk menyoal rapor hak asasi manusia (HAM) negara-negara lain dengan merilis laporan tahunan dalam hal ini.

Amerika Serikat tidak diragukan lagi adalah mitra dalam banyak kejahatan perang. Fakta ini dapat ditelusuri pada peran langsung dan tidak langsung Amerika Serikat dalam perang yang dipaksakan Irak terhadap Iran, dalam menyuplai senjata kimia untuk rezim Saddam, serta kebungkaman Washington di hadapan penggunaan jenis senjata terlarang itu di Sardasht dan Halabcheh.

 

Amerika Serikat dan sekutunya selama bertahun-tahun menggulirkan kesewenang-wenangan mereka dengan kedok nilai-nilai seperti perwujudan demokrasi atau HAM. Mereka mengklaim sebagai pionir dalam masalah HAM dan dengan alasan itu pula mereka menjustifikasi intervensi militer di banyak negara serta kejahatan perang terhadap perempuan dan anak-anak. 

 

Dalam kamus HAM AS dan sekutunya, masyarakat dibagi dalam tiga kelompok, level satu, dua dan tiga. Menurut Barat, nyawa manusia di Asia, Afrika dan Amerika Latin sangat murah, sementara nyawa manusia di Amerika Serikat, Barat dan Eropa dipatok dengan harga tinggi. Pada hakikatnya, keamanan Amerika Serikat dan Eropa sangat penting sementara keamanan masyarakat di belahan bumi lain tidak demikian. Menurut pandangan dan logika Barat, penyiksaan dan teror adalah sebuah fenomena yang jika dilakukan Amerika Serikat, Israel dan antek-antek dependen mereka, adalah legal dan dapat dimaklumi.

 

Pandangan terbelakang seperti inilah yang membuat Amerika Serikat memberikan dukungan penuh terhadap rezim Saddam selama delapan tahun menyerang Iran. Kesempatan itu pula yang digunakan Saddam untuk melancarkan serangan kimia ke kota-kota di Iran. Kejahatan sadis itu telah menelan korban lebih dari 100 ribu jiwa dan melukai ribuan lainnya yang hingga kini menderita akibat serangan kimia rezim Saddam. 

 

Sebelum bombardir kimia Sardasht, senjata kimia hanya digunakan pada Perang Dunia I dan dalam perang Amerika Serikat di Vietnam. Pada perang Vietnam, AS menggunakan 80 juta liter racun pengering rumput liar dan tanaman ke lahan pertanian warga Vietnam. Dokumen yang terungkap beberapa tahun kemudian menunjukkan bahwa akses rezim Saddam terhadap senjata-senjata kimia dan mikroba adalah berkat perusahaan-perusahaan Eropa dan Amerika Serikat. Disebutkan pula bahwa puluhan perusahaan Jerman, Belanda, Perancis, Belgia, Rusia dan Amerika Serikat, terlibat dalam pengiriman bahan kimia dan teknologi penggunaannya oleh rezim Saddam. Apakah itu semua tidak termasuk dukungan nyata terhadap pelanggaram HAM?

 

Gordon Duff, pakar keamanan beberapa waktu lalu dalam wawancara memperingati Hari Anti-Senjata Pemusnah Massal, menyebut Amerika Serikat sebagai mitra kejahatan Saddam dan militer Baats dalam penggunaan senjata kimia terhadap Iran. Dikatakannya, selama delapan tahun perang Iran-Irak, rezim Saddam berulang kali menggunakan senjata kimia terhadap Iran akan tetapi Barat tidak pernah transparan terkait peran mereka dalam peristiwa tragis itu, yaitu perang yang dipaksakan oleh seluruh dunia terhadap Iran."

 

Gordon Duff adalah veteran Angkatan Laut Amerika Serikat pada perang Vietnam. Menyinggung tujuan Amerika Serikat menginvasi Irak pada 2003, Duff mengatakan, salah satu kejahatan Amerika Serikat di Irak dengan alasan pemberantasan senjata pemusnah massal Irak adalah penggunaan amunisi uranium yang telah diperlemah. Senjata-senjata tersebut secara bertahap menunjukkan dampak destruktifnya dalam masyarakat. Senjata-senjata kimia dengan daya rusak tinggi dapat merusak beberapa generasi.

 

Ditambahkan Duff bahwa pemerintah Amerika Serikat selalu mengklaim sebagai pihak pendukung kemanusiaan dan pada saat yang sama menyerang negara lain serta mengklaim sedang berusaha menegakkan kebebasan dan demokrasi.  Pada prosesnya terbongkar fakta bahwa Amerika Serikat adalah pengelola berbagai fasilitas produksi senjata kimia di Georgia, Bulgaria, Kazakhstan dan Ukraina. Aktivitas berbagai fasilitas yang didirikan dengan kedok pusat riset pertanian atau kedokteran di negara-negara tersebut akan dihentikan dan segera direlokasi ke tempat lain setelah terbongkar.  

 

Menurut kekuatan-kekuatan adidaya dunia, memiliki senjata pemusnah massal dapat menjamin keunggulan militer mereka dan menjadi parameter kemajuan teknologi persenjataan mereka. Itu semua dengan catatan meski pun jenis senjata tersebut dapat memusnahkan nyawa warga tidak berdosa dalam sekejap. Dan bahwa kejahatan tersebut tidak dapat dijustifikasi dengan nilai atau prinsip apapun.

 

Pola pikir yang sama berkembang dalam masalah perlucutan senjata pemusnah massal. Amerika Serikat sebagai pencetus ide "atom untuk perdamaian" pada dekade 1950, sekarang di abad 21 menjadi pemilik hulu ledak nuklir terbanyak di dunia. Berbagai data menunjukkan bahwa saat ini terdapat sekitar 16.000  senjata nuklir di gudang-gudang sembilan negara. 90 persen di antaranya ada di Amerika Serikat dan Rusia. 18.000 senjata nuklir juga siap ditembakkan dan umumnya memiliki daya rusak lebih kuat berkali lipat dibanding ledakan di Hiroshima dan Nagasaki.

 

Presiden Amerika Serikat Barack Obama pada 2009, berjanji mengupayakan dunia terbebas dari senjata nuklir, dan memicu semangat gerakan global anti-senjata pemusnah massal. Akan tetapi, mendekati akhir masa jabatannya, janji dunia terbebas dari senjata nuklir itu tetap menjadi mimpi, dan bahkan sekarang Amerika Serikat merencanakan peremajaan senjata nuklirnya. Berdasarkan program terbaru, Amerika Serikat merencanakan peremajaan seluruh hulu ledak nuklirnya selama 25 tahun mendatang.

 

Perspektif anti-kemanusiaan Amerika Serikat ini memang memiliki catatan sejarah panjang. Berbagai laporan menunjukkan bahwa antara 1940-1990, tentara Amerika Serikat dan juga anasir dari berbagai negara dijadikan sebagai kelinci percobaan. Disebutkan bahwa mereka dipaksa untuk melintasi lingkaran ledakan nuklir dan bersama dengan para pilot melintasi awan berbentuk jamur akibat ledakan nuklir. Tidak hanya itu, mereka juga dipaksa melakukan  ujicoba kimia, biologi atau berbagai tes radioaktif. 

 

Amerika Serikat dan pasukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dalam serangan mereka pada perang Balkan serta serangan ke Afghanistan, Irak dan Libya, menggunakan berbagai jenis senjata terlarang mengandung uranium yang telah diperlemah. Barat pada abad 20 dengan klaim demokrasi dan HAM, menentukan tatanan dunia baru. Akan tetapi pada hakikatnya, capaian militer AS dan NATO pasca serangan 11 September, bagi bangsa-bangsa dunia khususnya di kawasan Timur Tengah, tidak lain adalah terorisme, perang, disintegrasi dan instabilitas. Hal itu juga sekaligus membuktikan kebohongan klaim Barat.

 

Obama menjustifikasi kekuatan dan kesewenang-wenangan Amerika Serikat dengan menyinggung posisi negaranya di dunia. Ia juga berbicara tentang nilai-nilai Amerika Serikat serta komitmen Washington pada kebebasan dan sebagainya. Akan tetapi sisi unggul AS dewasa ini bukan lagi nilai-nilai tersebut. Rapor hitam AS menunjukkan bahwa perspektif Barat meski secara lahiriyah dikemas dengan indah berdasarkan nilai-nilai serta dengan slogan-slogan menarik, akan tetapi konten dan kandungannya tidak lebih dari "dikte keunggulan perspektif dan nilai Barat khususnya Amerika Serikat dibanding negara-negara lain." Di mana menurut Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei, tujuan dikte tersebut adalah untuk infiltrasi puluhan tahun dan pemulihan citra mereka yang telah hancur di kawasan.

 

Di balik lembaran-lembaran tersembunyi langkah anti-kemanusiaannya, Amerika Serikat mengalokasikan milyaran dolar untuk melakukan riset rahasia memproduksi senjata kimia dan biologi yang dikenal dengan Black Project. Program tersebut umumnya mencakup senjata genetika yang contohnya pernah terjadi di Afrika Selatan pada dekade 80-an.