Kelompok Teroris MKO, Pelaksana Politik AS (1)
Kongres para kelompok teroris munafikin Organisasi Mujahidin Khalq (MKO) di Paris, Perancis pada 30 Juni 2018, yang seperti biasa dalam beberapa tahun terakhir dihadiri para mantan pejabat tinggi Barat dan Arab, serta dengan partisipasi para peserta bayaran dari negara-negara Eropa, kembali menunjukkan esensi ketergantungan dan non-sipil kelompok kriminal tersebut.
Para politisi Barat yang hadir dalam Kongres tahunan itu juga memberikan santunan besar untuk kelompok itu, kembali mengemukakan peringatan kosong soal penggulingan rezim Republik Islam Iran dengan bantuan MKO. Peringatan yang lebih tampak seperti mimpi selama 40 tahun pasca kemenangan Revolusi Islam Iran dan kenyataaan yang jauh meleset dari bayangan mereka. Karena Republik Islam Iran semakin kokoh dan selalu tegar menghadapi makar Barat dan sekutu regional mereka serta rezim Zionis Israel.
Abbasali Mansouri Arani, mantan pejabat komisi keamanan nasional, terkait tujuan kelompok MKO menggelar Kongres tahunan di Perancis dengan partisipasi para tokoh anti-Iran mengatakan, "Kelompok munafikin itu setiap tahun menggelar kongres dan seperti sebelumnya mereka dimanfaatkan oleh partai Baats Saddam, sekarang pun kehadiran mereka di kawasan bak mata-mata yang membantu Israel dan Amerika Serikat."
Pada hakikatnya kelompok teroris munafikin yang dalam beberapa tahun lalu masuk dalam daftar hitam kelompok teroris Uni Eropa dan Amerika Serikat, mendadak dicoret dari daftar tersebut akibat lobi dan dana kepada para politisi Barat. Sejak saat itu, setiap tahun dengan janji-janji tur gratis ke ibukota-ibukota Eropa dan juga pemanfaatan isu imigran, kelompok ini menggelar kongres di berbagai kota Eropa. Pada kongres tersebut, para pejabat eselon dua hadir untuk berpidato dan mendukung MKO dengan imbalan uang.
MKO berusaha mengesankan bahwa banyak warga Iran yang mendukung aktivitas mereka dan setiap tahun mengundang para mahasiswa Iran yang belajar di luar negeri dengan kondisi keuangan pas-pasan, para imigran dari berbagai negara dan bahkan para tunawisma, dengan imbalan uang, tur ke kota-kota Eropa, dan makanan.
Merunut pada faktor-faktor harapan Barat kepada kelompok teroris MKO akan mengungkap esensi kelompok tersebut dan pengkhianatan serta kejahatan mereka. Pada hakikatnya, salah satu sikap standar ganda negara-negara Barat khususnya Amerika Serikat di bidang pemberantasan terorisme, adalah interaksi mereka dalam tiga dekade terakhir dengan kelompok MKO.
Negara-negara tersebut menyaksikan aksi-aksi teror MKO namun bertentangan dengan ketentuan dalam negeri mereka, memberikan ijin tinggal kepada para anasirnya. Bahkan mengijinkan pembentukan kantor pusat kelompok itu di Paris, yang dijaga ketat polisi. Di saat, nama MKO sebelumnya terdaftar dalam list kelompok teroris, mereka mengijinkan pelaksanaan pertemuan kelompok ini di berbagai negara Eropa.
Meski Barat mengetahui terjadinya perilaku mencurigakan, sektarian dan pelanggaran hak asasi manusia di dalam MKO sendiri, akan tetapi negara-negara Eropa dan Barat tidak menunjukkan upaya untuk menyelamatkan orang-orang yang terjebak di dalam kelompok teroris itu.
MKO yang sebelumnya didukung rezim Saddam, langsung dipayungi oleh Amerika Serikat pasca pendudukan Irak. MKO juga melakukan banyak upaya untuk memata-matai aktivitas nuklir Iran. Meski banyak ahli yang menilai klaim MKO soal aktivitas nuklir Iran, infaktual dan tidak benar, akan tetapi Amerika Serikat dan Israel memanfaatkan klaim kelompok teroris itu sebagai bukti anti-program nuklir Iran.
MKO yang dibentuk pada dekade 1960, memiliki anggota sangat sedikit. Kelompok ini pasca kemenangan Revolusi Islam Iran pada 1979, memanfaatkan kesempatan itu untuk memulai perekrutan anggota secara meluas dan sejak 1981, beralih pada perlawanan bersenjata terhadap pemerintah Republik Islam Iran dan meneror ribuan warga Iran. Berdasarkan data, lebih dari 17 ribu warga Iran menjadi korban aksi teror kelompok MKO pada dekade 1980 dan setelahnya.
Pada tahap selanjutnya, para anasir MKO melarikan diri ke Irak dan bekerjasama dengan rezim Saddam selama 15 tahun serta menyertai rezim Baats dalam perang yang dipaksakan terhadap Iran. MKO juga berpartisipasi dalam kejahatan rezim Saddam menumpas warga Irak.
Selama kerja sama MKO dengan rezim Saddam, ribuan warga Iran dan juga puluhan ribu warga Irak menjadi korban terorisme kelompok ini. Termasuk di antara contoh kerja sama tersebut adalah partisipasi MKO dalam penumpasan kebangkitan warga Syiah di Irak selatan pada 1991, serta partisipasi luas kelompok munafikin dalam membantai warga etnis Kurdi di utara Irak. Adapun di akhir masa kekuasaan rezim Baats, MKO menjadi pasukan elit Saddam mengingat keberlangsungan hidup gembong kelompok ini dan anasirnya sangat bertangung pada eksistensi rezim Saddam.
Daniel Benjamin, mantan koordinator pemberantasan terorisme di Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat antara 2009-2012, dalam sebuah artikel yang dimuat di majalah Politico, menyinggung rekam jejak MKO meneror ribuan warga Iran termasuk para pejabat seperti Ayatullah Beheshti dan bahwa ini merupakan di antara alasan pencantuman nama MKO ini dalam daftar hitam kelompok teroris.
Merunut catatan kejahatan teror MKO terhadap warga Iran dan Irak khususnya pasca tumbangnya rezim Saddam membuat nama kelompok ini dimasukkan dalam daftar hitam kelompok teroris oleh Amerika Serikat dan Eropa. Akan tetapi kerja sama mereka dengan rezim Zionis khususnya dalam memata-matai program nuklir Iran dan dalam rangka memajukan tujuan AS di Asia Barat, membuat Washington beralih untuk memanfaatkan MKO sebagai sarana represi terhadap Iran dan sejumlah negara di kawasan. Dengan demikian, proses pencabutan nama MKO dari daftar hitam itu hingga proses relokasi para anasirnya ke berbagai negara dunia dimulai pada tahun 2012.
Dalam hal ini, Daniel Benjamin menyinggung dana dalam jumlah besar yang dikeluarkan para pejabat Amerika Serikat untuk mencoret nama MKO dari daftar hitam tersebut. Dikatakannya, "Di Washington, semua dosa dapat dicuci dengan uang... tampaknya Organisasi Mujahidin Khalq (MKO) telah menawarkan para pendukungnya dengan tawaran uang sangat menggiurkan untuk berpidato pada kongresnya."
Pasca tumbangnya rezim Saddam sebagai pendukung utama MKO serta terungkapnya aksi-aksi kejahatan dan rapor hitam kelompok ini di Irak, kebencian warga Irak terhadap kelompok ini sedemikian rupa sehingga para anasir MKO tidak mungkin lagi menetap di Irak. Oleh karena itu, Amerika Serikat mulai mengupayakan relokasi markas Ashraf ke pangkalan Liberty dan setelah itu memindahkan mereka ke Albania.
Tujuan Amerika Serikat merelokasi anasir MKO ke negara lain adalah pemanfaatan mereka dalam rangka mewujudkan tujuan AS khususnya dengan mengemukakan MKO ini sebagai kelompok oposisi atau mengerahkan anasirnya untuk proyek spionase, teror dan pada akhirnya penggulingan Republik Islam.
Dalam hal ini, dengan berbagai alasan dan demi menjaga koherensi kelompok ini, pada akhirnya Albania dipilih sebagai negara penampung tetap anasir MKO. Dengan demikian dimulailah proses relokasi anasir MKO dari markas Ashraf ke pangkalan Liberty dan selanjutnya ke negara Albania.
Robert Torricelli, mantan senator Ameirka Serikat mengatakan, di antara alasan pemilihan Albania untuk menempatkan anasir kelompok teroris MKO adalah hubungan kuat antara Albania dan Amerika Serikat. Menurutnya, terjalin hubungan sangat harmonis Albania dan AS bahkan menyangkut berbagai masalah lain.
Pemerintahan Sali Berisha, mantan perdana menteri Albania, pada Februari 2013, menyatakan siap memberikan suaka kepada 210 anasir MKO. Proses relokasi anasir MKO juga berlanjut hingga periode pemerintahan Edi Rama, Perdana Menteri petahana Albania. Pada Mei 2013, gelombang pertama relokasi 15 anasir MKO ke Albania dimulai. Kebungkaman media dan politisi, partai atau LSM Albania membuat relokasi anasir MKO melampaui jumlah yang disepakati. Bahkan muncul isu penerimaan total anggota MKO di Albania.
Kunjungan mantan menteri luar negeri AS, John Kerry ke Albania pada 14 Februari 2014, berujung pada kesepakatan rahasia relokasi hingga 3.000 anasir MKO. Associated Press dalam hal ini menulis, "Kerry dalam kunjungannya ke Albania berusaha meyakinkan para pejabat negara itu untuk melaksanaan sebuah paket hukum yang diinginkan Washington di mana salah satu tujuannya adalah bantuan terhadap negara-negara Balkan untuk menerima anasir MKO yang berada di Irak.
Dengan demikian, proses relokasi anasir MKO ke Albania berlangsung dengan cepat dan hingga akhir Desember 2017, berdasarkan data resmi sekitar 3.250 anasir kelompok ini telah berada di Albania. Adapun para pemimpin MKO yang tidak berada di Albania melainkan di Amerika Serikat, menginformasikan kepada para anggotanya bahwa mereka berada di AS sebagai tamu Pentagon dan hal ini dijadikan sebagai sebuah poin unggul.