Isu HAM Iran dan Kemunafikan AS 5
https://parstoday.ir/id/radio/world-i28336-isu_ham_iran_dan_kemunafikan_as_5
Beberapa waktu terakhir tersebar laporan soal penyebaran virus baru bernama Zika yang mengakibatkan gangguan dan kelainan fisik janin pada ibu hamil. Sejumlah hasil riset mengindikasikan proyek perang biologis oleh Amerika Serikat.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Des 15, 2016 16:25 Asia/Jakarta

Beberapa waktu terakhir tersebar laporan soal penyebaran virus baru bernama Zika yang mengakibatkan gangguan dan kelainan fisik janin pada ibu hamil. Sejumlah hasil riset mengindikasikan proyek perang biologis oleh Amerika Serikat.

Virus Zika menunjukkan bahwa penyakit Zika sama seperti demam Dengi atau demam kuning serta sejumlah penyakit lainnya yang ditemukan di barat sungai Nil. Penular virus ini adalah nyamuk bernama Zika. Penyakit ini umumnya diderita ibu-ibu hamil dan bayi mereka akan lahir dalam cacat fisik dengan kepala dan otak kecil.

 

Berdasarkan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), hanya di Brazil saja sedikitnya empat juta orang terancam virus Zika. Virus Zika dengan cepat menyebar di dunia. Hingga kini tidak ada obat untuk menyembuhkan virus ini dan tidak ada vaksin yang efektif mengatasinya. 

 

Para ilmuwan berpendapat bahwa sebuah perubahan genetika dan biologi pada nyamuk dapat mengakibatkan produksi dan penyebaran penyakit baru. Pengalaman menunjukkan potensi penyebaran penyakit itu secara disengaja. Pusat Riset Rantes, beberapa waktu lalu mengkatergorikan virus Zika sebagai perang lingkungan hidup dan Amerika Serikat adalah pihak yang bersalah dalam hal ini. Pada bagian laporannya disebutkan, nyamuk yang genetikanya telah direkayasa tersebut menjadi penular virus itu di perkebunan milik konglomerat terkenal dunia, Bill Gates, di Amerika Latin. Berdasarkan laporan Reuters, Gates pada bulan 2015 membeli perusahaan Oxitec dari Universitas Oxford senilai 160 juta dolar, dan menggunakan perkebunan itu untuk melakukan uji coba ilmiah.

 

Asumsi yang juga dibenarkan oleh berbagai bukti itu, memiliki akar dalam fakta getir perang biologis yang juga disebut dengan nama Perang Mikroba. Pada praktiknya, langkah anti-kemanusiaan yang menggunakan penyakit mulai dari bakteria, virus atau racun, disebut sebagai senjata perang.

 

Merunut berbagai catatan sejarah mengerikan menunjukkan bahwa Amerika Serikat merupakan di antara produsen sekaligus pengguna jenis senjata tersebut. Amerika Serikat memang memiliki catatan panjang dalam penyebaran penyakit mikroba. Berdasarkan berbagai laporan dokumentasi perusahaan-perusahaan obat-obatan Amerika Serikat, banyak negara di Amerika Latin, Afrika, dan sejumlah negara Asia dijadikan sebagai tempat uji coba obat-obatan mereka.

 

Warga pribumi Amerika termasuk di antara korban jenis senjata tersebut. Setelah ditemukannya Benua Amerika oleh Christopher Columbus dan hubungan dengan benua lainnya, banyak manusia yang tewas akibat penularan berbagai penyakit mematikan. Militer Inggris juga pernah menggunakan penyakit cacar sebagai senjata mereka. Pada perang Pontiac 1763, mereka membagi-bagikan selimut yang telah terkontaminasi virus cacar kepada kaum Indian. Sementara warga pribumi California juga membagi-bagikan karangan bunga yang terbungkus dengan daun pohon Oak beracun kepada warga Spanyol.

 

Pada tahun 1763 para imigran Eropa yang tinggal di Amerika Serikat menggunakan perang mikroba dengan membagi-bagikan selimut yang terkontaminasi virus cacar kepada kaum Indian. Amerika Serikat dan Inggris pada tahun 1944 atau sebelumnya, telah merencanakan serangan ke enam kota penting Jerman dengan menggunakan bom Antrhax. Pada Februari 1952 Amerika Serikat menggunakan bom-bom biologis terhadap Korea Utara.

 

Situs pemberitaan Alterinfo beberapa waktu menurunkan laporan dokumentasi dalam hal ini yang menyebutkan hasil riset banyak ilmuwan. Dalam laporan itu disebutkan, berdasarkan program yang disebut Project Day Lily, muncul berbagai peristiwa yang berkaitan dengan Sindrom Perang Teluk Persia, munculnya penyakit mencurigakan yang diderita oleh 150 veteran perang AS dan puluhan ribu lainnya meninggal dunia di saat mereka tidak mendapatkan layanan pemeriksaan atau pengobatan resmi, karena sumber penyakit tersebut harus tetap dirahasiakan. Fakta soal adanya unsur mikroba di darah para tentara itu ditemukan oleh dua ilmuwan Amerika Serikat. Sumbernya dari sebuah program uji coba terhadap para tentara dan tahanan.

 

Di bagian lain laporan itu disebutkan, di dataran tinggi Maryland, terdapat sebuah pangkalan militer besar Amerika Serikat yang pada Perang Dunia II dan tahun-tahun era Perang Dingin, berubah menjadi sebuah pusat riset persenjataan mikroba di negara ini. Dalam banyak dokumen disebutkan bahwa perusahaan-perusahaan farmasi Amerika Serikat menjadikan negara-negara Amerika Latin, Afrika dan sejumlah negara Asia sebagai target uji coba obat-obatan mereka.

 

Pada tahun 1931, Doktor Cornelius Rhoads, salah satu dokter di Universitas Rockefeller, dalam sebuah riset kedokterannya, menyuntikkan sel-sel kanker ke tubuh beberapa orang sehat. Beberapa waktu kemudian dia melakukan uji coba itu pada tentara Amerika Serikat dan pasien rumah sakit. Pada tahun 1932, dalam riset yang berkaitan dengan penyakit Syphilis, virus bernama Tuskegee Syphilis disuntikkan kepada 200 laki-laki kulit hitam di Guatemala dan mereka dijadikan kelinci percobaan dalam hal ini.

 

Pada prosesnya, para peneliti Amerika Serikat yang mengetahui bahwa ke-200 pria itu menderita virus Syphilis, mereka sengaja menolak memberikan pengobatan kepada mereka. Masalah ini pada akhirnya memaksa Presiden Amerika Serikat, Barack Obama untuk meminta maaf kepada pemerintah Guatemala atas langkah tidak berperikemanusiaan tersebut. Uji coba bengis Amerika Serikat terhadap warga miskin Guatemala itu diungkap oleh Susan Reverby, dosen di Wellesley College, sehingga memaksa pemerintah Obama meminta maaf.

 

Mantan menteri luar negeri Amerika Serikat, Hillary Clinton dan Kathleen Sebelius, mantan menteri kesehatan dan layananan kemanusiaan AS, merilis pernyataan kolektif dan menyatakan bahwa uji coba mulai tahun 1946 hingga 1948, terhadap warga Guatemala, tidak manusiawi dan patut dikecam.

 

Permintaan maaf dan kecaman itu mengemuka setelah dosen Wellesley College, Susan Reverby, mempublikasikan hasil penelitian para dokter yang berafiliasi dengan Kementerian Kesehatan Amerika Serikat di Guatemala pada enam dekade lalu. Dia dalam artikelnya menyebutkan bahwa penelitian terhadap para tahanan dan pasien kejiwaan di Guatemala, dibandingkan dengan uji coba yang sama terhadap warga kulit hitam di negara bagian Alabama, Amerika Serikat.

 

Reverby menulis bahwa Doktor John Cutler dan para koleganya, antara tahun 1946 hingga 1948, sedikitnya telah menjangkiti 696 warga Guatemala dengan virus yang ditularkan melalui hubungan seksual, kemudian mereka diberikan suntikan penisilin.

 

Fakta-fakta mengerikan tersebut menunjukkan bahwa Amerika Serikat sebagai pengklaim hak asasi manusia, ternyata memiliki catatan terpanjang dalam penyebaran penyakit mikroba, virus dan berbagai kejahatan anti-kemanusiaan lainnya. Pada tahun 1925, penggunaan senjata tersebut dilarang sesuai dalam Geneva Protocol. Pada tahun 1972, Dewan BWC memperluas larangan tersebut dan sejak itu, bahkan penyimpanan dan transportasi bahan-bahan senjata mikroba juga dilarang.