Paradoks Piala Oscar 2017
Sebelum acara penganugerahan piala Oscar, koran Spanyol, El Pais menulis, Jika film “The Salesman” dinobatkan sebagai pemenang piala Oscar, maka akan menjadi tamparan keras bagi Trump.Tidak perlu heran, sebab film The Salesman memegang daftar panjang penghargaan internasional.
Pekan lalu, sutradara film The Salesman, Ashgar Farhadi mengatakan, “Siapapun berhak atas penghargaan ini, karena hadiah ini milik semua orang yang berjuang demi memperkuat persatuan dan kesepahaman bersama.”
Cerita tidak berhenti sampai di sana. Sikap sutradara film The salesman bukan hanya signifikan bagi sinema Iran sebagai bagian dari diplomasi budaya Iran, tapi juga semua pihak yang berjuang melawan diskriminasi dan sepak terjang tidak terhormat pemerintahan baru AS.
Ashgar Farhadi selaku sutradara yang diundang hadir di acara pemberian piala Oscar 2017 tidak datang sebagai bentuk protes atas keputusan kontroversial presiden AS, Donald Trump yang melarang masuk warga tujuh negara dunia, termasuk Iran ke wilayah teritorial AS. Menurut Farhadi, Jika pun ada pengecualian yang diberikan kepadanya, maka ia tetap tidak akan hadir dalam acara piala Oscar 2017.
Pemberian penghargaan piala Oscar ke-89 untuk kategori film berbahasa asing yang diraih film The Salesman diwakili oleh dua orang Iran, yaitu Anousheh Ansari, wanita pertama yang menjadi astronot yang melakukan perjalanan ke ruang angkasa, dan Firouz Naderi, salah seorang direktur NASA.
Di panggung Academy Award 2017, Anouseh Ansari Minggu malam (26/2/2017) membacakan pesan Ashgar Farhadi yang memprotes keras kebijakan rasis Trump mengenai imigran. Dalam pesannya, Farhadi menjelaskan alasan ketidakhadirannya dalam acara penganugerahan piala Oscar sebagai bentuk penghormatan terhadap negaranya dan orang-orang yang dilarang secara tidak terhormat memasuki AS.
Ucapan Asghar Farhadi terkait dirinya yang tidak hadir, “Maaf saya tidak bersama kalian malam ini, ketidakhadiran saya demi menghormati orang-orang dari negara saya dan enam negara lain. Membagi dunia menjadi Amerika Serikat dan negara musuh, menciptakan rasa takut bagi kita, itu hanya pembenaran tipuan untuk agresi dan perang. Perang ini menghalangi demokrasi dan hak asasi manusia yang di negaranya sendiri telah menjadi korban agresi.”
Farhadi juga menyampaikan bahwa para sineas sebenarnya telah berperan untuk menciptakan kualitas manusia dan mematahkan stereotip berbagai negara dan agama, lewat kamera mereka.
"Mereka menciptakan empati antara kita dan orang lain, empati yang kita butuhkan hari ini lebih dari sebelumnya," ujarnya.
Farhadi meraih piala Oscar untuk kedua kalinya setelah sebelumnya menyabet piala di kategori yang sama dengan film A Separation di tahun 2012. Film “Forousandeh” atau The Salesman bersaing dengan 85 film asing dari sembilan negara lain di dunia. The Salesman berhasil mengalahkan empat nominasi lainnya, yakni Land of Mine (Denmark), A Man Called Ove (Swedia), Tanna (Australia), dan Toni Erdmann (Jerman).
Film The Salesman ditayangkan pada sesi kompetisi di Festival Film Cannes tahun 2016, dan meraih dua penghargaan. Shahab Hosseini menang di kategori Best Actor dan Asghar Farhadi menang di kategori Best Screenplay. Selain itu, film ini juga menyabet deretan penghargaan lainnya seperti: Chicago International Film Festival, National Board Review, Munich Film Festival, Valladolid International Film Festival, dan lainnya.
Di London, Film The Salesman ditonton ribuan orang dalam acara nonton bareng yang diprakarsai oleh Wali Kota London, Sadiq Khan untuk memprotes kebijakan imigrasi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
“Presiden Trump tidak bisa membungkam saya.
Kami di sini sebagai bentuk dukungan solidaritas untuk Asghar Farhadi, salah satu sutradara terbaik di dunia.
Dalam pesan video dari Teheran, Farhadi mengucapkan terima kasih kepada orang-orang dari London yang berkumpul di sore dingin dan mengatakan bahwa dia tersentuh dengan reaksi dari para pembuat film dan seniman atas larangan perjalanan imigran yang menindas.”
Film besutan Asghar Farhadi sebelumnya, the Separation memenangkan Academy Award untuk Film Berbahasa Asing Terbaik pada 2012, yang menobatkannya menjadi film Iran pertama yang memenangkan penghargaan tersebut. Film ini meraih Golden Bear untuk Film Terbaik dan Silver Bears untuk Aktris Terbaik dan Aktor Terbaik di Festival Film Internasional Berlin ke-61. Selain itu. Film tersebut juga memenangkan Golden Globe untuk Film Berbahasa Asing Terbaik.
Sepanjang karirnya sebagai sutradara, Farhadi telah mengarahkan tujuh judul film. Selain dua film yang memenangkan piala Oscar itu, film lainnya yaitu: Dancing in the Dust (2003), The Beautiful City (2004), Fireworks Wednesday (2006), About Elly (2009), dan The Past (2013).
Perhelatan piala Oscar tahun 2017 tidak hanya diisi dengan aksi boikot oleh Asghar Farhadi dalalam acara tersebut sebagai bentuk protes terhadap keputusan rasis Trump mengenai imigran. Tapi ada warna lain dari momentum sinema terbesar di dunia ini. Di Twitter, muncul tagar #OscarsSoWhite jauh sebelum digelar acara pemberian penghargaan piala Oscar, terutama ketidakadilan terhadap kulit hitam yang tampak pada perhelatan Academy Award tahun 2016.
Media internasional melaporkan, sejumlah orang berdemonstrasi di dekat Dolby Theater di Los Angeles Minggu siang (28/2/2016) untuk memprotes kurangnya keragaman dalam ajang the Academy Awards tahun ini. Para demonstran membawa poster-poster yang bertuliskan “Kami Menuntut Peluang” dan “Hollywood Harus Lebih Baik” sambil meneriakkan “Hollywood Rasis.”
Salah seorang aktivis, KW Tulloss, dari organisasi National Action Network (NAN) cabang Los Angeles mengatakan aksi tersebut berupaya mengirim pesan yang kuat bahwa keragaman dalam industri jangan hanya sekedar janji palsu. Unjuk rasa yang digagas aktivis kulit hitam Al Sharpton dari NAN tersebut diadakan hanya beberapa jam sebelum dimulainya acara penghargaan Oscar ke-88 di Dolby Theater. Selain di Los Angeles, unjuk rasa serupa juga diadakan di beberapa kota lain di AS.
Perhelatan Oscar kali ini menuai kecaman karena selama dua tahun berturut-turut, para aktor dan aktris yang dinominasikan semuanya berkulit putih. Hal ini memicu seruan boikot dan tagar #OscarsSoWhite di media sosial.
Tahun ini, Academy Award menambahkan rekor baru dengan 683 anggota baru tahun ini, salah satunya aktor berkulit hitam Idris Elba. Keberadaan Idris Elba juga dibarengi dengan Michael B. Jordan dan John Boyega. Mereka merupakan aktor berkulit hitam yang menjadi penambah keberagaman anggota.
Sebelumnya, pada penyelengaraan Oscar 2016, insiden tidak menyenangkan terjadi. Tidak ada nominasi aktor atau artis yang diberikan pada sosok berkulit hitam. Padahal beberapa film seperti Beasts of No Nation yang diperankan Elba dan Creed yang diperankan Jordan mendapatkan tanggapan positif dari masyarakat. Dengan masuknya tiga aktor kulit hitam ini dinilai menjadi arah positif bagi Academy. Mereka akan menambah keberagaman akan dominasi yang sudah ada.
Matt Damon, aktor, produser dan penulis skenario film AS dalam wawancara terbaru mengatakan, Hollywood harus bertindak, tapi ketahuilah ketidakadilan terhadap perempuan dan etnis lain di AS sangat besar dan contohnya adalah pembatasan kandidat hanya pada kulit putih. Masalah ini muncul dalam industri Hollywood, dan lebih dari itu di seluruh negara ini.
Oscar tahun ini tetap memunculkan paradoks. Produk yang dilahirkan dari industri hiburan Hollywood dalam beberapa kasus dipenuhi dengan penistaan terhadap SARA. Selama bertahun-tahun, Hollywood menampilkan diskriminasi, termasuk penghinaan terhadap Muslim dan bangsa-bangsa Asia. Apa yang terjadi di acara perhelatan Oscar ketika seorang presiden dikritik karena statemen rasisnya? Apakah ada yang bisa menjawab soal ini?