Trump dan Kendala yang Menghadang
https://parstoday.ir/id/radio/world-i31879-trump_dan_kendala_yang_menghadang
Hari ini, 20 Januari 2017, kursi kepresidenan Amerika Serikat resmi diserahkan kepada Donald Trump. Dengan demikian miliuner New York yang kurang mendapat perhatian saat awal pemilu presiden, menjadi presiden Amerika Serikat ke 45.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jan 28, 2017 07:37 Asia/Jakarta

Hari ini, 20 Januari 2017, kursi kepresidenan Amerika Serikat resmi diserahkan kepada Donald Trump. Dengan demikian miliuner New York yang kurang mendapat perhatian saat awal pemilu presiden, menjadi presiden Amerika Serikat ke 45.

Saat Trump menduduki kursi kepresidenan Amerika, negara ini tengah menghadapi berbagai kendala serius. Pilpres terbaru kembali membuat Amerika terpecah dan ada dua kubu di negara ini. Satu kubu pro presiden baru yang mengharapkan perubahan mendasar di negara mereka untuk memerangi korupsi, pengangguran, ketidaksetaraan dan reformsi di berbagai bidang. Kubu kedua adalah para pendukung presiden sebelumnya yang sangat khawatir akan janji-janji kontroversial Trump.

 

Bagaimana pun juga Trump berhasil menang di pemilu Amerika karena mampu menunjukkan kendala serius yang dihadapi negara ini dan berjanji menyelesaikannya. Namun begitu sangat sulit jika upaya Trump merealisasikan janjinya tidak akan diwarnai dengan tensi politik dan sosial di Amerika. Hal ini menginat Trump melaju ke Gedung Putih padahal perolehan suaranya di bawah Hillary Clinton, kandidat presiden dari kubu Demokrat. Clinton unggul lebih dari 2,5 juta suara dari Trump, namun ia harus menelan kekalahan setelah rivalnya dari kubu Republik ini menang di suara elektoral.

 

Dengan demikian hari-hari pertama masa kepresidenan Trump diwarnai ketidakpopuleran miliuner New York ini karena ia tidak meraih suara mayoritas di pilpres. Sepertinya di kondisi seperti ini sangat sulit bagi Trump merealisasikan ambisi ambisius dan sebagiannya yang terlihat mustahil.

 

Upaya memperbaiki friksi internal di tubuh kubu Republik dan pembentukan kabinet terkoordinir serta logis merupakan kendala utama yang dihadapi Trump sebagai presiden baru Amerika. Pilpres yang digelar November tahun lalu di Amerika sedikit banyak membuat kubu Republik runtuh dan menghadapi perang internal. Awalnya tidak ada yang mengharapkan Trump tanpa pengalaman politik dan dukungan para pemimpin partai mampu melewati persaingan internal partai. Demi menduduki kursi kandidat utama partai saat konvensi nasional, Trump tak segan-segan terlibat cekcok dengan sejumlah tokoh dan pemimpin Republik.

 

Di sisi lain, para tokoh dan sejumlah pemimpin Republik dengan berbagai cara berusaha mendepak Trump dari persaingan kandidat utama. Namun demikian slogan ambisius Trump dan karakter agresif yang didukung dengan kemandirian dana finansial, akhirnya para pemimpin Republik menyerah pada tuntutan simpatisan kubu ini dan mendukung pencalonan Trump. Friksi internal ini masih terus berlanjut meski Trump menang di pemilu internal partai.

 

Sikap sejumlah tokoh terkemuka Republik yang menentang kebijakan Trump bahkan sebelum ia menang di pilpres menunjukkan bahwa presiden baru Amerika ini sepertinya tidak akan melewati masa-masa penuh kehangatan dengan anggota partainya. Di sisi lain, susunan kabinet yang tidak seimbang khususnya hadirnya sejumlah miliuner di kabinet ini sementara Trump berjanji memerangi praktek korupsi akan menciptakan kesulitan tersendiri bagi presiden kontroversial ini.

 

Salah satu prioritas mendesak pemerintahan Trump adalah membenahi kondisi ekonomi negara ini. Kondisi yang alami Trump di awal kepemimpinannya dari sisi ekonomi sedikit banyak lebih baik ketimbang Obama berkuasa pertama kalinya. Meski demikian persaingan ketat selama pilpres Amerika kian menambah tuntutan rakyat terkait pemulihan kondisi ekonomi. Misalnya Trump berjanji mempersiapkan 25 juta lapangan pekerjaan baru selama sepuluh tahun. Untuk mencapai janji ini tentu saja dibutuhkan investasi besar-besaran di sektor swasta dan mempermudah kondisi lebih baik bagi sektor pekerjaan oleh pemerintah federal dan negara bagian.

 

Selain itu ada kendala lain yang dihadapi Trump, yakni mendorong perusahaan besar untuk kembali ke Amerika dan merelokasi pusat produksi mereka dari luar ke dalam negeri. Ia optimis dengan menerapkan pajak 35 persen bagi barang impor produk Amerika yang diproduksi di luar negeri, para pemilik perusahaan dan investor akan terdorong mengubah kebijakannya merelokasi pusat produksi mereka ke luar negeri. Meski demikian, gerakan melawan globalisasi ekonomi sepertinya sangat sulit. Khususnya merelokasi pusat produksi di luar negeri dan memindahkannya ke dalam negeri membutuhkan waktu yang panjang serta biaya yang besar. Hal ini dapat menyebabkan kenaikan harga produk yang dikonsumsi oleh warga Amerika.

 

Adapun meyakinkan lembaga pengawas dan opini publik Amerika bahwa aktivitas perdagangan Donald Trump dalam kapasitasnya sebagai presiden Amerika tidak akan bertentangan dengan kepentingan nasional juga merupakan kesulitan lain yang dihadapi presiden Amerika saat ini.

 

Selain di bidang ekonomi, Donald Trump juga menghadapi kesulitan di sektor sosial dan budaya. Salah satunya adalah isu menentukan nasib lebih dari 11 juta imigran ilegal yang hidup di Amerika. Selama masa kampanye, Trump berjanji akan mengusir 11 juta imigran ilegal jika dirinya berhasil terpilih sebagai presiden. Ia juga berjanji membangun tembok di perbatasan Meksiko dengan anggaran negara dan mencegah masuknya Muslim ke Amerika.

 

Trump berhasil melenggang ke Gedung Putih dengan menghidupkan kembali kecenderungan rasisme dan anti asing. Kini seiring dengan dimulainya masa kepemimpinan Trump, para pendukung presiden baru berharap slogan dan janji-janji ambisiusnya dapat terealisasi. Padahal pengusiran 11 juta imigran gelap dan mencegah masuknya Muslim ke negara ini sedikit banyak mustahil dilakukan.

 

Ekonomi Amerika Serikat sangat membutuhkan tenaga murah imigran gelap. Selain itu, pengusiran imigran gelap yang mayoritasnya memiliki keluarga dan kenalan di antara warga Amerika akan menuai reaksi luas di dalam negeri. Di sisi lain, mengabaikan janji-janji semasa kampanye akan menurunkan tingkat dukungan terhadap presiden baru Amerika. Oleh karena itu, menciptakan keseimbangan di antara tuntutan warga dengan kemampuan pemerintah terkait isu sosial serta budaya akan menyita sejumlah waktu di periode kepresidenan Trump.

 

Sementara itu, saat Trump memegang tampuk kekuasaan di Amerika, hubungan negara ini dengan sejumlah negara termasuk sekutunya dalam kondisi tak menentu. Kondisi ini juga terpengaruh oleh sosok presiden baru yang tidak memiliki pengalaman politik luar dan dalam negeri serta sejumlah statemen kontradiktifnya selama masa kampanye presiden. Misalnya kritikan pedas Trump terhadap Peakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) serta pidato penuh persahabatannya terkait Rusia telah menciptakan kekhawatiran serius di Eropa. Eropa khawatir jika komitmen Amerika terhadap NATO menurun dan hubungan Washington-Moskow membaik, keamanan benua ini terancam.

 

Sementara di Asia barat, sejumlah sekutu Arab Washington termasuk Arab Saudi juga memiliki kekhawatiran yang sama. Penekanan Trump atas perhatian terhadap isu-isu dalam negeri untuk menghidupkan kembali kekuatan ekonomi Amerika sama halnya dengan kritikan berulan dirinya terhadap aktivitas kelompok teroris Daesh menjadi lonceng tanda bahaya bagi negara seperti Arab Saudi. Negara-negara ini sejak awal kemenangan Trump telah mengerahkan segenap upayanya menekan tim transisi presiden baru dengan harapan pemerintah mendatang AS mengubah sebagian kebijakannya.

 

Friksi antara Washington dan sekutu politiknya tidak terbatas pada isu politik dan keamanan. Ancaman berulang kali Trump bahwa Amerika akan keluar dari pakta perubahan iklim di kesepakatan Paris serta merevisi perjanjian perdagangan bebas seperti NAFTA mengindikasikan bahwa Amerika selama pemerintahan Trump tidak lagi bertindak mudah dalam berinteraksi dengan sekutunya. Potensi reaksi yang bakal ditunjukkan sekutu Amerika di seluruh penjuru dunia terhadap kinerja baru Gedung Putih memperkeruh atmosfer internasional.

 

Presiden baru Amerika selama kepemimpinannya tidak hanya memiliki kesulitan dengan sekutu poilitik dan ekonomi Washington, namun lebih luas lain, ia bakal terlibat hubungan konfrontatif dengan musuh, rival serta para kritikus Amerika di dunia. Sepertinya dalam hal ini Cina menjadi negara pertama yang mengancam akan memulai perang perdagangan. Menurut pandangan Trump dan penasihatnya, Cina berusaha memanipulasi sektor ekonomi, perdagangan dengan Amerika demi keuntungan Beijing.

 

Sebaliknya Trump mengumumkan bahwa pemerintah Amerika saat ini akan mengurangi akses bisnismen Cina ke pasar konsumen Amerika dan Beijing akan terpaksa  merevisi kebijakannya mempertahankan nilai rendah mata uang Yuan. Implementasi kebijakan seperti ini pastinya juga menjadi ancaman bagi konstelasi ekonomi global dan mempengaruhi ekonomi nasional Amerika.

 

Adapun terkait Republik Islam Iran dan kesepakatan nuklir (JCPOA), pemerintah baru Amerika dihadapkan pada dua pilihan. Pertama Trump harus mengikuti kebijakan pemerintahan Barack Obama dan mengakui Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) atau ia bersedia melanggar kesepakatan internasional ini dan membuat Amerika terkucil.

 

Pengabaian JCPOA selain menciptakan tensi yang tak dapat diprediksikan dengan Iran, juga mempengaruhi hubungan AS dengan Eropa. Sementara bersamaan dengan statemen bersahabat Trump terhadap Rusia serta Presiden Vladimir Putin, sepertinya kubu Amerika yang disebut Trump sebagai kumpulah politik busuk masih tetap berusaha meningkatkan tensi dengan Moskow. Menghadapi kelompok ini juga tercatat sebagai kendala serius selama era kepresidenan Donald Trump.