Isu HAM dan Kemunafikan AS 13
https://parstoday.ir/id/radio/world-i32615-isu_ham_dan_kemunafikan_as_13
Iran meskipun telah mengumumkan netralitasnya pada Perang Dunia I, menderita kerugian terbesar dalam pertikaian yang mematikan itu dan sekitar setengah dari penduduknya menjadi korban keserakahan negara-negara besar dan para imperialis pada masa itu selama tahun 1917-1919. Dokumen pembataian massal hampir 10 juta orang ini masih menjadi arsip rahasia Inggris dan mereka sampai sekarang masih melarang publikasinya.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Feb 09, 2017 09:08 Asia/Jakarta

Iran meskipun telah mengumumkan netralitasnya pada Perang Dunia I, menderita kerugian terbesar dalam pertikaian yang mematikan itu dan sekitar setengah dari penduduknya menjadi korban keserakahan negara-negara besar dan para imperialis pada masa itu selama tahun 1917-1919. Dokumen pembataian massal hampir 10 juta orang ini masih menjadi arsip rahasia Inggris dan mereka sampai sekarang masih melarang publikasinya.

Kajian ini ingin menyoroti realitas pahit dari tindakan anti-kemanusiaan dan tragedi pilu serta dampak-dampak intervensi Amerika Serikat dan Inggris di Iran. Akibat keserakahan dan ambisi hegemonik mereka, bangsa Iran dipaksa menjalani hari-hari yang penuh kepedihan, tetapi sekarang Barat mendeklarasikan dirinya sebagai pembela hak asasi manusia.

Situasi internal Iran sangat tidak stabil pada awal pecahnya Perang Dunia I. Iran nyaris menjadi sebuah negara yang gagal karena situasi yang kacau dan instabilitas ekonomi dan politik serta intervensi luas kekuatan-kekuatan asing. Meskipun sudah mengumumkan sikap netral, pasukan musuh Inggris dan Rusia memasuki sejumlah daerah Iran. Terlepas dari alasan geopolitik dan sumber-sumber strategis Iran yang penting untuk kelanjutan perang, salah satu penyebab serangan ke Iran adalah terbentuknya sentimen pro-Jerman melalui salah satu petinggi kerajaan dan Britania Raya – yang khawatir bakal terjadinya kudeta Jerman di Iran – mengirim pasukannya sampai ke gerbang ibukota Iran.

Sejumlah daerah di Iran Selatan termasuk Bushehr dan Bandar Lengeh berada di bawah pendudukan Inggris. Pasukan Inggris bersama tentara India yang berada di bawah komandonya memasuki Abadan melalui Bahrain dan menduduki kota tersebut. Pendudukan ini dilakukan dengan alasan mengamankan instalasi eksplorasi minyak di wilayah Khuzestan.

Setelah kekalahan Ottoman dan terjadinya Revolusi Bolshevik 1917 di Rusia serta penarikan pasukan mereka dari Iran, Inggris sekarang menduduki seluruh Iran dan bagian besar dari Timur Tengah. Inggris mulai menyusun rencana untuk mengisi kekosongan tersebut dengan membesar-besarkan bahaya Jerman dan Ottoman.

Pemerintah pusat Iran kala itu sedang menghadapi krisis ekonomi dan instabilitas politik dalam negeri. Situasi ini semakin kompleks akibat campur tangan asing, pertikaian kubu-kubu politik, praktek korupsi dan nepotisme, dan kemiskinan yang merajalela di tengah masyarakat. Pada masa itu, Iran juga dilanda kekeringan parah dan banyak anak-anak, perempuan, dan manula meninggal dunia. Kebijakan Inggris selama pendudukannya di Iran mengakibatkan bencana yang luar biasa dan besar.

Britania Raya memborong semua sumber pangan dan produk pertanian untuk memenuhi logistik pasukan yang sedang berperang dan melakukan penimbunan. Parahnya lagi, Inggris merampas makanan lokal dan gandum, mencegah impor bahan makanan dari India, Mesopotamia, dan bahkan Amerika. Mereka juga mengadopsi kebijakan-kebijakan finansial seperti penolakan membayar pendapatan minyak ke Iran. Akibatnya jumlah yang lebih besar dari warga Iran meninggal dunia karena kebijakan Inggris.

Berbagai jenis penyakit juga menyebar luas seperti, tifus dan kolera karena tentara Inggris tidak penduli dengan kesehatan lingkungan sekitar. Banyak warga meninggal dunia karena kelaparan dan ketidakmampuan melawan penyakit.

M.H. Donahoe salah seorang atase intelijen Inggris dan perwakilan negara itu di Iran Barat, mengisahkan tentang wabah kelaparan di Iran pada tahun 1918 dan 1919. Ia menulis, "Pada masa itu semua penampakan berubah dan masyarakat tidak lagi mirip manusia. Semua dengan bola mata cekung merangkak dengan tangan dan kakinya. Mereka memakan rumput dan akar-akar pohon. Semua binatang dan tumbuhan yang bisa diraih telah menjadi santapan masyarakat."

Krisis kelangkaan bahan pangan telah dimulai sejak tahun 1916 dan kelaparan terus melanda sampai musim panas 1919. Duta Besar AS di Iran, John Lawrence Caldwell dalam laporannya dengan judul "Poverty and Pain in Iran” pada 4 Oktober 1917, menjelaskan wabah kelaparan yang terus meningkat dan menulis, "Kelangkaan bahan pangan, terutama gandum dan berbagai jenis roti, menyebar ke seluruh Iran khususnya wilayah utara dan daerah perbatasan dan juga Tehran sehingga sebelum musim dingin, kemiskinan yang akut dan penderitaan luar biasa telah muncul. Tidak diragukan lagi bahwa tingkat kematian dan kelaparan akan meningkat beberapa kali lipat pada musim dingin ini."

Pada tanggal 4 Mei 1918, Doktor Samuel Jordan, kepala Lafayette College AS dalam laporannya juga menulis, "Kelaparan telah tumbuh dan disertai dengan wabah tifus… bahan makanan hampir tidak tersedia. Sebagian besar orang memakan rumput dan bangkai hewan, perempuan mulai meninggalkan anak-anak mereka. Di Tehran saja terdapat 40 ribu orang miskin…"

Wabah kelaparan semakin parah pada musim semi tahun 1918. Ribuan orang meninggal akibat kelaparan dan terserang penyakit khususnya di kota Tehran, Mashhad, dan Hamedan. M.H. Donahoe dalam memoarnya menulis, "Britania memiliki kinerja yang sangat lemah dalam menuhi kebutuhan pangan warga Hamedan. Pada masa itu jumlah orang yang tewas meningkat karena kelaparan dan harga roti – sebagai satu-satunya andalan orang miskin dan makanan pokok mereka – naik drastis."

Selama kelaparan ini sekitar setengah dari penduduk Iran tewas. Perbandingan penduduk Iran pada tahun 1919 dan 1914 menunjukkan bahwa hampir 10 juta orang Iran meninggal karena kelaparan dan penyakit. Berbeda dengan klaim beberapa penulis Rusia sebelum Perang Dunia I dan juga penulis Inggris di tahun 1960-an dan 1970-an, populasi nyata Iran pada tahun 1914 setidaknya 20 juta, tapi turun menjadi 11 juta jiwa pada 1919.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kelaparan 1917-1919 adalah bencana terbesar dalam sejarah Iran dan mungkin pembantaian paling keji abad 20. Sebagian penulis percaya bahwa Inggris memanfaatkan bencana kelaparan dan pembantaian sebagai sarana untuk menguasai Iran.

Iran yang netral telah menjadi korban dalam Perang Dunia. Tidak ada satu pun dari pihak-pihak yang bertikai menanggung kerugian yang begitu besar. Sebuah bencana yang berujung pada keruntuhan masyarakat Iran, penguatan imperialisme Inggris di Iran, pembentukan rezim-rezim boneka Inggris, dan kudeta terhadap pemerintah yang dipilih oleh rakyat. Inggris dan AS – karena ambisi-ambisi politiknya – berkali-kali melakukan tindakan yang tidak manusiawi terhadap bangsa Iran.

Richard Nixon dalam bukunya "Victory Without War 1999" mengakui intervensi langsung AS dalam kudeta 28 Mordad (Mei 1953) dan menulis, "Operasi rahasia Eisenhower telah melahirkan sebuah rezim di Iran, di mana dalam waktu seperempat abad tidak hanya melayani kepentingan AS, tapi juga kepentingan rakyat Iran, teman-teman dan sekutu-sekutu kami di kawasan."

Pembentukan organisasi SAVAK (dinas intelijen era Syah Pahlevi) untuk melindungi kepentingan AS di Iran, pembunuhan sejumlah mahasiswa yang memprotes kunjungan Nixon ke Tehran, dan penembakan sekelompok pelajar pada peristiwa 13 Aban 1357 (November 1978), merupakan bagian dari catatan kelam anti-kemanusiaan yang dilakukan oleh para pengaku pembela HAM.

Pelanggaran lain yang melibatkan AS adalah memberlakukan sanksi dan embergo ekonomi terhadap Iran, membekukan aset Iran di negara itu, memblokir kepentingan bisnis dan transaksi dengan Iran, memprovokasi Irak untuk menyerang Iran, mempersenjatai rezim Saddam dengan senjata kimia dan biologi untuk membunuh rakyat Iran, dan menembak jatuh pesawat sipil Iran di perairan Teluk Persia. AS telah menginjak-injak hak-hak bangsa Iran pada masa sebelum dan setelah kemenangan Revolusi Islam.

Aksi anti-kemanusiaan lain AS adalah penerapan sanksi kejam terhadap negara-negara, yang menentang kebijakan arogan Negeri Paman Sam. AS memaksa negara-negara lain untuk tunduk pada mereka dengan berbagai cara mulai dari embargo ekonomi dan sanksi atau menuduh mereka melanggar HAM dan mendukung terorisme. AS juga secara luas menggunakan cara ini untuk menyerang Republik Islam Iran.