Prediksi Jerman Soal Keruntuhan Barat dan Uni Eropa
https://parstoday.ir/id/radio/world-i48443-prediksi_jerman_soal_keruntuhan_barat_dan_uni_eropa
Isu soal masa depan suram dunia Barat dan peradabannya, hingga kini terus menjadi buah bibir dan kajian para intelektual dan pemikir Eropa dan Amerika. Pasca tumbangnya Uni Soviet di tahun 1991, Francis Fukuyama, intelektual Amerika menyampaikan teori, The End of History and The Last Man pada tahun 1992.
(last modified 2026-04-12T10:02:39+00:00 )
Des 20, 2017 10:34 Asia/Jakarta

Isu soal masa depan suram dunia Barat dan peradabannya, hingga kini terus menjadi buah bibir dan kajian para intelektual dan pemikir Eropa dan Amerika. Pasca tumbangnya Uni Soviet di tahun 1991, Francis Fukuyama, intelektual Amerika menyampaikan teori, The End of History and The Last Man pada tahun 1992.

Dalam bukunya, Fukuyama berpendapat bahwa kelahiran demokrasi liberal Barat mungkin menjadi penanda berakhirnya evolusi sosial-budaya umat manusia dan merupakan bentuk pemerintahan manusia terakhir.

Akan tetapi berbagai peristiwa yang terjadi di dunia ini dalam beberapa tahun terakhir, menunjukkan bahwa teori tersebut patut dipertanyakan keakuratannya. Ditambah lagi dengan penelitian-penelitian terkait tantangan besar yang dihadapi peradaban Barat, yang bahkan dilakukan di pusat-pusat akademis Barat sendiri.

Salah satu riset terbaru dilakukan oleh militer Jerman yang sekian lama hasilnya dirahasiakan, namun baru-baru ini dipublikasikan oleh surat kabar Der Spiegel. Dalam laporan militer Jerman setebal 102 halaman yang diberi judul "Strategic Perspective 2040", Perspektif Strategis 2040 yang dirilis akhir Februari 2017, strategi Jerman untuk pertama kalinya dalam sejarah, memprediksikan keruntuhan bangunan peradaban Barat.

Jerman memprediksikan, hingga tahun 2040 terbuka kemungkinan bangunan peradaban Barat dan Uni Eropa saat ini akan mengalami keruntuhan. Para peneliti menilai terhentinya pembangunan Uni Eropa, kecenderungan sejumlah negara keluar dari Uni Eropa, hilangnya kemampuan rivalitas global Eropa, kekacauan dunia yang terus meluas dan meningkatnya ketegangan, termasuk di antara indikasi keruntuhan tersebut.

Mereka percaya peristiwa-peristiwa itu dapat mengubah situasi keamanan Jerman dan Uni Eropa secara signifikan. Mengingat urgensi Jerman sebagai negara penting Eropa, maka hasil penelitian ini juga dinilai cukup krusial. Josef Janning, Kepala Kantor Dewan Eropa dan Hubungan Internasional, ECFR di Berlin meyakini bahwa Jerman akan memimpin proses terbentuknya Eropa baru.

Uni Eropa

Di laporan militer Jerman itu ditegaskan ada enam skenario dalam proses transformasi sosial dan internasional tersebut, serta pengaruhnya terhadap keamanan Jerman. Di dalamnya disertakan sejumlah asumsi oleh para peneliti Kantor Perencanaan Angkatan Bersenjata Jerman. Menurut mereka, skenario-skenario tersebut mungkin terjadi hingga tahun 2040. Salah satu skenario terburuk adalah keruntuhan Uni Eropa yang memaksa Jerman menerapkan "kondisi reaktif".

Berdasarkan prediksi itu, sistem global setelah dilanda instabilitas selama beberapa dekade, akan kehilangan sejumlah sistem nilainya yang berpengaruh dan proses globalisasi akan terhenti. Menurut prediksi itu, kemajuan Uni Eropa akan terhenti dan negara-negara lain mendesak untuk keluar dari organisasi ini sehingga memaksa Eropa kehilangan kemampuan bersaingnya di tingkat global.

Para peneliti Jerman mengatakan, pada situasi seperti ini, Jerman akan berhadapan dengan berbagai masalah multilateral. Skenario penting lain adalah "Barat Versus Timur" yang mengajukan asumsi bahwa sebagian negara Eropa Timur akan menangguhkan keanggotaannya di Uni Eropa. Pada saat yang sama, negara-negara Eropa lain akan bergabung dengan kubu Timur.

Di skenario lain yang disebut "Persaingan Terpolarisasi", diprediksikan bahwa ekstremisme akan semakin meluas dan sebagian sekutu Eropa akan meniru model politik Rusia. Pada kenyataannya, penelitian militer Jerman ini lebih banyak memperhatikan skenario-skenario yang mungkin terjadi dalam dua dekade mendatang mengingat kondisi Uni Eropa saat ini.

Dengan memperhatikan realitas tantangan dan konflik internal di Uni Eropa, maka skenario-skenario ini tidak bisa dianggap sebatas omong kosong dan kemungkinan terjadinya sebagian dari skenario itu tetap terbuka.

Banyak pejabat senior Uni Eropa sekarang mengakui masalah besar yang tengah dihadapi Uni Eropa dan negaranya sendiri, namun demikian, masalah yang lebih besar adalah tidak dicapainya kesepakatan terkait metode penyelesaian masalah-masalah tersebut dan solusi krisis saat ini.

Ancaman dan tantangan yang dihadapi Uni Eropa mencakup dimensi yang beragam. Mulai dari krisis pengungsi, situasi keamanan akibat terorisme dan masalah-masalah lain terkait dengan lingkungan hidup, dan semua ini adalah masalah serius bagi Eropa.

Imigran ke Uni Eropa

Sekarang, masalah politik, keamanan, sosial dan ekonomi semakin mengancam negara-negara anggota Uni Eropa. Salah satunya krisis Ukraina, yang memiliki dimensi beragam mulai dari politik, diplomatik, ekonomi, perdagangan, dan yang terpenting keamanan dan militer. Krisis Ukraina sejak tahun 2014 sampai sekarang terus menjadi kekhawatiran keamanan dan militer terbesar Eropa.

Alasanya, karena masalah ini menyeret Uni Eropa dan NATO, berhadap-hadapan dengan Rusia. Masalah lain adalah bagaimana menghadapi krisis pengungsi dan imigran gelap yang masuk dari dua jalur utama Eropa, yaitu Yunani dan Laut Mediterania serta Italia.

Gelombang pengungsi bukan hanya menciptakan perbedaan pendapat di antara negara-negara Uni Eropa terkait cara menangani dan mengontrol mereka, bahkan keberadaan pengungsi yang jumlahnya hingga akhir tahun 2016 diperkirakan mencapai tiga juta orang itu, berubah menjadi masalah serius bagi negara-negara Eropa.

Di sisi lain, meningkatnya aksi-aksi teror semakin memperbesar gelombang pengungsi. Terutama kecemasan petinggi Eropa karena banyaknya pemuda Eropa yang bergabung dengan kelompok teroris. Sebenarnya ancaman terbesar adalah kemungkinan bubarnya Uni Eropa yang dianggap para petinggi Eropa akan benar-benar segera terjadi.

Tantangan-tantangan yang ada dianggap mengancam eksistensi Uni Eropa. Sejumlah banyak krisis termasuk krisis pengungsi, masalah moneter, tingkat pengangguran dan ketidakpuasan yang terus meningkat terhadap kinerja Uni Eropa, disinyalir semakin memperkuat semangat nasionalisme yang merupakan musuh utama Eropa bersatu. Saat ini, Uni Eropa berhadapan dengan berbagai krisis yang sulit diselesaikan hanya dengan menjalankan reformasi segera dan luas.

Masalah besar lain yang dihadapi Uni Eropa adalah keinginan sebagian negara anggota pasca keluarnya Inggris (Brexit). Harus diakui, Brexit telah mendorong sebagian negara Eropa lain untuk melakukan langkah serupa dengan Inggris. Masalah ini juga dianggap telah memperkuat posisi partai-partai ekstrem kanan di negara-negara Eropa khususnya di Jerman dan Perancis.

Brexit

Bukti-bukti yang ada menunjukkan bahwa terdapat faktor ekonomi, politik dan sosial yang berperan penting dalam kemunculan fenomena ini. Salah satunya yang terpenting adalah kekecewaan masyarakat sebagian besar negara Eropa atas pemerintahnya dan Uni Eropa, di sektor ekonomi. Krisis ekonomi tahun 2008 dan dampaknya bagi negara-negara dilanda krisis memicu ketidakpuasan masyarakat atas kebijakan-kebijakan Uni Eropa.

Petinggi Uni Eropa semacam Jean Claude Juncker, Presiden Komisi Eropa memperingatkan dampak negatif peningkatan konflik internal Uni Eropa termasuk akibat ide Twospeed Europe, dan sekarang, masalah ini telah berubah menjadi salah satu pemicu konflik antara Barat dan Timur, yaitu pertarungan antara si kaya dan si miskin Eropa, dan bisa memicu perpecahan yang semakin besar di Uni Eropa.

Realitasnya, beberapa skenario yang disampaikan dalam laporan militer Jerman menyinggung soal peningkatan pertarungan kubu Barat dan Timur Uni Eropa yang membawa dampak destruktif dan berujung dengan keruntuhan organisasi ini. Beberapa negara Eropa Timur, termasuk Polandia dan Hungaria berulang kali memperingatkan peningkatan konflik dan ketidakadilan di Uni Eropa.    

Tomas Zdechovsky, salah satu anggota Parlemen Eropa dari Republik Ceko menegaskan bahwa besarnya tekanan kubu Barat Uni Eropa mungkin saja menciptakan jurang yang dalam di antara negara-negara Eropa dan mendorong sebagian negara untuk keluar dari Uni Eropa.

Masalah ini dapat semakin memperkuat kemungkinan bubarnya Uni Eropa. Dalam pandangan negara-negara di wilayah Timur, ide Twospeed Europe adalah pendahuluan untuk menciptakan sebuah bentuk pembagian antara Timur dan Barat di Eropa.

Dengan kata lain, menurut mereka dengan keluarnya Inggris dari Uni Eropa, secara perlahan mendorong negara-negara kuat dan besar untuk mengambil jalan berbeda dan berusaha mewujudkan program-program sepihak mereka. Ini tidak lain dari apa yang dimaksud oleh ide Twospeed Europe oleh Jerman dan Perancis dan didukung oleh Italia, Spanyol, Belgia, Belanda dan Luksemburg.

Dalam kerangka ide ini, negara-negara Uni Eropa yang bersatu untuk memperkuat solidaritas harus melanjutkan langkah mereka tanpa memperhatikan negara-negara lain. Ivan Stefanits, salah satu anggota Parlemen Eropa dari Slovakia mengatakan, ide Multispeed Europe hanya akan memperlebar jurang di antara negara-negara Eropa Barat dan Timur, dan warga negara Eropa Timur akan merasa menjadi warga kelas dua.

Statemen ini menunjukkan pesimisme mendalam pejabat Eropa terkait ide tersebut. Jerman sebagai salah satu anggota Uni Eropa terpenting dan jantung ekonomi organisasi itu adalah pihak yang akan paling dirugikan dari keruntuhan Uni Eropa.

Oleh karena itu, mungkin hal inilah yang mendorong militer Jerman melakukan penelitian dan mengungkapkan sejumlah skenario yang mungkin terjadi hingga tahun 2040 terhadap Uni Eropa dan Barat. Artinya, mulai sekarang Jerman telah mempersiapkan langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah terjadinya skenario-skenario tersebut.